Tidak ada yang mengingat kapan tepatnya Dsintransia terakhir kali digunakan. Yang tua-tua hanya bergumam bahwa arena itu sudah mati sejak kakek buyut mereka masih muda. Dsintransia adalah pusat permainan antar klan—tempat pertaruhan, adu nyawa, dan tawa para pemenang. Tapi kebrutalannya perlahan ditinggalkan. Para klan memilih damai. Dsintransia pun terkunci, terlupakan, tertimbun debu selama ber abad-abad.
Hingga suatu hari, klan Supernova mengguncang segalanya.
Mereka adalah klan yang tidak istimewa selama ribuan tahun. Tidak ada yang menganggap mereka ancaman. Tapi diam-diam, mereka memburu jejak yang hilang: garis keturunan Ancient One, klan tertua yang menjadi cikal bakal semua klan di alam semesta. Satu-satunya yang masih tersisa.
Mereka menemukannya. Di ujung dimensi yang tak terjamah, sesosok makhluk separuh debu separuh cahaya masih berdenyut lemah. Itulah sisa terakhir Ancient One. Dan Supernova berhasil menangkap wasiatnya. Namun yang disampaikannya bukanlah kebenaran.
***
Panggilan dikirim ke seluruh klan. Ke setiap sudut dimensi, ke peradaban yang lupa bahwa mereka pernah bersaudara. Isinya satu kalimat pendek:
"Wasiat terakhir Ancient One. Datang atau lenyap."
Tidak ada yang berani tidak datang.
Mereka berkumpul di ruang hampa yang dulu bernama Arena Pusat. Perwakilan dari klan-klan besar duduk di kursi tinggi. Klan menengah di bangku batu. Klan lemah—seperti klan Bumi—berdiri di paling belakang, hanya bisa melihat dari sela-sela bahu yang lebih besar.
Pemimpin Supernova berdiri di tengah. Wajahnya teduh, tapi matanya kosong.
Ia membacakan wasiat terakhir Ancient One. Kata-kata itu berat, penuh teka-teki. Intinya satu: "Perdamaian telah membuat kalian lemah. Yang kuat harus berkuasa, yang lemah harus tersingkir. Jika tidak, siklus kehancuran akan terulang."