Setelah malamnya Kenan dan Drupadi tertangkap basah sedang menjalin hubungan, keesokan harinya, momentum itu sekaligus digunakan Kenan untuk meminta iizin sekali lagi kepada Dinar. Kenan tahu Dinar sedang senang karena akhirnya salah satu putranya benar-benar memilih Dru sebagai kekasihnya.
Karena pagi itu hari Minggu dan semua anggota keluarga sedang berkumpul sambil bersantai, Kenan mendekati Dinar untuk melancarkan aksi diplomasinya.
“Ma…”
Dinar yang tengah membaca majalah untuk tren bisnis, langsung sigap menutup majalahnya dan menyaut panggilan putranya. Di sana lengkap, ada Drupadi, Alya, Dika, bahkan Antoni. Dru yang sudah tahu rencana Kenan, duduk berhimpitan dengan kekasihnya, menghadap Dinar dan Dika.
“Ada apa? Mau lamaran?” goda Dinar kepada putra tengahnya.
“HAH?!!” Alya sontak meletakkan ponselnya dan memastikan lagi apa yang baru saja didengarnya.
“Bukan.” Kenan salah tingkah, kemudia menghela napas. Dia tahu, sebahagia apapun situasi Dinar, dia paling sedih jika menyangkut Kenan yang akan pergi ke US. “Soal Boston.”
Pfuh!
Dika yang tadi sedang menyimak berita di teve pun segera mengecilkan volume teve dan perhatiannya teralihkan ke arah Kenan. Semua mata kini tertuju kepada Kenan. Dinar, mekipun terlihat berat, dia mengangguk. “Jika kamu bebar-benar bertekad. Mama setuju,” suara Dinar berat.
Kenan tetap saja melihat raut sedih yang disembunyikan Dinar. Dia lalu bangkit dan pindah duduk di samping Dinar. Dia peluk bahunya. “Ma, look at me,” Kenan memohon dengan suara yang sangat lembut. Dinar mamtuhi permintaan putranya.
"Kalau Mama takut aku tidak akan pulang ke rumah ini lagi, itu tidak masuk akal, kan?” Kenan sekali lagi meyakinkan. Ini kesempatan satu-satunya dia bisa pergi. Selama ini, Kenan memiliki ribuan kesempatan untuk menemui orang tua kandungnya, tapi, baru kali ini dia benar-benar siap. Baru kali ini, Kenan benar-benar akan kuat jika kenyataan soal dirinya dan orang tuanya tidak semulus yang pernah dibayangkannya. Dia siap jika memungut kekecewaan setelahnya. “Ma?”
“Mama percaya kamu tidak akan meninggalkan Mama atau keluarga ini, tapi Mama tetap takut aja, Ken.”
“Hei, Ma,” Kenan menatap mata Dinar, “enggak mungkin, dong aku ninggalin dia?” gestur kecil kepala Kenan mengarah kepada Dru yang sekarang duduk di Seberang keduanya. Dinar tehibur. Senyum mengembang di sana dan membuat sisa anggota lainnya di ruangan itu turut lega. Izin diterima! selesai.
***
Hari ini Dru tidak ada acara apa-apa. Dru masih asik di balik meja kasir, sementara Arin dan Dino sibuk dengan tugasnya masing-masing. Nadia sudah menyelinap ke dalam kamar sebab shiftnya sudah selesai. Dru sedang mempertimbangkan lagi masukan dari Kenan soal konseling. Sebenarnya, sebelum ini pun Dru sempat ingin pergi konsultasi dengan ahli terkait jam tidur, tetapi dia terus-menerus punya alasan untuk tidak kunjung melakukannya. Akhirnya, kemarin dia memeriksakan kesehatannya kembali—atas bujukan Kenan. Diketahuilah bahwa siklus tidurnya masih sangat buruk dan akan memengaruhi kesehatannya di kemudian hari.