Kedai Dapur Dru kembali dalam format lengkap. Drupadi sudah beraktivitas pada Senin yang sibuk. Setelah istirahat selama sepekan, Dru kembali berkutat dengan meja kasir, orang-orang, dan aroma kedai yang semerbak wangi dengan aneka masakan.
Menu khusus untuk Senin ini tidak ribet. Drupadi memilih sate hog. Sebenarnya, menu ini tidak sengaja Dru temukan saat kemarin liburan, dan ada video pendek lewat di laman sosial media yang mengenalkan sate khas di Pekalongan. Meskipun sate hog hanyalah sate kikil sapi yang dibumbui sambal kacang kental, tapi, Dru berpikir untuk tetap menuliskan sate hog sebagai menu khusus. Orang cenderung ingin mencoba ketika terbit rasa penasaran. Itulah yang menjadi landasan Dru mengeluarkan menu ini. Dia juga sebenarnya belum pernah mencicipi langsung sate hog di kota aslinya, karena memang bukan tipe sate yang turun-temurun, atau dia yang belum sempat dikenalkan oleh ibu atau neneknya?
Setelah menemukan video tersebut, Dru langsung berselancar dan mencari tahu lebih jauh soal resep ini. Sempat sedikit putus asa, karena ternyata informasi soal detailnya benar-benar minim. Untungnya, salah satu teman di portal menulis ada yang asli Pekalongan, langsung saja dia menanyai sebutuhnya informasi tentang sate hog. Ternyata, Dru jadi tahu, bahwa tidak semua daerah di Pekalongan tahu soal menu ini, apalagi Pekalongan dibagi menjadi dua wilayah; kota dan kabupaten. Hog lebih dikenal di kalangan masyarakat Pekalongan kota. Mengapa Drupadi harus repot-repot tahu soal hal detail seperti ini? Baginya, ini adalah bagian dari dedikasi yang bisa dia lakukan untuk hobi, pekerjaan, dan sumber nafkahnya. Semakin tulus dia mengerahkan usahanya bahkan untuk hal seremeh ini, semakin baik juga untuk kelangsungan kedai Dapur Dru.
Benar saja, belum sampai setengah hari, pesona sate hog menjadi primadona hari ini. Beberapa ibu-ibu pelanggan bilang kalau bumbu kacangnya enak dan kikilnya tidak alot, bahkan rasanya meresap sampai dalam. Drupadi senang bukan kelapang menu barunya mendapat sambutan hangat. Memang, kikil sapi sudah direbus dan dibumbui sebelum akhirnya dibakar dan diguyur sambal kacang. Inilah yang menjadi rahasia, kikil lembut, berbumbu dan tidak apek.
“Mbak, ini enak, loh, enggak apek juga. Saya mau bungkus dua puluh tusuk, ya,” puji salah satu pelanggan.
“Duh, padahal enak banget tadi makan dua tusuk, tapi, saya gak bisa makan banyak. Kolestrol dan asam urat lagi menjulang, Mbak Dru,” keluh pelanggan lain yang ditanggapi Dru dengan tersenyum dan didoakan agar kolestrol dan asam uratnya lekas turun.
Setelah hiruk-pikuk kedai agak mereda, Dru melipir ke atas. Direbahkan tubuhnya di sofa ruang teve. Kasir dijaga oleh karyawannya.
“Kemarin Aji berkunjung ke lapas, kata penjaga lapas kesehatan Ayah menurun drastis, Mbak.” Sekelebat ucapan Aji saat kemarin bertemu di Pangalengan membuat Dru termenung. Dru meraba dadanya. Dia memastikan tidak ada degup berdebar di sana. Nyatanya, ada. Sebersit perasaan ingin bertemu ayahnya muncul. Tidak. Ini salah!
Aji, setelah nasihat dan rayuan Dru, akhirnya mau kembali ke Bandung dan menjalani rutinitasnya. Bukan berarti Dru mengusirnya, tapi, jika alasan di sini karena Aji mengkhawatirkan Dru terus menerus, dia merasa itu menyesakkan. Perempuan itu menutu mata dengan lengannya.
Seperti tak habis-habis awan gelap ini!
Drupadi mendengar suara di bawah seperti agak berisik dan tidak jelas apa yang dibahas. Samar-samar dia mendengar beberapa kata seperti, polisi … kafe depan … buron. Dru mengernyitkan dahinya saat mendengar tiga kata acak yang menunjukkan gelagat tidak baik. Dia beranjak dari sofa dan mnuruni tangga. Benar saja, karyawannya berdiri berdekatan sambil pandangannya tak lepas ke arah kafe seberang. Sementara, para tamu yang tengah makan sebagian tak acuh, sebagian sama seperti ketiga karyawannya—menjulurkan lehernya melihat ke arah seberang.
“Ada apa, Nad?” Dru yang kepalang penasaran turut bergabung dengan ketiganya dan mengikuti arah pandangan mereka.
“Polisis menyelidiki kafe seberang, Mbak. Ada buron,” Nadia menjawab dengan bisik-bisik.
“Maksudnya? Ada kasus apa, sih?” Dru yang tadinya tak acuh, jadi menuju pintu dan memicingkan matanya berharap menemukan sesuatu di seberang. Tak terlihat apa-apa kecuali mobil polisi yang bertengger di halamannya. Tak lama, dua petugas terlihat tengah menyalami pemilik kafe. Dru kenal pemilik kafe itu karena dia juga sesekali mampir untuk membeli Mont Black-nya yang jadi favorit Dru. Mobil polisi meluncur pergi, orang-orang perlahan kembali ke aktivitasnya semula kendati hatinya masih penasaran. Tak ubahnya Dru.
Ponselnya berdering. Nomor Kenan di sana. Dru menyunggingkan senyum sambil memencet tombol warna hijau. Dia memberi kode kepada karyawannya bahwa dia akan kembali ke atas, dengan menunjuk ke arah tangga.
“Halo, Mas?”