DRU: Rasa Menuju Pulang

Titis nariyah
Chapter #19

FORGET-ME-NOT

Aji Maheswara akhirnya hadir di kedai Dapur Dru setelah berbulan-bulan tidak pulang. Drupadi menyambutnya dengan suka cita. Dia menyongsong, lalu memeluk adik semata wayangnya agak lama begitu sosok itu muncul di pintu kedai. Semua menyambut Aji dengan antusias; Dino, Nadia, juga Arin. Tak ada basa-basi apapun, Aji langsung permisi untuk meletakkan bawaannya ke atas, yang langsung dibuntuti oleh kakaknya. Dru teramat kangen sekali dengan adiknya sehingga tak rela melepas Aji ke kamar atas sendirian.

Setelah meletakkan ranselnya di kamar, Aji keluar lagi dan duduk di sofa ruang teve yang bersebelahan dengan kamar Dru. Tak ayal, kakak perempuannya turut duduk di sana.

“Mbak Dru pangling sama Aji apa gimana? Kok natap terus begitu?” yang ditanya tetap tak berpaling, justru hanya tersenyum. Sedangkan yang ditatap begitu lama, hanya menanggapi dengan geleng-geleng kepala. “Tatap, deh, nih muka Aji yang tampan!” Aji menyodorkan wajahnya mendekat dengan wajah kakaknya. Drupadi berhasil menampik wajah adiknya yang sedang bercanda. Keduanya terkekeh.

“Mana?” tangan Dru menadahkan tangannya ke depan wajah Aji.

“Apa?”

“Hadiah untuk aku? Katanya kamu bawa?”

“OH IYA!! sebentar, Mbak!” Aji langsung beranjak lagi dari duduknya dan pergi ke arah ransel di kamar. Tak lama, dia kembali dengan sebuah tas serut yang isinya sudah bisa ditebak. Pasti sepatu! Namun, tidak pernah sekalipun Drupadi tidak antusias dengan sepatu-sepatu yang dibuatkan adiknya.

“Kupersembahkan sepatu baru buat Yang Mulia untuk pergi ke pesta dansa!” Aji meberikan sepatu itu dengan berpose seolah-olah ia hamba sahaya yang sedang memberi perssembahan kepada pemimpinnya. Drupadi pun menerima dengan sangat senang hati.

Saat Drupadi akan membuka tali serut pada tas pembungkus sepatu, tangan Aji menahan lengan kakaknya. Dru pun tersungut-sungut, “apa lagi?”

“Mbak Dru harus memejamkan mata, meraba bentuknya, dan tebak! Sepatu jenis apa kali ini?”

“Yaah, gampang itu, sih. Sekarang aku juga sudah tahu!”

Please, Mbak!” Aji menangkupkan kedua telapak tangannya, memohon. Drupadi mendengus kesal, namun tetap menuruti permintaan adiknya. Dia pun mulai memejamkan matanya. Dibalik bungkus kain serut itu, Drupadi mulai meraba dan merasakan kira-kira model sepatu apa yang adiknya buatkan.

“Aku mulai di bagian ujung sepatu,” Drupadi memulai penelusurannya. “Ujung sepatu yang tidak terlalu runcing, juga tidak terlalu bulat, jelas ini adalah bentuk, ehm—” Drupadi mencoba mengingat istilah yang pernah diberi tahukan Aji.

“Ayok, Mbak, diingat. Buktikan anda belum tua,” terdengar Aji terkekeh puas berhasil menggoda kakaknya.

Almond-toe, right?” jawab Dru.

“YESS!!” Aji terdengar bangga. 

“Ok, lalu—” kembali tangan mungil Dru menelusuri bagian body sepatu, proporsinya tipis, dan enteng, jelas ini supaya membedakan dan tidak terlalu berat seperti sepatu laki-laki. Jadi, pasti ini sengaja supaya menampilkan kesan elegan, dan …” sekarang tangan Dru menjamah bagian bawah, “hm … ok, ini hak balok rendah sekitar tiga hingga lima centimeter, right?” 

“Semuanya benar.”

“Jelas ini oxford!” Drupadi membuka matanya, dan mendapati Aji sudah tersenyum lebar sambil mengangguk antusias.

“Buka, Mbak bungkusnya!”

“Males, ah, bulan depan aja,” goda Dru.

“Mbaaakk…!” Drupadi senang sekali mendengar adiknya merengek. Mengingatkan saat dirinya masih sama-sama kecil dan tumbuh. Mengingatkan bahwa dulu, Aji sangat senang berlindung di ketiak Drupadi jika ada anak tetangga yang mengganggu. Drupadi pun membuka tali serut dan segera mengeluarkan isinya.

Lihat selengkapnya