Kavy melihat-lihat ruko yang sesuai dengan alamat di aplikasi maps. Setelah memastikan bahwa dia tepat di depan DAPUR DRU, sesuai arahan pemiliknya, Kavy memastikan lagi bahwa bajunya sudah rapi, rambutnya tidak acak-acakan dan parfum yang digunakan masih menyebarkan aroma wangi. Ketika dia datang, kedai sudah lewat jam ramai, jadi, masih tersisa parkiran untuk mobilnya. Dari luar, jelas Kavy sudah melihat Dru tengah sibuk dibalik meja kasir. Dia menyambar tas oleh-oleh yang dia bawa untuk Drupadi.
Kavy membuka pintu kedai dan langsung tercium aroma masakan beraneka ragam.
“Selamat siang,” suara lantang Dru menyambut pelanggan yang baru memasuki kedainya. “Loh, Mas Kavy, kan?!” Suara Dru lebih tinggi dari ucapan selamat siangnya. Dia setengah terpekik karena terkejut dengan tamu yang baru saja datang.
Kavy yang masih di area pintu malah nyengir dengan sambutan Dru yang menyenangkan. Dia lalu berjalan ke arah Dru, sementara Dru juga keluar area kasir untuk menyambut tamunya. Mereka akhirnya bertemu di dekat meja prasmanan dan saling berjabat tangan erat seolah teman lama yang baru bertemu lagi. Kavy menyodorkan tas oleh-oleh yang dibawanya tadi. “Kata Antoni kamu suka rasa matcha, ya?”
“Eh, ya ampun, Mas, repot-repot banget. Ini kemarin jadi ke Bali?” dengan rasa agak sungkan Dru menerima tas yang berisi tiga kotak cokelat yang terkenal di Bali.
“Jadi. Bertiga dengan Antoni dan rekan kami satu lagi. Klien Bali ampun, deh, ribetnya.”
“Tapi menang?”
“Kamu kayak enggak tahu sekuat apa Antoni di industri ini?” Keduanya setuju bahwa Darmawangsa family hampir semuanya sukses di bisnis yang masing-masing mereka tekuni. Setelah memindahkan oleh-oleh dari Kavy ke lemari es, Dru membimbing Kavy agar langsung saja memilih makanan untuk bersantap siang.
“Jadi, ini semua karyamu, Dru?” Kavy memulai dengan menyentong nasi yang tak terlalu banyak. Ada dua pilihan di sini, nasi jagung dan nasi biasa. terkadang Dru juga menyediakan nasi merah. Kavy memilih nasi jagung karena sangat jarang sekali.
“Aku khusus hidangan otentiknya saja, Mas, seperti megono itu atau menu khusus di hari senin.” Dru membimbing Kavy ke bagian megono. “Kalau lain-lainnya bisa aku atau Nadia. Kami kadang gantian.”
“Duh, aku bingung, Dru, banyak banget pilihannya. Best selling hari ini apa?”
“Kamu wajib nyicipin megono, ya” sambil Dru menyendok megono ke piring Kavy. Tamunya hanya manut-manut saja. “Kamu suka pepes ikan cue, gak? Atau kalau makannya gak mau ribet bisa pakai cumi saja?”
“Cumi, deh. Sama itu tumis daun pepaya.”Kavy dengan antusias menunjuk wadah daun pepaya yang ditumis dengan teri medan. Dru langsung mmenyendok daun pepaya sesuai arahan.
“Mau apa lagi?”
“Sudah, deh. Ini penuh, loh.”
“Minumnya? Ada es jeruk, es teh manis yang tehnya asli Pekalongan, atau air mineral, dan air kemasan lainnya?”