Sedingin apapun udara Pangalengan pagi hari, Drupadi tetap bertekad mandi. Karena terbiasa mandi sebelum atau setelah Subuh, jadi, aneh jika dia mengabaikan ritual paginya itu hanya karena hawa dingin. Lagi pula, ada air hangat yang bisa dia gunakan. Di luar sudah terang. Selepas mandi dan berbenah sedikit, Dru mengambil laptop karena berencana untuk menuntaskan tugasnya dan mengirim tulisan ke portal, seperti biasa. Dru akan mengetik sambil menikmati hamparan hijau kebun teh dari teras belakang.
Jika pada pagi-pagi sebelumnya ia nikmati dengan membaca buku, atau berjalan mengelilingi kebun teh ditemani Karti, pagi ini dia cukup malas karena suhu udara yang lebih dingin dari sebelumnya. Dru memakai luaran yang cukup hangat, kaus kaki, celana panjang berbahan tebal, baru kemudian dia meninggalkan kamar. Dru melewati selasar panjang sebelum sampai teras. Selasar itu berupa deretan pintu kamar yang jumlahnya sekitar lima, termasuk kamar Dru. Jumlah seluruh kamar rumah ini tidak hanya lima, masih ada kamar-kamar di bagian sayap lainnya
Dru sudah hafal di luar kepala tentang seluruh bagian rumah ini. Karena dulu, dia juga sering diajak Alya dan keluarga Darmawangsa lainnya jika akan menginap dengan tujuan berlibur, atau ada acara keluarga besar. Dru tidak segan atau malu, karena keluarga Darmawangsa, terutama Dinar dan Dika tidak pernah membuatnya harus merasa demikian.
Saat melewati pintu kamar yang dihuni Kenan, tidak ada tanda-tanda pergerakan manusia di dalamnya. Dru sengaja memperlambat langkah kakinya, barangkali dia bisa tahu ada Kenan yang sudah bangun dan bisa diajak ke teras belakang. Namun, selama beberapa detik Dru sempat menghentikan langkah tepat di depan pintu, tetap tidak ada tanda-tanda kehidupan di sana.
Mungkin masih tidur. Batin Dru.
“Den Kenan sudah lari sejak tadi, Non,” Dru tersentak mendengar suara muncul dari belakangnya. Karti muncul sambil membawa baki.
“Eh, Bi Karti, anu …” Dru mendadak gagu karena tertangkap basah. Tak jadi melanjutkan kalimatnya, Dru hanya melempar senyum ke arah Karti. terlihat ada set untuk minum teh dan makanan hangat di baki yang ia bawa.
"Ayo, Non, Bibi bawakan surabi enak banget. Panas-panas lagi. Tadi, Bapak ke bawah dan sengaja membeli surabi kesukaan keluarga Tuan Dika.” berbeda dengan logat Endang yang nyunda, logat bicara Karti masih medhok dan halus khas Jawa Tengah. Jika Endang menyebut Karti dengan Pamajikan, Karti menyebut suaminya dengan ‘Bapak’. Anak-anak mereka sudah hidup mandiri dengan keluarga masing-masing, bahkan sudah ada cucu. Jadi, mereka berdua bekerja menjaga rumah milik Darmawangsa seperti pasangan suami-istri baru tanpa anak. Mereka berdua sangat amanah menurut tuturan Dinar suatu hari. Dru juga sangat menghormati Endang dan Karti sebagai manusia pekerja yang baik dan setia.
Drupadi berjalan bersisian dengan Karti. Saat Karti hendak menuang teh untuknya, Dru menolak. Dia akan menuang tehnya sendiri jika sudah ingin, sementara ini, Dru hanya berniat duduk dulu sambil menunggu Kenan, dan minum bersama nanti.