Setelah melewati lorong bawah tanah yang terasa seperti berjam-jam, akhirnya kami muncul ke permukaan.
Matahari Dsintransia bersinar dengan warna keemasan yang aneh. Bukan seperti matahari di rumah. Langitnya ungu muda, dengan awan-awan tipis yang bergerak cepat. Kami berdiri di tengah padang rumput yang luas—savana yang indah, dengan rerumputan setinggi pinggang dan pepohonan aneh dengan daun berwarna perak dan ada juga yang warnanya biru tua.
"Wah..." Masha bergumam di sampingku. "Cantik juga."
"Jangan tertipu keindahannya," kata Odysseus. "Semakin indah sesuatu, semakin mematikan juga ia."
Tepat saat dia bicara, sebuah layar transparan besar menyala di depan kami. Membentang seperti papan reklame raksasa. Talph muncul di dalam layar itu, menyeringai.
"Selamat datang di babak berikutnya, para keparat! Sekarang kalian sudah berada di area bebas. Tidak ada arena. Tidak ada aturan ketat. Kalian bisa berburu poin di mana saja, kapan saja, dengan cara apa pun. Tapi ingat—kalian juga bisa diburu!"
Layar itu berganti, menampilkan daftar aturan dan sistem poin.
Aku membaca cepat, sambil sesekali mendengar bisikan kutukan di kepalaku yang menerjemahkan kalimat-kalimat rumit.
***
Begini aturan mainnya, secara sederhana:
· Poin utama: Setiap klan harus mengumpulkan poin. Target awal 1000, tapi berkat usulku sudah naik jadi 5000. Klan yang tidak mencapai target saat waktu habis akan dihancurkan. Sepuluh klan dengan poin tertinggi juga selamat, sisanya tetap dihancurkan.
· Cara dapat poin:
· Duel satu lawan satu, menang dapat 100, kalah minus 100.
· Membunuh naga dapat 50 poin.
· Membunuh perwakilan klan lain di luar duel resmi dapat 500 poin (tapi ini berisiko karena bisa memicu perang klan).
· Melawan kecurangan: jika ada yang curang (misal 2 lawan 1) dan pihak yang dicurangi menang, dapat 225 poin. Pihak yang curang kalau menang hanya dapat 50.
· Membunuh makhluk dewa atau penguasa Dsintransia dapat 75-150 poin.
· Waktu malam: Semua pertarungan harus disetujui kedua belah pihak. Tidak ada serangan paksa.
· Hak istimewa: Setiap kali klan mengumpulkan 225 poin (akumulasi, bukan sekali capai), bisa menambah aturan baru.
Tapi kami sudah pakai hak pertama untuk menaikkan batas poin.
· Peringatan: Poin bisa minus. Kalau minus terlalu dalam... yah, bisa tewas sebelum waktu habis. Atau kehancuran yang manis bagi klan.
Aku menghela napas. Sistem yang kejam, tapi adil dalam cara yang aneh.
Di kepalaku, siluman harimau bergumam, "Ada yang tidak mereka tulis di aturan itu, Nak. Klan besar sudah menyiapkan jebakan."
Seperti apa? tanyaku dalam hati.
"Kau akan segera lihat."
Begitu layar menghilang, kami mendengar suara gemuruh.
Bukan dari langit. Dari tanah.
"Lari!" teriak Odysseus.
Sesosok robot raksasa—tidak, setinggi manusia biasa, tapi bentuknya seperti baju zirah mekanik—mendarat di tengah-tengah kami. Suit baja berwarna emas dan merah, dengan mata biru bercahaya. Di tangannya, sebuah meriam kecil yang jelas bukan mainan.
"Perwakilan klan Matahari, Mata," suara dari dalam suit itu terdengar dingin. "Klan Bumi. Kalian tidak akan melangkah lebih jauh. Aku akan dapat point lebih banyak dari kalian sekaligus!"
"Benda apa itu?!" Harald mengangkat kapaknya, tapi matanya menunjukkan kebingungan. Bahkan dia tidak tahu.