Dapur Dru sudah kembali ke rutinitasnya. Pelanggan keluar dan masuk untuk membungkus makanan atau makan di tempat. Senin yang sibuk. Terlihat dua karyawannya yang lain sedang mondar-mandir menyajikan menu minuman, sedangkan pemilik kedai sedang sibuk melayani orang-orang yang membayar. Parkiran Dapur Dru selalu penuh saat jam makan siang.
Selalu saja ada kegaduhan-kegaduhan kecil saat kedai ramai, seperti: pembeli yang tak sabar bergantian dengan pelanggan lain soal tempat duduk, atau terkadang mereka juga senggol-senggolan memilih menu. Biasanya, pelanggan baru yang yang akan kena cibiran pedas dari pelanggan veteran yang banyak didominasi oleh ibu-ibu pekerja. Mereka mengejar jam makan siang yang hampir selesai.
Jika sudah begitu, biasanya Dru akan turun ke area meja display dan memilihkan menu makanan yang paling banyak diminati atau dipilihkan jika ternyata pelanggan memiliki alergi terhadap bahan makanan tertentu. Dru sangat telaten melayani pelanggannya. Apalagi, biasanya pelaanggan ada saja tipe rewel yang butuh kesabaran ekstra. Setiap Senin ada menu khusus yang selalu berganti-ganti setiap pekannya. Dru biasanya meng-eksplorasi kira-kira menu apa yang akan dibuatnya. Karena menu khusus inilah yang selalu ditanyakann oleh pelanggan, apalagi mereka yang sudah tahu tentang hari Senin dan menu khusus. Biasanya, begitu tiba, mereka langsung tanya tentang menu tambahan ini.
Senin ini, Dru malah menyajikan soto tauco khas Pekalongan. Ini lumayan menjadi daya tarik pelanggan tetapnya juga terutama yang memiliki histori pernah tinggal di kota tersebut, atau punya kenalan dan sempat makan bersama di Pekalongan, atau bahkan memang perantau asal Pekalongan. Yang menjadikan soto tauto Dapur Dru sangat diterima adalah karena pengolahan tauconya yang enak. Kedelai fermentasi yang notabene asam itu, diolah dengan bumbu rahasia ala Dapur Dru hingga siap dijadikan salah satu bumbu dari kuah soto tauto khas Pekalongan. Jika soto-soto lainnya berwarna bening atau kuning, atau beberapa berkuah santan, soto tauto berwarna gelap mirip rawon.
Memang agak susah sekali menemukan soto tauto di kota besar seperti Jakarta. Makanya, kehadiran tauto di salah satu menu khususnya Dapur Dru sering dinantikan. Setelah huru-hara antrean ibu-ibu dan pelanggan baru yang sempat tak terkendali beberapa waktu lalu, akhirnya kedai kembali ke situasi lengangnya. Nadia sudah pamit ke kamarnya, Arin sedang ijin salat zuhur. Tersisa Dru dan Dino yang menjaga kedai. Dru merapikan uang di lacinya, sementara Dino mengisi stok minuman dingin karena sudah mulai banyak yang kosong di showcase. Tersisa dua pelanggan yang masing-masing sendirian, yang satu tengah menikmati soto tauto, yang satunya lagi justru asik menyantap nasi, pepes peda, dan tumis rebung yang juga dibumbui dengan tauco.
Sekitar satu jam kemudian, Arin kembali dari istirahat. Sementara uang di laci sudah rapi dan Dru sudah serah terima dengan Arin, dia pamit dengan dua karyawannya.
“Dru?”
Baru saja Dru hendak naik tangga, suara familier memanggil namanya. Dru membeku sejenak. Dia hanya memastikan bahwa telinganya sedang salah tangkap. Dru melangkah ke satu anak tangga dan suara itu memanggilnya kembali, “Kita harus bicara.” Tiba-tiba atmosfer di sekitar Dru membuat bulu kuduk meremang. Dua pelanggan yang tadi tengah asik makan, mau tidak mau menoleh ke Dru. Arin tidak suaranya, sementara Dino tidak tampak batang hidungnya. mungkin langsung menyelinap ke dapur.
Dru menata hatinya yang dalam hitungan detik bergemuruh bak diserang badai. Ya, harus dia hadapi pada akhirnya. Dru membalikkan tubuhnya dan sudah mendapati Rejas di depan kasir dan tengah menatap dirinya. Arin pura-pura sibuk dengan kegiatannya entah apa. Satu pelanggan sudah pamit pulang, sementara yang tengah menimati soto tauto sedang bersantai.
Rejas melempar senyum ke arah Drupadi yang sedang berjalan mendekatinya.
“Rin, tolong bawakah minuman untuk Mas Rejas.” Arin langsung mengangguk dan dengan sigap melaksanakan titah bosnya. Tentu Arin juga tahu siapa Rejas. Drupadi membimbing Rejas duduk di kursi paling pojok, menghindari kalau-kalau ada pelanggan datang dan mereka dalam situasi yang tidak menyenankan. Rejas mengikuti langkah Dru, lalu keduanya duduk berhadapan.
Dru masih mencoba menata deru napasnya agar tidak terlihat betapa tidak tenangnya dirinya menghadapi Rejas. Arin datang membawakan minuman dingin untuk ‘tamu’ bosnya. Masih belum ada suara apa-apa dari keduanya. Dru mengunci bibirnya dan menatap ke arah luar kedai, sementara Rejas menatap Dru seperti mencari-cari situasi semacam … penerimaan (?). Tidak ada. Dru bahkan tidak benar-benar menatap Rejas dari sejak awal datang.