Rejas tersenyum di saat dia sendiri sudah tidak ingat kapan terakhir kali dirinya melakukannya. Karena sejak berminggu-minggu lalu, dia harus berpindah dari tempat satu ke tempat lainnya. Dia terus bersembunyi karena memiliki banyak hutang dan banyak kreditur terus-menerus mencari keberadaan dirinya. Mobil sudah dia jual, dan Rejas sudah tidak memiliki tabungan selain yang tersisa saat ini untuk biaya hidup belakangan. Dia sudah kehilangan pekerjaan sejak berbulan lalu, tak lama setelah pertemuannya dengan Dru di mal. Sekarang, dirinya bahkan sudah masuk Daftar Pencarian Orang setelah Tania melaporkannya atas penganiayaan. Jadi, tidak ada alasan mengapa dirinya bisa tersenyum menghadapi hari-hari seperti itu. Ditambah lagi, dia tidak mendapati Drupadi ada di kedainya sejak minggu lalu. Rejas menjalani hari demi hari dengan sangat frustasi. Untuk pertama kali setelah itu, dia punya alasan merasa bahagia dan tersenyum. Mata Rejas berbinar melihat balasan pesan dari Dru yang setuju bertemu. Dia bersiap-siap meluncur menuju tempat yang sudah ditentukan.
Saat ini, Rejas bersembunyi di sebuah rumah kost temannya yang kebetulan sedang tugas di luar kota selama dua bulan. Dia segera mengambil kesempatan ini, karena letak kost milik temannya sangat tepat untuk Rejas bersembunyi sementara waktu. Jelas, dia sudah memikirkan cara baru untuk menghindari pengejaran polisi.
Rejas menyempatkan mandi, mencari bajunya yang masih bersih, mengelap sepatu yang sudah kusam karena berminggu-minggu tidak dicuci dan terus terpapar debu jalanan. Saat sadar, dia lupa bahwa sebagian bajunya masih di jasa penatu dan belum selesai dikerjakan. Kini, hanya tersisa dua potong baju bersih yang bisa dia pilih. Rejas mengambil kemeja linen lengan panjang, yang kemudian lengannya ia gulung hingga siku, kemudian laki-laki itu melihat ke cermin dan tersenyum. “Ini kemeja favorit yang menurut Dru bagus jika kupakai,” gumam Rejas kepada dirinya sendiri. Dipadu celana chino yang nyaman walau agak kusut.
Area kost milik temannya adalah kawasan orang-orang sibuk. Tidak semua penghuni saling mengenal, bahkan tidak setiap hari juga mereka berpapasan. Pergerakan Rejas yang sudah menjadi buron pun tidak disadari sama sekali oleh lingkungan sekitar. Benar-benar tempat yang sempurna. Penghuni kost akan keluar hanya jika berangkat kerja, dan masuk untuk tidur setelah seharian penat dengan pekerjaan masing-masing. Paling santer, ya ketika akhir pekan, beberapa orang mondar-mandir entah akan hang out atau olahraga pagi.
Rejas menyambar topi warna hitam, dan masker warna senada. Dia sudah memesan ojek untuk membawanya ke tempat dimana akan bertemu Dru. Sebuah tempat yang bisa membawa mereka berdua menyelami masa lalu.
***
Selepas kepergian Alya yang sudah janji akan menemani Antoni menemui klien, tersisa Kenan dan dirinya di lantai dua. Kenan sudah memastikan kepada pemilik kafe seberang, bahwa memang Rejas lah orang yang dimaksud polisi. Kenan memberitahukan detail soal Rejas yang begitu gencar mengintai kedai demi mengetahui gerak-gerik Drupadi. Perempuan itu merasa jeri membayangkan musuh berada sedekat ini.
Drupadi menyodorkan pesan yang ia terima dari Rejas kepada Kenan.
“Enggak bisa!” Kenan langsung berdiri seketika tahu bahwa Dru akan menemui Rejas. “Ini namanya apa? kamu mendatangi sarang harimau, Dru.” Kenan terlihat marah dan sangat tidak setuju.
“Makanya, aku butuh kamu.”
“Tetap tidak. Titik!” Kenan bersikeras. Dia terlihat beberapa kali menghela napas kemudian mengembuskannya berulang-ulang. Dru tahu, dia sedang mengontrol emosinya. Laki-laki yang terbiasa tenang saat menghadapi masalah apapun, kini terlihat marah dan gelisah.
“Kita akan minta tolong polisi, aku mau ini udahan, Mas. Aku capek terus dihantui ketakutan!!” Dru juga lepas kendali. “Kalau aku tidak datang, kalau dia tetap sembunyi dan tidak tertangkap, yang bahaya siapa? Aku! atau lebih parah lagi nyawa Tania juga terancam!” Dru menaikkan nadanya beberapa oktaf, dia sepenuhnya kehilangan kendali.
“Tania?”
“Si korban. Dia selingkuhan Rejas, awalnya,” Dru merasakan sakit di ulu hati harus kembali mengingat adegan demi adegan yang membuatnya hancur setahun lalu. Kenan melihat tubuh Drupadi bergetar. Tangannya terutama. Kenan lalu berjongkok di depan Dru yang terduduk di sofa. Diraihnya kedua tangan yang gemetar dan terasa sangat dingin itu.
“I lost control, sorry,” Kenan menatap Drupadi dengan tatapan lembut.
Drupadi menggeleng dan tersenyum tipis, dia tahu bahwa Kenan marah bukan kepada dirinya, tapi karena rasa khawatir atas keputusan berani yang Dru ambil. “Ini untuk kebaikan bersama. Aku mengenal Re, Mas. Dia tidak akan nekad denganku.”
“Who knows?” sekarang nada Kenan yang putus asa. Dia tahu polisi bisa saja menangkapnya, dan pasti tertangkap. Tapi, dia juga tidak tahu akan sampai kapan? semakin lama Rejas berkeliaran, semakin banyak jiwa yang terancam.
Tangan Dru berbalik menggenggam Kenan untuk meyakinkan. "Percaya ke aku, Mas. Bantu aku untuk bertemu polisi. Selesaikan malam ini, ya?”
Kenan tak menjawab. Tidak pernah dia setakut ini menyaksikan Dru akan mengumpankan diri ke hadapan buron.
“Ya?” sekali lagi Drupadi meminta persetujuan. Dru mengusap pipi Kenan dengan sentuhan lembut.
“Aku akan membantumu,” Kenan menyerah. Drupadi tersenyum bangga terhadap keputusan Kenan. “Aku akan menelepon polisi agar datang ke sini, kita harus pastikan bahwa pergerakan kita juga sedang tidak diawasi target, agar dia tidak kabur.” Drupadi mengangguk dengan antusias mendengar rencana Kenan.
Setelahnya, Kenan mondar-mandir sibuk menelepon ini dan itu. Drupadi mengimbau Kenan agar hal ini tidak bocor ke Antoni, Aji, ataupun Alya. Dru sudah cukup benyak menghadapi orang hari ini dan dia harus memupuk tenaga lagi untuk bertemu Rejas.
Dru turun dan langsung memberi komando kepada karyawannya untuk tutup lebih cepat. Dia memberi arahan kecil tentang apa yang harus mereka lakukan terutama terkait desas-desus buron yang sudah mereka ketahui bahwa itu ulah Rejas.