Setelah penangkapan Rejas bermingu-minggu lalu. Kehidupan Drupadi sedikit lebih tenang. Ia ingat betapa hebohnya situasi, saat Aji tahu soal keterlibatan kakaknya dalam operasi penangkapan tersebut. Dia langsung meluncur malam itu juga dari Bandung demi memastikan kakak semata wayangnya baik-baik saja. Aji sempat merepet saking khawatirnya. Belum lagi Antoni, Alya, dan ketiga karyawannya yang urung pulang dan menunggu kedatangan Drupadi. Semua orang benar-benar ingin melihat sendiri bahwa dirinya pulang dalam keadaan utuh tak kurang apapun.
Beberapa hari kemudian, Kavy yang sudah lama tidak berkomunikasi dengan Dru pun tiba-tiba muncul di kedai dan mengajak bicara berdua. Dru tidak menolak. Lagi pula, perkara dengan Kavy hanya soal salah paham.
"Aku sempat kemari saat kamu sedang liburan,” Kavy membuka percakapan hari itu.
“Kata Dino begitu. Kamu apa kabar, Mas?”
“Sehat dan lebih banyak ke luar kota ikut Antoni.”
Drupadi mengangguk paham. Dia juga tentu tahu kesibukan Antoni berkat Alya. Sebenarnya, Dru merasa sedikit canggung harus menghadapi Kavy lagi.
“Turut prihatin atas apa yang terjadi denganmu, Dru. Kamu sekarang gimana?”
“Aku sudah sehat dan baik-baik saja, Mas. Lihat! Kedai ini tanpa Drupadi akan jadi apa?!” Dru berpura-pura membusungkan dan menepuk dadanya. Keduanya terkekeh.
Setelah jeda beberapa saat, akhirnya Kavy membuka percakapan lagi, "aku malu sebenarnya denganmu, Dru. Tidak seharusnya aku berbicara dan menuduhmu seperti waktu itu. Maaf, ya?"
Alih-alih menjawab, Drupadi malah tersenyum. Memang kalau diingat lagi, Dru juga memiliki andil di dalam pertengkaran kecil itu. Dia terkadang lupa memberi batas interaksi antara dirinya kepada lawan jenis. “Salahku juga, kan karena tidak memberimu penegasan apa-apa, seolah aku juga memiliki visi yang sama sepertimu, Mas. Dalam hubungan kita.”
“Selamat juga untukmu dan Kenan. Setelah aku bertanya kepada Antoni tentangmu lebih banyak, aku setuju denganmu, bahwa kita belum benar-benar dekat.”
“Mungkin hanya soal preferensi kedekatan saja, kan, Mas. Aku yang juga kurang memahami preferensi kedekatan bagimu seperti apa.”
Kavy setuju. Kavy merasa, cukup baginya dianggap dekat jika mengetahui hal-hal kecil yang tampak di permukaaan. Sedangkan, ternyata berbeda dengan Drupadi. Dru memiliki perasaan mendalam tentang kedekatan.
"So, aku dimaafkan?” tanya Kavy.
“Ha ha ha … sejak semula kamu sudah termaafkan, Mas. Terima kasih sudah mengatakan banyak hal baik kepadaku.”
“Kita masih teman?”
"Tentu!” keduanya tergelak. Sore itu, sepasang ‘teman’ yang sempat berseteru, kembali menemukan jalan tengah atas perseteruan mereka.
Perasaan Kavy tentu tidak sekejap hilang seolah setahun kemarau disapu hujan sehari. Tidak. Perasaan untuk Drupadi masih ada di sana. Dia lipat dan simpan rapi di tempat paling tersembunyi.
***
Setelah kedai tutup. Kenan menjemput Dru yang berencana akan menginap di rumah Darmawangsa. Dru sudah janjian dengan Alya akan nonton bareng film yang baru dirilis di OTT. Keduanya punya kebiasaan seperti itu sejak dulu. Padahal, Dru bersikeras akan naik taksi saja, dan ternyata Kenan lebih keras kepala akan menjemputnya. Drupadi tidak bisa apa-apa.
Yang tidak disangka-sangka, saat memasuki rumah Darmawangsa, ada Dinar dan Dika yang menyambut Drupadi di ruang keluarga.
“SURPRISEEEE…!!” pekikan suara Dinar mengejutkan Drupadi. Mata drupadi terbelalak saking kaget. Jika menurut rencana awal, seharusnya Dinar dan Dika belum pulang hari ini.
“Tante!!” Drupadi yang tak kalah senang bertemu Dinar, langsung berlari dan menghambur ke pelukannya. Kenan tersipu melihat adegan manis itu. Memang, Dinar sudah mengimbau Kenan agar tidak bilang kepada Drupadi perihal kepulangannya sejak kemarin. Alya dan Antoni pun demikian. Dika yang menyadari ekspresi aneh Kenan, langsung mendekat ke putra tengahnya.
“Ada yang Papa tidak tahu, Ken?” Dika bertanya dengan nada berbisik. Yang ditanya tidak menjawab apa-apa dan malah izin pergi ke kamar.
“Aku ke kamar dulu, ya, Pa. Everyone! Aku pamit istirahat dulu, ya?” Semuanya mengangguk. Dru masih sibuk ngobrol dengan Alya juga Dinar. Namun, dari ekor mata Dru, dia melihat Kenan menuju kamarnya sambil menelepon seseorang.
Fara lagi?