…
We go to a party
And everyone turns to see
This beautiful lady
That's walking around with me
And then she asks me, "Do you feel alright?"
And I say, "Yes, I feel wonderful tonight" … -Eric Clapton
***
Sekitar empat puluh menit SUV milik Antoni bergelut di tengah macetnya malam minggu, sampailah keduanya memasuki pelataran rumah keluarga Dhika Darmawangsa yang megah.
Antoni menurunkan Dru tepat di depan pintu masuk. Setelah itu, baru dirinya meluncur ke parkiran mobil. Di ruang tamu sudah terkumpul semua anggota keluarga itu kecuali Antoni. Suara pintu terbuka. Semua orang yang tengah duduk di ruang tamu menoleh ke arah pintu. Drupadi masuk dengan sumringah.
Laki-laki itu baru melihatnya. Dia tadi datang bersama Antoni selepas bertemu klien di kawasan Sarinah. Kemudian, Antoni meluncur pergi lagi menjemput tamu penting, katanya. Jadi, ini dia, Kavy tanpa sengaja menelengkan kepalanya mengikuti gerak kaki perempuan bersepatu boots itu. Dinar yang tadi tengah asik bercengkerama dengan putri bungsunya, mendadak berdiri dan sekonyong-konyong menyambut tamunya.
“Eleuh, Neng … kangen pisan Tante, weh.” kendati sudah puluhan tahun menjadi warga ibu kota, logat dan cara bicara Dinar masih ‘Bandung sekali’. Wanita tanah parahiyangan yang kalau bicara terdengar lembut dan merdu. Tak heran, ketiga anaknya pun menuruni sifat dari orang tuanya. Dhika juga demikian, meskipun berdarah Manado, Dhika terkenal dengan suara yang penuh wibawa. Kenan, anak mereka yang nomor dua mewarisi cara bicara ayahnya.
Tamu baru itu langsung memeluk satu demi satu anggota keluaga Darmawangsa. Setelah sampai di depan Kavy, dia kikuk. Dru mengulurkan tangan kepada orang asing tersebut.
“Eh, Neng, ini teman lama Antoni, namanya Kavy. Ayok kalian pada kenalan biar makan malamnya semakin akrab,” tanpa komando, Dinar yang menjadi mediator perkenalan keduanya.
“Hai, aku Dru. Dupadi.”
“Kavy.” Jabat tangan singkat dan senyum singkat. Lalu, semua orang kembali duduk. Alya jelas langsung menyeret tangan Dru agar duduk berhimpitan di sofa yang nyaman. Kavy dalam beberapa detik masih memperhatikan Dru. Drupadi? Unik sekali namanya, bajunya, sepatunya, dan wa …jahnya. Kavy segera sadar setelah pundaknya dirangkul ketat oleh Antoni.
“Cantik, kan?” bisik Antoni di telinga Kavy yang spontan berkelit dari cengeraman lengan Antoni yang kekar. “Stress!" timpal Kavy
Iya. Cantik.
Setelah yakin semua anggota sudah berkumpul, Dinar memberi komando kepada semua orang agar segera menuju ke meja makan dan menyantap makan malam spesial bersama-sama. Ada dua jenis hidangan yang disuguhkan: Manado dan Sunda. Semuanya enak dan dipastikan semua yang terhidang dibuat sendiri oleh Dinar. Memang dibantu oleh ART, tapi untuk urusan proses masak, harus Dinar sendiri yang turun tangan.
Setelah perut para anggota Dinar Dinner Club kenyang dengan segala masakan Manado yang kaya rempah dan dipadu masakan Sunda yang pedas huh hah, semua orang berpencar mencari tempat bersantai yang nyaman. Antoni tampak sibuk dengan Kenan entah sedang mengurus bisnis apa. Sedangkan Alya tengah melakukan panggilan tatap muka dengan kekasihnya yang sedang bertugas di Bandung dan tidak bisa bergabung malam ini. Nyonya dan tuan rumah malah asik menonton televisi yang menayangkan acara lagu-lagu nostalgia. Manis sekali masa tua mereka. Sedangkan Dru memilih bersantai di kursi malas dekat kolam. Dia tidak sedang apa-apa dan hanya menikmati angin malam yang sepoi-sepoi.
Kavy yang baru saja mengambil dua gelas air perasan lemon cui khas Manado menghampiri Dru.
“Nih, Dru katanya bisa mengusir lemak jahat setelah makan.” Kavy menyodorkan satu gelas ke arah Dru. Dru yang terkejut dengan kehadiran Kavy sekonyong-konyong bangkit dari duduknya. Dia dengan sigap menerima gelas lemon cui.
“Eh, terima kasih, Mas. Tahu saja aku lagi kepikiran mau minum tapi mager bangkit.” Keduanya kini duduk berhadapan di kursi malas. Ada sekitar lima kursi yang berjajar di area itu, Kavy dan Dru duduk di area tengah. Dru meneguk es lemon cui yang segar sekali. Takaran antara gula dan lemonnya pas, tidak terlau manis atau asam. Tangan Dinar memang bisa dibilang ajaib. Masak enak, merajut pintar, bahkan Dinar pandai membuat kerajinan keramik. Nilai plusnya lagi, parasnya sangat cantik khas kecantikan parahiyangan. Mungkin benar, bahwa Tuhan menciptakan Bandung saat sedang tersenyum.
“Kata Antoni kamu suka Van Gogh juga, ya?” mata Dru langsung berbinar saat mendengar laki-laki di depannya menyebut nama Gogh. Dru langsung menunjuk tas selempang kecilnya yang bercorak bunga matahari dari karya Gogh berjudul Tournesols (bahasa Prancis bunga matahari).