DRU: Sebuah Rasa Menuju Pulang

Titis nariyah
Chapter #1

#1 THE END OF THE INNOCENCE

Oh, but I know a place where we can go

And wash away this sin

We'll sit and watch the clouds roll by

And tall grass waves in the wind ….


***

Dari delapan miliar penduduk bumi dan itu harus terjadi kepada Dru. Dia menjadi manusia terpilih dari sekian banyak nasib jelek yang sangat acak. Dru mulai meragukan kecerdikan dirinya dalam mengambil keputusan. Mengapa dulu mengiyakan untuk ditiupkan roh di rahim ibunya? Tujuh puluh tujuh kali diberi pertanyaan untuk dilahirkan dan dia …setuju?

Di antara manusia yang tinggal di bawah langit biru, Dru yang harus harus menjalani gempita luka-luka? Dari ribuan kombinasi rasa di dunia, dia memilih pahit.

Pahit. Pahit yang tanpa kombinasi. Pahit yang tegak sendirian, seperti pekat langit pukul 02.00. Dru masih meletakkan dagunya di jendela kamar yang mengarah langsung ke jalan depan ruko. Di sana tidak terlalu terang tetapi tidak gelap total juga. Ada tiang-tiang penerangan yang diletakkan dengan jarak tertentu dan semuanya masih berfungi dengan baik. Ini area aman. Dru hanya tinggal berdua di ruko itu dengan Nadia, salah satu karyawannya di kedai. Sedangkan dua karyawan lainnya memilih pulang. Dru menempati kamar atas, sedangkan Nadia dibuatkan sekat untuk istirahat dengan nyaman di lantai bawah.

Area perkantoran jelas sudah lengang. Beberapa kedai makan di area itu juga hanya buka hingga pukul 21.00. sedangkan kedai makan milik Dru memiliki jadwal buka dari pukul 08.00 hingga pukul 18.00 saja. Ruko di sisi kanannya adalah sebuah waralaba yang buka hingga 24 jam, sedangkan tepat di sisi kiri sebuah kantor notaris dan kantor NGO.

Dru memang memilih ruko paling tengah untuk kedainya. Tak ada alasan khusus, dia hanya memilihnya karena itu yang tersisa. Lengang. Hanya suara suara deru kendaraan di jalan utama. Dia terbangun dan susah untuk memejamkan matanya kembali. Ada cemas yang belakangan berkelindan di kepala. Dia tidak menyeduh kopi atau cokelat panas. Dia hanya termangu dan merasakan angin dini hari menyapu wajahnya. Kapan lagi Jakarta memiliki udara sesegar saat pukul dua?

Jika Drupadi memang lahir dari api suci pada ritual yang dilakukan Raja Drupada, apakah dengan begitu dia dilahirkan dari laki-laki? Apakah api jadi memiliki jenis kelamin tertentu sesuai dengan siapa yang menyulutnya? Jika benar Drupadi lahir dari api suci, mengapa dia dilahirkan untuk wujud balas dendam? Sungguh sesuatu yang paradoksial: api suci dan balas dendam. Senyum tipis terbit di bibir Dru. Jadi ini maksudnya dia bernama Drupadi? Lahir untuk memenuhi balas dendam ayahnya terhadap dunia?

Di mana kah Pandawa yang harusnya mencintainya dengan cinta kasih? Di manakah Pandawa yang akan menemaninya ke ujung hayat menuju ‘Himalaya’ hidupnya? Di manakah Hastinapura tempat dia menjadi ratu? Alih-alih begitu… ternyata dirinya justru sedang berada di sebuah peristiwa perjudian terbesar: hidup. Ternyata yang dia temui adalah Dursasana, sedangkan Dru tidak memiliki kekuatan untuk memanggil Dewa Kresna guna menolongnya. Rasa sakit itu kembali melolong di ulu hati Dru.

Gelembung air dalam galon membuyarkan lamunan. Dia mengusap-usap wajahnya dengan kasar. Tak lama dia mulai kembali mengantuk. Setelah menutup jendela dan mematikan lampu, Dru berusaha memejamkan matanya kembali.

***

Tepat selepas azan Subuh, alarm untuk memulai aktivitas harian berbunyi. Dru bergegas mandi dan bersiap ke dapur. Ada Nadia yang juga tengah bersiap. Sementara itu, Dru mulai dengan menanak nasi sebanyak lima liter untuk bagian pertama. Ada sekitar enam tungku kompor yang akan menyala sepanjang hari selama waktu operasional. Di tungku lain, ada air yang tengah didihkan untuk mengisi termos-termos dan lainnya untuk mengguyur nasi ketika setengah matang kelak.

Menu utama yang disajikan di kedai Dru adalah Megono. Hidangan dari nangka muda yang dicincang kasar kemudian dicampur dengan bumbu kelapa khas kota batik Pekalongan. Dru mempelajari menu rumit ini dari mendiang neneknya. Maklum keluarga dari pihak Ibunya memang asli Pekalongan.

Untuk cincangan Nangka, Dru sudah memesan kepada pihak pasar untuk menyediakan, meskipun harus dengan tambahan biaya untuk jasa cincang. Tidak mengapa bagi Dru, karena pekerjaan ini sungguh memakan banyak waktu dan tenaga, jadi, Dru lebih memilih menyerahkan kepada ahlinyaa. Sementara itu, untuk bumbu kelapa, Dru yang meraciknya sendiri. Kepala parut yang dicampur bumbu halus terdiri dari: bawang merah, bawang putih, ketumbar, kemiri, cabai rawit, kencur dan terasi. Untuk tambahan bumbu aromatik, dia menggunakan lengkuas, daun salam, daun jeruk, dan batang sereh. Namun, yang paling spesial dan khas dari Megono ini adalah bunga kecombrang!

Meskipun makin ke sini, makin banyak penjual Megono yang tidak menyertakan kecombrang dalam resepnya dengan alasan banyak pelanggan yang tidak familier ataupun karena bahan bakunya kadang langka atau mahal, Dru tetap mempertahankan resep orisinalnya. Jadi, Megono khas DAPUR DRU ini tetap memiliki kesan di hati pelanggannya.

Meskipun ini makanan khas dan sebenarnya tidak terlalu familier di semua kalangan, tetapi, pelanggan acak yang datang ke Dapur Dru justru tertarik mencoba dan justru ketagihan. Sensasi rasa gurih dan sedap dari bumbu dan rempah yang kompleks membuat Megono begitu sangat nikmat apalagi dilengkapi dengan sambal dan nasi putih hangat. Beberapa pelanggan ada yang keliru antara Megono khas Pekalongan dan Megono khas Wonosobo yang terbuat dari triwis atau ada yang menyebutnya cuciwis, yang merupakan tunas-tunas muda yang muncul pada ketiak tanaman kol.

Jika terjadi demikian, Dru akan dengan sabar menjelaskan dengan singkat soal dua perbedaan makanan khas ini. Dia juga mengarahkan kepada staffnya agar bersabar dalam menjelaskan makanan jualannya kepada pelanggan. Apalagi jika mereka adalah pelanggan baru.

Dru menanak nasi dengan sistem karon, mengguyur beras yang sudah lengket di dandang dengan air mendidih. Guyuran ini harus bertahap sampai dengan tekstur kepulenan yanng diinginkan. Karena jika tidak begitu, nasi akan menjadi begitu kering atau terlalu kematangan. Jadi, takaran air pun harus pas dan diperhatikan. Nadia salah satu staf dapurnya yang sangat lihai menanak nasi dan memasak lauk-pauk.

Saat pagi, Dru sangat fokus dengan enam tungku api dan segala remak remik dapur. Ketika Nadia sudah selesai dengan mandi dan ritual pagi, dia tahu tugasnya adalah mempersiapkan ruang jualan. Membersihkan tempat saji, menyapu dan mengepel lantai, serta membersihkan debu-debu di meja dan kursi makan. Nadia juga menunggu para pengantar tempe dan tahu yang biasanya datang sangat pagi, juga Bang Pri, si pengantar sayur yang datang di waktu yang hampir bersamaan.

Dru memang sudah tidak pernah lagi belanja ke pasar setelah dia mempercayakan belanja sayuran basah kepada Bang Pri yang membuka jasa antar dan belanja sayur. Dru sudah mantab berlangganan dengan Bang Pri karena amanah, gesit, dan tahu selera sayur bagi Dapur Dru.

Sekitar pukul tujuh, hampir semua hidangan utama dan lauk-pauk lainnya sudah matang. Nadia lalu menyiapkan semua menu tadi ke dalam wadah stainless, lalu menaruhnya di etalase yang sudah dilengkapi dengan pemanas. Jadi sepanjang hari, menu-menu makanan di Dapur Dru selalu hangat. Kedai ini memiliki sistem prasmanan, jadi, pelanggan bebas memilih lauk apa yang akan dipilihnya, bisa dine in atau take away.


Setelah selesai dengan tugas masak pagi, Dru akan kembali ke kamar dan berganti baju lalu bersiap-siap mengoperasikan kedainya. Dia akan menjaga meja kasir, sementara Nadia stand by jika sewaktu-waktu ada yang memesan es teh, es jeruk, atau lainnya. Sementara minuman kemasan sudah tersedia di lemari pendingin.

Lihat selengkapnya