DRU: Rasa Menuju Pulang

Titis nariyah
Chapter #18

FIRASAT

Kavy kembali tenggelam di balik kubikelnya. Antoni punya alasan kesal atas kinerjanya belakangan. Kavy juga tidak menyangka, bahwa, pikirannya tentang Drupadi membawa keadaan menjadi separah ini. Layar monitor sudah menampilkan hasil rendering  yang harus dia revisi. Antoni memberi tenggat hingga dua hari, sebelum tulat, mereka berdua harus terbang ke Bali menemui Pak Wayan.

Kavy masih mencerna kata-kata Drupadi. Mereka tidak begitu dekat, menurut Drupadi. Lalu? Apa Kavy masih belum kentara tengah berusaha menyamakan langkah Drupadi? Apa komunikasi mereka yang intens, artinya bukan sesuatu? Bagaimana dengan kegiatan yang hanya mereka lakukan berdua selama ini? Pergi ke luar, makan malam, nonton, mengunjungi pameran, dan lain-lain. Apa itu juga bukan sesuatu? Apa itu tidak cukup untuk menunjukkan kedekatan mereka berdua? Kavy mengira, orang juga akan menganggap mereka sepasang kekasih jika melihat sekilas. Keakraban mereka cukup membuat orang yakin ada sesuatu di antara keduanya. Tapi bagi Dru?

Kavy merasa memang belakangan Dru mulai menjaga jarak dengannya, dengan berbagai cara. Mulai dari lupa membalas pesannya hingga berhari-hari, tidak mengangkat panggilannya bahkan hingga dia missed call puluhan kali. Alasan yang diberikan selalu masuk akal; capek, baterai habis, sibuk di dapur, hectic, dan lain-lain.

Terlebih setelah dia tahu Drupadi menginap di rumah Antoni dan hanya ada Kenan di sana. Kavy semakin yakin, bahwa kendala atas usahanya mendekati Dru adalah Kenan. Mutlak. Tidak ada orang lain. Harusnya Kavy sadar, memang Drupadi hanya pandai beralasan. 

Kavy tersenyum sinis. Tangannya ingin menjangkau tetikus untuk segera melakukan revisi, tapi, dia sungguh masih merasa kesal. Akhirnya dia memutuskan pergi ke pantry dan mencari kopi.

Dia akan bicara lagi degan Dru lain kali. Ada kesalahpahaman yang ditangkap Dru, dan ada ketidak relaan hati Kavy untuk melepas Dru begitu saja. Pasti bisa diperbaiki.

 

***

Setelah janji kelingking dan serah terima kunci penginapan, keduanya masih duduk-duduk santai di tempat semula. Awalnya, Dru ingin merahasiakan apa yang terjadi hari ini dari Alya. Tapi, melihat betapa Aya tulus ingin Dru pulih dan tulus menyayanginya, dia tidak tega merahasiakan apapun dari sahabatnya.

“Rejas mulai teror aku lagi, Al.”

“MY GOODNESS!” Alya, seperti sudah disangka, akam menunjukkan ekspresi spontan dengan menaikkan suaranya beberapa oktaf kalau soal Rejas, “apa lagi sekarang?”

Drupadi menyodorkan pesan berupa foto-foto yang dikirim Rejas tadi. Foto-foto tentang apa saja yang dilakukan Drupadi, terutama jika bersangkutan dengan laki-laki lain.

“Ini harus dilaporkan polisi, sih, Dru. Sangat keterlaluan!”

“Hal begini? ke polisi? Kamu tahu sendiri akan ditanggapi seperti apa sama mereka?” Drupadi sangat pesimis dengan apa yang menimpanya kini. Alya paham dengan situasi tersebut. Satu sisi, Dru memang terancam dan takut, tapi, untuk dilaporkan atau minta penyelidikan, hal tersebut tidak terlalu kuat untuk membuktikan bahwa ada unsur ancaman.

“Terus apa yang akan kamu lakukan, Dru?”

“Aku akan menghadapinya langsung suatu hari. Sekali lagi. Entah harus memohon atau apa, asal dia benar-benar pergi dan tidak mengusik hidupku lagi.”

Lihat selengkapnya