Dsintransia

Iman Ali Janovit
Chapter #6

Chapter 5 : Perburuan

Matahari telah tergelincir, tengah hari telah berlalu, ini saatnya kami semua bergerak. Naga. Itulah tujuan kami semua saat ini.

"Memutar lebih baik."

"Payah, ada lawan juga disana."

"Kita terobos saja dan lawan manusia dalam ziarah robot itu!

"Bisa jangan terlalu berisik, gak? Aku tahu kalian memberikan informasi yang bagus, tapi saat ini aku sedang dalam pemulihan." Kataku di dalam hati kepada kutukan-kutukanku lalu aku menyandarkan kepalaku ke dinding batu goa.

"Zaka, mengambil resiko itu penting juga." Ujar siluman harimau.

"Sebelum mencari keberadaan naga, kita harus menentukan jalan mana yang kita pilih?" Odysseus sedang menarik-narik tali busur miliknya yang telah dibuatnya dengan cepat menggunakan alat seadanya.

Aku memperhatikan Masha. Ia tampak hendak mengatakan sesuatu, tapi sulit. Wajahnya menyimpan semangat tinggi yang sukar diucapkan.

"Zaka," panggilnya pelan, lalu duduk di sampingku.

"Ya?"

"Aku... punya usulan." Matanya menatap lurus ke mataku. Bukan malu-malu. Tapi serius.

Aku mengangguk. "Coba aku dengar."

Masha mengambil napas. "Menurutku, kita jangan lewat timur."

Semua yang mendengar menoleh.

"Timur?" Odysseus mengangkat alis. "Kenapa?"

"Karena naga dan makhluk lainnya ada di barat. Bukan timur."

Gajah Mada berhenti memukul pedangnya. "Kau yakin?"

Masha mengangguk tegas. "Aku tahu alam. Sejak kecil aku hidup di hutan sendirian. Hutan jauh di atas gunung, dengan cuaca yang selalu berubah. Aku belajar membaca angin, tanah, jejak, bahkan bau." Dia menunjuk ke luar gua. "Dari sini, bau belerang dan tanah hangus tercium dari barat. Timur bau tanah basah dan air menggenang—itu bekas kawanan, bukan naga."

Semua terdiam.

"Aku juga bisa membaca pergerakan awan. Di barat, awan bergerak tidak teratur, seperti ada sesuatu yang besar terbang di bawahnya. Timur justru tenang."

Lapu-Lapu menurunkan pedangnya. "Gadis ini tahu apa yang dia bicarakan."

Odysseus mengusap dagu. "Penjelasanmu masuk akal. Tapi dari mana kau tahu semua ini jika kau hidup sendiri di hutan?"

Masha tersenyum tipis. "Karena di hutan, kalau salah baca tanda, kau mati."

Keheningan menyelimuti gua. Aku melihat Han menelan ludah. Remaja SMP itu berhenti meringkuk, matanya mulai mendengar.

Aku memejamkan mata sejenak. Di kepalaku, kutukan mulai berbisik.

"Dia benar. Timur ada gerombolan. Banyak musuh berkumpul."

"Sepuluh, mungkin dua belas perwakilan dari klan kecil yang bergabung."

"Mereka tidak bergerak. Menunggu. Menjebak."

Lihat selengkapnya