DRU: Rasa Menuju Pulang

Titis nariyah
Chapter #20

PERCAYA, SEKALI LAGI

Sudah hampir tiga pekan sejak Kenan bertemu Drupadi terakhir kali. Situasi di kantor sudah mereda, dan aktivitas kembali normal, meskipun tetap dalam tali kekang yang kencang. Antoni sudah kembali sibuk dengan proyek-proyek di kantornya sendiri, namun, Alya tetap menjadi ‘tahanan’ sementara di kantor pusat Darmawangsa Holdings.

Kenan menilik arloji di tangan kirinya, masih pukul dua belas. Para karyawannya tampak sudah lebih dari separuh meninggalkan ruangan, sebagian asik dengan perangkatnya, atau tengah makan camilan, dan kopi. Sebagian lainnya sudah berburu makanan di luar. Kenan masih duduk di ruangannya. Dia menimang-nimang ponselnya dan hendak menelepon Drupadi. Ini sudah hari keempat Dru di Bandung. Dari luar, terdengar pintu kantor diketok dan tak lama ada Alya menyembul dari sana.

“Kak, aku bawa makanan dari Dapur Druu!!”

“Waw! Bawa apa saja?” Kenan benar-benar antusias. Seolah kerinduannya terjawab walau hanya lewat masakan dan nama kedainya.

“Apa, ya tadi Aji bilang—” Alya membuka bungkusan makanan satu demi satu sambil mengingat, “oh, ini, Kak … kesukaan kamu. Capcay kuah, ikan patin goreng, sambal tomat, dan lalapan. Sedangkan untuk aku, Dru siapkan makanan diet!” Alya mengangkat kotak makannya yang berisi ayam panggang dengan karbo berupa kentang rebus, ada satu butir telur, dan brokoli juga wortel rebus.

“Dru?” Kenan menelengkan kepalanya saat mendengar nama Dru disebut.

“Iya, kata Aji, Drupadi pesan ini ke Aji supaya dikirim kemari pakai jasa antar.”

“Oh.” Kenan beranjak dari kursinya dan berpindah ke sofa, bergabung dengan adiknya siap menyantap makan siang. Meski bukan Drupadi yang masak, rasanya tidak jauh berbeda. Karena Drupadi sudah sangat teliti memberi arahan kepada Nadia dan karyawan lainnya soal cara masak, juga takaran dari bumbu yang sudah disiapkan.

“Kakak lusa ikut ke Bandung? Aku akan ajak anak-anak ke sana buat liburan akhir pekan, sekalian ketemu Dru. Kangen bangeeett.” Alya melempar tanya di tengah-tengah kunyahan ayam panggangnya.

Lama sekali lusa, batin Kenan. Andai saja dia punya alasan untuk berangkat sekarang. “Ehm,” Kenan menjawab sekenanya. Mulutnya juga sama penuhnya dengan Alya. Sibuk mengunyah bunga kol yang teksturnya masih gurih dan segar di mulut.

Alya sudah merampungkan suapan terakhir, dan merapikan kembali kotak makan siangnya. Dia akan membawanya pulang dan meminta tolong asisten di rumah mencucinya.

“Semoga saja Dru semakin baik,” gumam Alya. Wajahnya tampak khawatir. Kenan setuju dan mengangguk sambil tetap mengunyah. Lalu, dia teringat kemarin saat melintasi Dapur Dru, beberapa orang terlihat sibuk memasang sesuatu di bagian teras kedai. Kenan tahu itu adalah pemasangan kamera pengawas. Kenan juga sudah tahu, di bagian teras, sebelumnya sudah ada kamera pengawas, namun, ada alasan apa harus ditambahkan jumlahnya? Kenan teringat firasatnya beberapa hari lalu.

“Pemasangan CCTV tambahan sudah selesai di kedai?” telisik Kenan.

“Sudah, Kak. Supaya si teror itu—”Alya membungkam mulutnya sendiri. Terkejut karena Kenan tahu soal kamera pengawas tambahan dan sadar dirinya keceplosan soal teror Rejas, “kok Kakak tahu soal CCTV?”

Kenan menyunggingkan senyum tipis tanda kemenangan karena pancingannya berhasil. Firasatnya benar. Ada hal baru yang tidak dia ketahui soal Dru. “Ada apa yang Kakak gak tahu, Al?”

“Duh, padahal sudah janji gak bakal bilang,” Alya ngedumel menyadari kecerobohannya sendiri.

“Ya?” Kenan menunjukkan penekanan dalam tanya singkat, ‘ya?’

“Rejas meneror Drupadi lagi. Terakhir, dengan mengirim foto-foto yang diambil tanpa izin saat Drupadi berinteraksi dengan orang lain. Juga ada kalimat, yah—” Alya tak sanggup melanjutkan penjelasannya lagi. “Kapan, sih, orang jahat berlalu dari Drupadi dan hidupnya? She’s a good person, though.”  Alya mengembuskan napas berat.

Meski Kenan terlihat tetap fokus makan, pikirannya berlarian ke arah Drupadi. Tidak perlu alasan untuk menunda hingga lusa. Harus sekarang!

“Al, setelah ini, Kakak akan cabut menemui kolega, semua laporanmu kirim saja, tetap akan aku periksa nanti.” Kenan mempercepat tempo makannya hingga hampir tersedak kuah capcay.

Lihat selengkapnya