Tepat saat kami berpisah, Harald Hardrada dan Odysseus langsung kedatangan tamu.
Mata.
Dia terbang di udara dengan baju zirah robotnya. Cahaya dari telapak kaki dan punggungnya menyala biru, membuatnya melayang seperti burung baja di senja yang mulai gelap.
"Kalian, hanya berdua? Ini akan buang-buang. Aku hanya akan dapat point yang kecil. 50? Bukan tujuanku."
Ingat peraturan Dsintransia? Setiap perwakilan berhak mengubah atau menambahkan peraturan. Dan tanpa Aku dan yang lainnya sadari, ternyata sudah ada lagi satu peraturan yang d tambahkan saat kami berdiskusi.
Aturan baru :
• Kini, mengincar klan rendah hanya aka mendapatkan 50 point dari satu orangnya.
"Entah sudah berapa lama sejak aku bertarung," katanya, suaranya dalam dan berat seperti ombak utara. "Setelah bisa kembali ke dunia, walau hanya untuk permainan ini... jiwa bertarungku semakin menggebu-gebu."
Odysseus tidak ikut berlari. Ia memanjat pohon perak di pinggir savana, menarik tali busur yang baru dibuatnya. Bukan busur biasa. Tapi cukup untuk mengganggu. Cukup untuk mengingatkan musuh bahwa di mana ada kelemahan, di situ ada panah.
"Melawan yang di atas lumrah kita," ucap Odysseus setengah bergumam. "Jika alami, mungkin pertarungan ini bisa masuk ke dalam sejarah. Tapi sejarah akan ditulis oleh mereka yang selamat. Dan yang selamat suka menuliskan dusta."
Dia tertawa kecil. Humor yang hanya dimengerti oleh dirinya sendiri.
"Kalian banyak bicara!" Mata menggeleng-gelengkan kepalanya.
Harald tidak memberi waktu lebih. "Baiklah! Langsung saja kita mulai!" Harald berlari.
Bukan lari biasa. Ini lari seorang raja yang pernah memimpin pasukan melintasi laut dingin, yang kapaknya lebih berat dari hati musuh-musuhnya. Tanah savana bergetar di setiap langkahnya. Tangan kanannya sudah siap mengayunkan kapak bermata dua—kapak yang pernah membelah perisai di Stamford Bridge, yang pernah menebas puluhan lawan di lautan utara.
"CLLANG!"
Mata mengangkat tangan. Perisai energi biru muncul, menahan kapak. Tapi Harald tidak berhenti. Ayunan kedua, ketiga, keempat—setiap pukulan membuat perisai itu bergetar seperti genderang perang.
Odysseus melepas tali busur. Panah melesat—bukan ke arah Mata, tapi ke tanah di sampingnya. Debu beterbangan. Mata menoleh sepersekian detik. Itu cukup.
Harald menendang perutnya. Mata terpental, tapi tidak jatuh. Zirahnya menyerap benturan, meninggalkan bekas retak kecil di permukaan.
"Kau tidak bisa melukai aku dengan tendangan biasa," kata Mata, suaranya mulai sedikit terganggu.
"Tapi aku bisa membuatmu pusing," balas Harald. "Dan pusing adalah awal dari kekalahan."
Odysseus memanah lagi. Kali ini mengenai bahu Mata. Tidak tembus. Tapi cukup membuat zirah itu mengeluarkan percikan api kecil.
"Dia kepanasan," bisik Odysseus pada dirinya sendiri. "Perisainya mengeluarkan panas setiap kali dipukul. Kita buat dia terlalu panas, dia akan melambat."
Pertarungan berlangsung intensif. Menit berganti menit.
Harald maju terus seperti ombak. Tidak kenal lelah. Tidak kenal mundur. Setiap ayunan kapaknya adalah cerita: tentang para jarl yang mengikutinya, tentang lautan yang ia taklukkan, tentang kematian yang ia elakkan berkali-kali.
Odysseus bergerak dari satu pohon ke pohon lain, tidak pernah di tempat yang sama dua kali. Panahnya bukan untuk membunuh—tapi untuk mengganggu. Untuk membuat Mata kehilangan fokus. Untuk memberi Harald celah.
Itulah yang ia lakukan di Troya. Bukan ingin dilihat sebagai yang terkuat, tapi yang paling cerdik.
Mata mulai terlihat frustrasi. Setiap kali ia hendak menembak balik, Harald sudah di depan matanya. Setiap kali ia hendak teleportasi, Odysseus sudah memanah ke tempat ia akan mendarat.
"Kalian merepotkan," kata Mata.
Dia berhenti. Menutup mata.