Dru masih meringkuk di sana. Di lorong dekat kamarnya. Dru membiarkan dirinya menangis seperti anak kecil. Kehadiran Rejas membuka kembali lukanya yang bahkan belum kering betul. Dia kembali mengingat, keesokan paginya setelah kekacauan malam itu, Dru meminta tolong kepada Alya untuk datang dan mengantarnya ke rumah sakit. Dru merasa tidak kuat bangun. Kakinya sakit luar biasa dan sudah mulai meninggalkan lebam, lututnya pun sama, sementara bibir Dru terasa perih. Kepalanya sakit setelah terguling dari tangga dan menangis semalaman.
Dru masih ingat, bahwa hari itu yang datang justru Kenan. Alya mengutus kakak keduanya karena dia tengah bertugas di Bali. Dia mengaku menyesal dan janji akan segera pulang saat dengar tangisan Dru dari telepon. Kenan dengan sigap mengantar Dru ke rumah sakit. Selama dua hari dirawat, Kenan lah yang dengan rela hati dan tanpa segan mengurusi semua yang Dru butuhkan, bahkan menungguinya. Dru memohon kepada Kenan agar tidak mengabari adiknya di Bandung. Dia tidak tega membuat adiknya merasa bersalah dan lain-lain.
Saat itu, untuk pertama kali, Dru harus meliburkan kedainya hingga dua pekan. Kendati para pelanggan terus-menerus bertanya dan menelepon nomor kedai, Dru tetap bersikukuh ia akan break time secukupnya. Ketiga karyawannya diberitahu untuk tetap siaga jika ada yang menghubungi kedai terkait dagangannya. Butuh sebulanan lebih hingga kakinya yang terkilir sembuh betul, lebam lututnya baru hilang setelah tiga minggu. Semuanya sembuh perlahan dan tak membekas, tapi, luka-luka di hati Dru seperti bermalas-malasan untuk sembuh.
Drupadi merasakan nyeri di ulu hatinya setiap mengingat semua hal yang dia alami saat itu dan betapa dia telah merepotkan banyak orang: Alya, Kenan, Nadia, Arin, dan Dino. Dia merasa semakin merasa bahwa hidupnya terus-menerus hanya menyusahkan orang lain.
***
Dru tidak tahu sekarang pukul berapa. Dia hanya sadar langit terasa semakin redup dan dirinya masih meringkuk di lorong sempit tanpa tahu kapan akan beranjak. Terdengar Arin dan Dino sedang bersenda gurau sambil membereskan kedai. Terdengar pula, suara Nadia yang lantang memberi komando sambil tertawa kepada kedua partner kerjanya. Dru tersenyum kecil mendengarnya. Dru yang tidak yakin kejadian lalu akan membuatnya hidup kembali, ternyata dirinya masih sangat kuat dan hidup. Dru bersyukur memiliki tiga karyawan yang baik-baik dan patuh.
“DRUU!! YA TUHAANN!! … kalau mau mati besok saja. Sekarang nanggung. Tuh mau magrib! nguburnya repooott!!” suara menggelegar datang dari arah tangga. Alya mendekat tempat Dru meringkuk di lantai. Dia berjongkok tepat di depan wajah Dru. Dru tertawa mendengar repetan Alya yang mirip ibu-ibu tengah mengomeli anaknya yang bandel. Mirip ibunya saat merepet. Tangis Dru kembali pecah saat mengingat ibunya. Dia merindukan ibunya.
Alya mengambil aksi ikut tidur tepat berhadapan dengan Dru. Lorong yang agak sempit itu kini benar-benar sesak karena kelakuan dua perempuan yang sedang menghibur dan dihibur dari duka-dukanya. Salah satu karyawannya pasti langsung menghubungi Alya saat tahu ada Rejas datang dan situasi menjadi tak terkendali. Alya memang mewanti-wanti ketiga karyawan Dru agar tak segan memberitahukan kepadanya jika ada hal-hal seperti ini, dan herannya ketiga karyawannya sangat patuh kepada Alya. Hal yang justru Dru syukuri.
Keduanya saling menatap. “Besok, sekeliling kedai aku siram garam, deh, biar si ular enggak berani masuk rumah lagi, biar si ular enggak bikin nangis Dewi Drupadiku yang cantik jelita ini.” Penghiburan-penghiburan khas Alya yang selalu garing tapi mampu menghibur Dru.
“Al?”
“Yuhuu?!”
“Kalau aku kaya, kamu mau dibelikan apa?”
“Oh yeaah … tentu saja dua kavling di San Diego Hills, dong. Dua, ya, yang private buat aku sama kamu.”Dru memukul lengan atas Alya karena bercanda secara sembarangan.
“Mending duitnya aku habiskan sendiri untuk keliling negara di lembah Asia Tengah. Aku mau keliling Uzbek, Tukmenistan, Kazakhtan, Kirgis, dan …”
“Dru?
“Hmm?”
Alya mendekat ke tubuh Dru. Jari lentik Alya merapikan anak-anak rambut yang menutupi wahah Drupadi. “Mending kamu mandi, deh. Bau tahu!”
“Serius? Bau keringat? Bumbu? atau apa?” Dru mulai menciumi badannya sendiri.
Alya hanya menggeleng dengan reaksi Dru yang terlihat panik,”Bau masa lalu. Gih .... gih … buang sial!” keduanya tergelak. Dru merangsek ke Alya dan memeluknya erat. Dru lupa, entitas Kresna dalam kisah hidupnya mewujud dalam rupa Alya. Sahabat, pendukung, dan orang yang selalu siap ada saat Drupadi dipermalukan Dursasana di hidupnya. “Dru lepasin, gak, kamu bau. Buruan mandiii!” Setelah meronta dan teriak, Dru melepaskan pelukannya dan beranjak menuju kamar mandi. Alya mengekori sahabatnya ke kamar. Sementara Dru menyambar piyama mandi dan menghilang dibalik pintu kamar mandi, Alya merebahkan dirinya di kasur Dru yang nyaman.
***
Malamnya, Alya menginap di tempat Dru. Dia sudah mengabari dua kakak laki-lakinya bahwa dia tidak pulang. Alya juga sempat melakukan panggilan video kepada kedua orang tuanya yang tengah menikmati Amsterdam.
Alya sedang bersantai di kasur sambil memainkan ponselnya, sementara Dru tengah sibuk dengan tulisan-tulisannya yang akan dikirim besok sebagai rubrik mingguan bab resep atau tips memasak. Dru menambahkan halaman pencarian di gawainya dan mencari lagu dari Carole King berjudul You’ve Got A friend. Lagu manis yang sangat tepat dengan suasana hatinya. Rasa syukur memiliki Alya
If the sky above you
Grows dark and full of clouds
And that old north wind begins to blow
Keep your head together
And call my name out loud
Soon, you'll hear me knocking at your door
“Dru, Kak Kenan nitip salam sama kamu. Katanya bilang ke dia saja kalau si ular datang lagi, biar dia tonjok!” Dru hanya tertawa sambil matanya tak lepas dari layar laptopnya. Reaksi-reaksi peduli dari keluarga Darmawangsa tak pernah sekalipun mengecewakan Dru. Alya pasti laporan sama kakak-kakaknya, juga orang tuanya. Tipikal anak bungsu dan ucapannya seperti memiliki titah tak tertulis, bahwa apapun yang dia katakan, tolong dengarkan dengan seksama!
“Sampaikan terima kasih. Bilang ke Mas Ken, mau, gak ditraktir Dru di nasi goreng Kebun Jeruk?”
“Mau, kata dia. Kapan?”
“Kamis malam aja, deh.”