Di antara luasnya daratan dan lautan Dsintransia, sebuah stadion berdiri. Tempat yang khusus dibangun untuk area satu lawan satu.
Sorakan menggema. Para penonton dari berbagai klan datang menyaksikan jagoan mereka masing-masing.
Stadion raksasa itu ada karena satu alasan: klan rendah. Klan tinggi sudah punya kekuatan sendiri. Tapi klan rendah? Mereka butuh bantuan. Butuh peningkatan khusus kalau mau melawan klan sedang atau tinggi di pertarungan satu lawan satu.
Tiba-tiba stadion gelap. Padahal masih siang. Semua terdiam.
Sebuah panggung terbang meluncur ke tengah lapangan. Di atasnya berdiri sesosok pria tinggi, kulit pucat, rambut putih. Tubuhnya kekar, wajahnya sangar. Lampu sorot menyorotinya dari segala arah.
"Dsintransia!" suaranya menggelegar tanpa pengeras suara. "Hidup atau mati kalian tergantung pada perwakilan masing-masing! Para penonton bedebah, selamat menikmati penderitaan! Permainan dimulai!"
Penonton bergemuruh. Ada yang bersemangat, ada yang putus asa.
Di bangku VIP, para petinggi klan duduk tegar. Tapi beberapa dari mereka diam-diam menelan ludah. Ada yang gemetar. Ada yang keringat dingin. Mereka tahu apa yang akan terjadi. Tapi tidak ada yang bisa berbuat apa-apa.
***
Sementara itu, di ruang tunggu perwakilan klan Bumi.
Ruangan sempit, persegi panjang. Sepuluh orang berkumpul di sana. Masing-masing sibuk dengan pikirannya sendiri. Termasuk aku.
Aku menyandarkan punggung ke tembok, tangan bersilang di dada. Mataku menerawang.
"Klan. Dsintransia. Pertarungan. Permainan." gumamku pelan. "Semua ini terlalu mendadak."
Layar transparan di tengah ruangan menampilkan peta pertarungan satu lawan satu. Aku mendekat, mengamati.
"Katanya ini cuma untuk klan rendah dan sedang. Yang dari klan tinggi punya arena sendiri. Lingkungannya lebih bebas, tanpa aturan kayak gini." Aku mengusap dagu.
"Hei, nak!"
Aku menoleh.
Seorang pria kekar berdiri di dekatku. Tingginya mungkin lima sentimeter di atasku yang cuma 167. Tubuhnya berotot, padat, sixpack terlihat jelas. Rambut hitam panjang disanggul ke belakang. Ia telanjang dada, memegang pedang besar.
Aku tersentak.
Gajah Mada?
"Bisa jelaskan apa yang sedang terjadi di sini?" tanyanya.
Aku menarik napas. Sekarang aku paham. Ini dia yang dimaksud para pemimpin klan Bumi sebagai "kartu andalan". Gajah Mada. Bukan cuma dia. Aku melirik ke sudut ruangan. Empat sosok lain yang tak kalah dikenal: Lapu-Lapu, Honda Tadakatsu, Harald Hardrada, dan Odysseus.
Mereka adalah pahlawan legendaris sepanjang masa. Dipilih dengan hati-hati. Lima orang terkuat dari klan Bumi.
"Maaf, Tuan," kataku. "Aku belum bisa menjelaskan semuanya. Tapi akan coba aku beri tahu garis besarnya."
"Garis besar?" Gajah Mada mengerutkan dahi.
"Pertama..." Aku menekan tombol di jam tanganku—pemberian pemimpin klan Bumi. Sebuah layar transparan baru muncul, menampilkan informasi tentang Dsintransia dan semua klan.
"Singkatnya, kita sedang dalam pertarungan yang mempertaruhkan nasib Bumi, Tuan."
Wajah Gajah Mada berubah serius. "Berarti ini serius."
"Kedua..." Aku ragu sejenak. "Kita sebenarnya berasal dari zaman yang berbeda. Tapi aku orang Indonesia. Sama seperti Tuan."
"Indonesia?" Gajah Mada mengerutkan kening. "Indonesia itu apa? Jangan coba-coba mengada-ada! Selama aku memimpin dalam penaklukan dan hubungan dagang ataupun kerajaan, tidak ada nama yang kau sebutkan itu."
Pedangnya terangkat, ujungnya mengarah ke leherku.
Beberapa orang di ruangan menoleh. Suasana tegang.
Tapi aku tidak bergerak. Wajahku tetap tenang.
Bukan karena berani. Tapi karena aku sudah terbiasa. Sebelum semua ini, sebelum terseret ke permainan kematian, aku sudah sering mendapat ancaman. Hampir ditusuk. Diracuni. Dianiaya. Semua itu membuatku belajar satu hal: panik tidak akan menyelamatkan siapa pun.