Dsintransia

Iman Ali Janovit
Chapter #3

Chapter 2 : Makhluk yang diremehkan

"Manusia itu lebih mudah untuk dibunuh!" Sebuah tusukan dengan kecepatan yang super cepat di daratkan tepat mengenai jantungku berada.

"Ya. Jika itu benar-benar manusia biasa tanpa sesuatu yang spesial." Balasku sembari menoleh ke arah Yuo.

JLEP!

Tusukan Yuo dengan cakar panjangnya berhasil mengenai targetnya. Darah segar mengucur deras dari dadaku dan juga mulutku. Tubuhku terjatuh ke tanah. Yuo tertawa puas. "Lihat! Sudah aku bilang, kan? Manusia lebih mudah untuk di bunuh!" Serunya yang membuat seluruh stadion menjadi bising.

Para penonton dari klan bumi langsung terduduk lemas sedangkan para petinggi klan bumi hanya bisa menghela nafasnya dan berusaha tetap sabar meskipun petinggi klan lain mulai mengejeknya.

Sementara itu di ruang tunggu, Gajah Mada, Lapu-lapu, Honda tadakatsu, Harald hadradra, Odysseus dan empat manusia lainnya menunjukkan reaksi yang berbeda-beda.

"Tamatlah sudah. Kita memang tidak ada harapan." Seorang polisi dari Korea mengacak-acak rambutnya.

"Aku ragu ini sudah berakhir." Odysseus berkomentar.

"Kau benar. Jika ini sudah berakhir, harusnya wasit langsung menghentikan pertandingan dan point langsung di berikan kepadanya." Balas Honda tadakatsu.

"Strategi! Mungkin kita semua telah di tipu." Lapu-lapu menyandarkan tubuhnya ke dinding sembari menyilangkan kedua tangannya dan meletakkannya di dada.

"Kenapa kalian tidak khawatir?" Tanya polisi dari Korea.

"Dari awal pertandingan di mulai, bocah itu sepertinya telah memperhitungkan banyak hal. Pertarungan ini baru dimulai." Harald hadradra menggenggam erat kapak di tangannya.

Gajah Mada tidak berkomentar, dia masih fokus memperhatikan layar stream pertandingan.

Yuo terdiam. Senyuman mengerikannya berubah, raut wajah kini berkerut. Dia merasakan sesuatu yang aneh. Kepalanya mulai melirik kesana-kemari dan itu membuat penonton serta para petinggi penasaran.

"Apa yang terjadi?"

"Bukankah seharusnya pertandingannya selesai?"

"Ha ha ha! Para penonton bangsat sekalian! Sepertinya kalian tidak bisa memperhatikan pertandingan dengan seksama! Mata kalian pasti telah buta! Ha ha ha!" caci Komentator pertandingan.

"Sebelum lanjut, agar penulis dan pembaca cerita ini sama-sama nyaman, izinkan komentator ini memberitahu namanya! Ralph! Namaku Ralph!" Serunya.

Ralph mengetuk-ngetuk tombol di gelang yang ia pakai, dan menampilkan sebuah kamera infra panas dan barulah hasilnya keluar.

"Lihat itu! Gerakan begitu cepat! Dia melesat dari bawah Tanah!" Seru Ralph.

Para penonton dari klan lain terkejut begitu pula para petingginya. Pihak klan bumi bernafas lega, tapi pemimpin klan bumi terkejut bukan main. "Bagaimana mungkin? Bukankah dia salah satu manusia yang lemah?" Gumamnya.

Aku bergerak cepat menggali tanah dan akhirnya berhasil menangkap kedua kaki Yuo dari bawah. Sensasi panas keluar dari arah telapak tanganku, membuat Yuo sedikit mengeram. Mark di tanganku semakin berdenyut, membuat tubuhku hampir meledak.

Yuo melepaskan tanganku dan melompat, menjaga jarak dariku. Aku akhirnya bisa melihat kembali dunia atas. Baju, rompi dan celanaku kotor bahkan rambutku berantakan seperti benang yang kusut.

"Bagaimana kau bisa berada di bawah sana?" Yuo memiringkan kepalanya. Membuatnya semakin terlihat menakutkan.

"Kau ingin tahu?" Tanyaku kemudian muntah darah. Aku berusaha untuk mengelap darah yang membekas di mulutku.

Yuo tersenyum. "Aku sudah tidak peduli dengan jawabanmu. Yang penting kau mati!" Yuo bergerak cepat. Teleportasi. Di klan lain teleportasi adalah hal wajar. Teknologi mereka maju sehingga untuk teleportasi dijadikan sebagai biologis yang ditanamkan kepada semua warganya yang baru lahir.

Yuo muncul dengan perhitungan beberapa centimeter dari tempatku berdiri. "Saatnya aku mencicipi dagingmu!"

JLEP!

Dadaku di tusuk oleh cakar Yuo hingga tembus ke luar punggungku. Aku mengeram kesakitan, darah kembali mengucur deras.

Semua penonton dari klan lain terutama klan venus kembali bersorak.

Namun Yuo kesal. Dia melepaskan tusukannya dan membuatku tubuhku terjatuh dan darah mengucur dengan derasnya. "Dasar manusia! Beraninya kau mempermainkanku!"

Penonton silih bertanya apa yang sebenarnya sedang terjadi dalam pertarungan tersebut.

Lihat selengkapnya