Setelah satu pekan yang padat dengan beberapa pesanan nasi box dari para karyawan kantor, hingga pesanan snack-snack khas Dapur Dru terpenuhi dengan baik, akhirnya Dru bisa menikmati kahir pekan dengan sangat menyenangkan. Untuk hari sabtu, Dapur Dru hanya membuka untuk menu sarapan dan brunch saja, karena selepas duhur, Dapur Dru sudah menutup kedai dan menutup orderan baik daring maupun luring. Sedangkan Dapur Dru akan libur pada hari Minggu.
Nadia terkadang pulang ke rumah keluarganya di Bogor, atau terkadang menginap di kost-an Arin. Dru hanya mengingatkan kepada karyawannya itu agar tetap memberitahukan kepada dirinya semisal mau ke luar. Dru masih bermalas-malasan di kamarnya. Kedai sudah tutup dan hari masih menunjukkan pukul tiga. Azan Asar bahkan belum berkumandang. Minggu ini, Nadia pamit kepada Dru untuk menginap bersama Arin, dan Dru mengizinkan.
Dru tidak pernah pulang ke mana-mana. Rumah masa lalunya sudah dijual. Uangnya sebagian ditabung untuk tabungan bersama adiknya, sedangkan ada beberapa yang mereka bagi dua yang kemudian jatah milik Dru dipakai untuk menambah membeli ruko Dapur Dru dikumpulkan dengan tabungan Dru sejak merintis dagang. Sementara ayahnya yang mendekam di penjara masih ada harta lainnya yang bisa ia gunakan selepas bebas nanti. Dru pernah berharap agar ayahnya tak pernah bebas....
Aji ikut temannya di sebuah toko pengrajin kulit di Bandung yang menerima jasa custom sepatu, tas, topi, jaket, dan sabuk dari kulit asli. Tentu banyak barang lainnya seperti: sarung pisau, dompet, dan lain-lain. Sesekali Dru akan berkunjung ke Bandung atau adiknya yang mengabarkan akan pulang. Jika Aji pulang ke kedai, biasanya Aji berbagi kamar dengan Dru karena Dru punya kasur tambahan untuk adiknya itu. Aji tidak pernah pulang lebih dari tiga hari. Mulanya, kamar bawah diperuntukkan untuk Aji, namun karena laki-laki itu benar-benar sangat jarang pulang, dan Dru juga agak kesepian jika harus sendirian, akhirnya langkah cermat yang diambil Dru adalah membiarkan salah satu pegawainya menginap. Ini jelas win-win solution untuk semua.
Antoni akan menjemputnya selepas magrib untuk acara makan malam di rumah Alya. Meski sempat ada huru-hara- ide perjodohan yang digaungkan Dinar-, namun tidak membuat keduanya jadi canggung. Karena pada saat itu, baik Antoni maupun Dru sudah bersama pasangan masing-masing. Bahkan, Antoni akan menikah tahun depan dengan kekasihnya warga Australia. Antoni juga tetap baik dan hangat. Dru justru merasa, keluarga Alya adalah semacam satu box nasi dengan beragam sayur dan lauk yang lengkap, enak, dan hangat. Tidak ada satu pun anggota keluarga Alya yang tidak menyukai Dru. Alya yang kasih sayangnya tidak diragukan lagi, Dinar dan Dhika-orang tua Alya- yang meski jarang bertemu karena kesibukannya, tetap menanyakan kapan Dru akan menginap di rumah, Antoni yang telaten mengantar Alya dan Dru apabila keduanya butuh jasa supir, serta Kenan, kakak kedua Alya yang rajin mentraktir Dru atau menemani jalan ketika Dru tidak ada teman.
Dru mulai beranjak dari kasurnya yang nyaman. Dia akan mandi dan keramas, memakai masker rambut, mungkin men-blow-nya nanti agar terkessan mengembang dan cantik. Untuk baju, Dru udah tahu akan memakai apa. Baju terusan berbahan chiffon sepanjang bawah lutut berwarna abu-abu gelap dengan corak floral yang memberi kesan manis. Model leher berbentuk V dan lengan panjang dengan karet di pergelangan tangan dan bagian pinggang. Itu akan membungkus tubuh Dru dengan baik dan menawan.
***
Saat Dru sedang mandi, sebuah pesan masuk ke ponsel Dru dari nomor asing.
“Aku tunggu kamu di bawah ya, Dru. Aku tidak akan pergi sampai kamu temuin aku.”
Dru sengaja berlama-lama mandi sore itu. Badannya yang lengket karena udara yang sangat lembab, juga karena tadi pagi memang tidak sempat keramas, jadi makin terasa lepek dan tidak karuan rambut kepalanya. Gemericik dari kucuran air menyamarkan dering suara panggilan masuk. Sebenarnya tidak benar-benar samar, Dru hanya sedang tidak ingin diburu-buru, jadi dia mengabaikan panggilan masuk berentet di ponselnya. Dru juga tidak menebak-nebak siapa yang pertengahan sore begini memburu membabi buta seperti debt colllector memburu debiturnya.
Dru selesai setelah hampir satu jam, Dru mengenakan handuk mandi dan keluar dengan perasaan segar luar biasa. Sore yang lembab sudah lenyap. Tersisa akhir hari yang segar dan Dru akan bersiap mengeringkan rambut saat satu kali lagi ponselnya berdering.
Nomor tidak dikenal?
Dru tidak membuka pesan masuk sebelumnya dan hanya menerima telepon masuk.
“Ya? Dengan siapa?”
“Dru … ini aku. Aku tunggu kamu di bawah. Kamu bisa…” Belum sempat orang di seberang saluran menuntaskan bicaranya, Dru dengan sigap mematikan ponselnya. Suara familiar. Suara yang Dru harap tidak pernah didengar lagi sepanjang hidupnya. Suara yang pernah mencabik-cabik hari-hari tenangnya. Rejas.
***