Di masa-masa semua orang sibuk, ada satu orang yang hampir setiap hari menunjukkan kehadirannya di Dapur Dru. Kavy Aryatama. Memang, ada hari-hari dimana Kavy tidak terlihat barang sehari atau dua hari, tapi itu setelah Dru ketahui bahwa laki-laki itu sedang bertugas ke luar kota bersama bosnya, Antoni. tentu saja karena kedunya intens berkirim pesan. Semua personel di Dapur Dru tak kalah sibuknya, apalagi menjelang hari liburnya, Drupadi lebih sibuk dari personel lainnya. Karena dia akan menyiapkan banyak bumbu ekstra siap pakai. Jadi, di hari-hari belakangan, Dru memang lebih banyak di dapur. Dia mempercayakan bagian depan kepada karyawannya, kecuali bila tiba-tiba ada kendala atau memang ada urgensi yang mengharuskan campur tangan Dru langsung.
Untuk Senin depan, Dru memilih meniadakan menu khusus. Pelanggannya mungkin akan bertanya, sebagian ada yang protes, tapi, Dru yakin mereka akan pengertian. Drupadi terus sibuk dengan bumbu-bumbunya di dapur. Dino masuk memabawa wadah yang berisi tumpukan peralatan makan kotor.
“Mbak, dicari Mas Kavy. Katanya ada perlu sebentar.”
Dru yang sedang menakar bumbu, mengiyakan pesan dari karyawannya. “Oke, Din. Terima kasih.” Dino ke tempat cuci piring, sementara Dru melepas apronnya, mencuci tangan, merapikan rambutnya sebentar dan keluar menemui Kavy.
“Hai, Mas, gimana masakan hari ini?”
“Enggak pernah mengecewakan, sih, Dru kalau masakanmu.”
Dru tersenyum manis di depan Kavy yang berdiri tak jauh dari meja kasir. “Terima kasih. Tadi katanya nyari aku?”
Kavy mengangguk. “Bisa ngobrol di luar sebentar?” Dru mengangguk, dan keduanya beriringan menuju teras Dapur Dru.
Keduanya berjalan agak ke sisi samping, di sana ada pohon Kersen yang lumayan rimbun, juga, tidak menghalangi akses masuk ke arah kedai. Kavy memasukkan kedua tangannya ke saku celana. Terlihat dia sedang mengatur napasnya sebelum mulai bicara. “Kamu mau libur?”
Dru sudah menduga kabar itu cepat atau lambat pasti akan sampai ke telinga Kavy juga. Memang Drupadi sudah memberitahu Alya soal rencana liburnya. “Iya, mulai pekan depan rencananya. Tahu darimana?”
“Antoni. Kenan juga tahu?”
Dru mengernyitkan alisnya. Kenapa tiba-tiba Kenan? “Mungkin sudah tahu, atau tidak. Tapi—” belum selesai Dru menuntaskan kalimatnya, Kavy sudah menimpa lagi dengan pertanyaan baru.
Kavy terlihat menunjukkan gelagat resah. “Jadi, aku yang terakhir tahu?”
“Sebentar, Mas, ini ada apa,sih?” Dru menggigit bibir bawahnya dan menatap tajam ke arah lawan bicaranya. Drupadi kehilangan arah tentang apa yang dibicarakan Kavy.
“Dru, aku kecewa kamu gak pernah terbuka kepadaku padahal kita sudah sering berbagi hal, berbagi cerita, kita memiliki banyak hal sama yang memudahkan kita senandainya kamu mau ke jenjang yang lebih serius,” Kavy mengambil jeda. Laki-laki itu mendengus. “Dru, aku kira kita penting!”
Drupadi mengatur napasnya. Kini menjadi jelas apa yang dimaksudkan Kavy.
“Apa ini karena Kenan?” kali ini tatapan mata Kavy tajam kendati nada bicaranya tetap pelan. Pelan yang dipaksakan dan mengintimidasi. Dru merasa familiar dengan situasi seperti ini.
“Mas, maaf, ya ini jadi ke mana-mana. Tapi, kamu kelewatan tiba-tiba nyamber soal Mas Kenan. Dia bahkan gak tahu-menahu soal apa yang kamu tuduhkan,” darah Drupadi mendidih. Campuran antara gangguan tidurnya yang semakin jelek, kelelahan mempersiapkan dapur sebelum libur, ditambah situasi tak terduga yang sedang dihadapinya. Tuntutan Kavy!
Kavy menyeringai,”Ternyata aku benar,” gumamnya.
“Kita enggak sedekat itu, Mas!” Drupadi meninggalkan Kavy seketika itu juga. Dia tidak mau membiarkan kemarahan menguasai dirinya dan membuat persoalan lebih rumit. Sudah banyak hal yang harus Drupadi tata saat ini.