Mereka semua telah menunggu kedatanganku. Pertarungan tadi sangat melelahkan bagiku. Nafasku tersengal-sengal. Tidak bisa setiap saat aku menggunakan kekuatan kutukanku.
Kedua petugas yang mengantarku, sudah menghilang lebih dulu dari pandanganku. Kini aku berada di sebuah aula stadion dengan pilar-pilar dari pualam, ukurannya lima kali lebih besar dari pilar-pilar di duniaku.
"Kerja bagus, nak. Sekarang kita mendapatkan point pertama dan selangkah lebih dekat dengan keselamatan klan apalah itu. Intinya itu sangat penting bagi seluruh manusia." Gajah Mada memujiku tapi ekspresi wajahnya tidak berubah sama sekali.
"Orang sepertimu tidak pantas dapat pujian!" Aku menoleh ke arah sumber suara itu. Harald hadradra. Tubuhnya menyender ke pilar dengan kapak besar yang dia taruh di belakang punggungnya. "Kutukan?" Nada bicaranya merendahkan ku. "Di wilayah ku, cara itu tidak terhormat! Sekalipun itu adalah satu-satunya cara demi menyelamatkan nyawa!" Lanjut Harald.
Ucapannya memang menusuk, tapi aku sudah biasa mendengar cacian. "Kau benar." Jawabku pendek dengan tatapan sayu.
"Jangan dengarkan dia." Sebuah minuman kaleng dingin tiba-tiba menyentuh pipiku. Ulah Gadis Rusia yang seumuran denganku. "Namaku Masha. Ini minuman yang aku rasa bisa membuatmu lebih baik." Katanya kemudian menyodorkan minuman kaleng dingin kepadaku sembari tersenyum.
Aku ragu-ragu untuk mengambilnya. Namun saat ini aku sedang berkeringat basah dan sangat membutuhkan asupan cairan. "Terimakasih." Balasku sembari meraih minuman kaleng dingin yang disodorkan Masha.
Dengan cepat membukanya dan langsung meminumnya sampai habis. "Ini Melegakan." Gumamku.
Polisi Korea di sebrang ku menatapku dengan tatapan sinis. "Bisa-bisanya dia bersantai di saat begini?" Katanya dalam hati.
Sayangnya isi hatinya bisa aku dengar. Namun aku mengabaikan saja perkataan nya.
Kemampuan ini bukan karena aku pintar atau waskita. Ini ulah kutukan di tubuhku. Mereka menangkap energi negatif dari sekitar—iri, dendam, ketakutan, kebencian—lalu mengirimkannya ke pikiranku sebagai suara atau bisikan. Makanya aku bisa tahu isi hati orang, meskipun tanpa izin. Dan karena energi negatif orang-orang di Dsintransia sangat pekat, kutukanku dengan mudah mengumpulkan informasi tentang aturan permainan, rencana klan lain, bahkan rahasia para petinggi. Itu sebabnya aku paham banyak hal di sini, padahal aku pendatang baru.
"Zaka, aku ingin tanya, kenapa tubuhmu terlihat baik padahal tadi kalau aku tidak salah, kau muntah darah?"
"Aku telah meminum obatku."
"Obat? Obat apa?" Masha terlihat begitu bersemangat.
"A-aku tidak bisa menjelaskan." Aku memalingkan wajahku. Selama aku hidup dengan kutukan dari kecil, belum ada seseorang yang energik yang mengajakku bicara seperti ini.
"Beritahu aku, dong!" Gerutunya.
"Apa generasi-generasi baru di zaman sekarang selalu begini? Ini jauh berbeda dari generasiku." Gumam lapu-lapu yang sedang duduk dan bermeditasi.
"Ha ha ha! Kalian beruntung selamat di putaran selamat para keparat!" Sosok yang mirip dengan Ralph muncul di hadapan kami. Keberadaannya tidak bisa dirasakan.
"Oke, aku akan berikan semua informasi yang kalian butuhkan!"
Saat Talph mulai berbicara, kepalaku kembali terasa penuh. Suara-suara kutukan di dalam tubuhku bergantian berbisik. Ada yang menerjemahkan maksud tersembunyi di balik kata-kata Talph, ada yang mengingatkan tentang jebakan, ada pula yang sibuk mengumpulkan informasi dari energi negatif para petinggi klan yang mengawasi dari layar.
"Dengar, Nak. Target poin 1000 itu jebakan untuk klan kecil."
"Mereka ingin kita terburu-buru dan bertarung tanpa strategi."