"Bukankah seharusnya Harald dan Odysseus menghadangnya? Bagaimana bisa Mata mengejar kita?" tanya Masha dengan wajah khawatir. Matanya bergerak cepat, mencari-cari jawaban di antara kami.
"Mungkin mereka dikelabui. Atau lebih buruk... mereka telah mati," jawab Gajah Mada. Realistis. Dingin. Tapi itulah yang harus kami hadapi.
Ketiga tokoh sejarah lainnya sudah mengambil posisi masing-masing. Honda di depan dengan perisai terangkat. Lapu-Lapu di sayap kiri, kampilan siap diayun. Gajah Mada di kanan, keris buatannya sudah di genggam erat. Tidak ada keraguan dalam diri mereka. Mereka sudah mati sekali. Mati lagi? Bukan hal baru.
Tapi di kepalaku, kutukan kembali mulai ribut.
"Dia sama, tapi berbeda."
"Harald dan Odysseus masih hidup. Aku bisa merasakannya dari sini."
"Lihat matanya! Bukan biru seperti awal bertemu, itu merah!"
"Apa maksud kalian?" tanyaku dalam hati.
Siluman harimau menjawab dengan suara berat yang hanya bisa kudengar: "Zaka, ada yang tidak bisa kau rasakan. Tapi kami bisa. Dia adalah satu tubuh, dua jiwa. Kembar. Yang satu di sini, yang satu di sana. Nama mereka Ma dan Ta."
"Begitu, kah?"
"Ya. Dan yang ini... lebih ganas."
Ta tidak memberi kami waktu berpikir.
"Meskipun hanya ada delapan dan empat ratus poin, aku akan terus maju!" teriaknya.
Dia menembakkan misil dari tangan zirahnya. Misil-misil kecil itu melesat ke arah kami seperti hujan besi.
"Benda terbang apa itu?" Gajah Mada tetap waspada, matanya mengikuti gerakan misil.
"Menghindar!" teriakku sekencang mungkin.
Formasi yang awalnya rapi berantakan dalam sekejap. Satu, dua, hingga enam misil terus ditembakkan. Tanah savana meletus di mana-mana. Rumput-rumput berwarna pink terbakar. Debu beterbangan menutupi langit ungu.
Honda Tadakatsu mencoba membelah misil dengan tombaknya. Begitu besi menyentuh benda itu—BLAARR! Ledakan keras menghantam perisainya. Honda terpental, jubahnya robek di beberapa tempat, kulit di lengannya melepuh merah.
"Ini bom?" tanyanya bingung, matanya menyipit menahan sakit.
"Jika begini terus, tamatlah kita!" Lapu-Lapu terus bergerak, melakukan akrobatik di antara ledakan. Kampilannya sesekali menangkis serpihan besi panas.
Gajah Mada tidak tinggal diam. Berlari sambil memungut batu-batu berukuran sedang, ia melemparkannya ke arah misil. BAM! BAM! BAM! Misil-misil itu meledak di udara, menyala seperti kembang api yang mengerikan di langit senja.
Tapi Ta belum selesai.
"Saatnya mode pemusnah," ujarnya dingin.
Misil berhenti.
Ta keluar dari zirah robotnya.
Aku terkejut. Kupikir yang keluar adalah makhluk aneh, namun ternyata itu seorang gadis remaja. Rambut panjang keemasan, kulit putih, wajah cantik tapi tidak seperti manusia biasa. Matanya merah menyala. Di pipi kirinya, ada sebuah tanda aneh—seperti ukiran sirkuit yang menyatu dengan daging. Permanen.
Dia bisa terbang meskipun tanpa zirah. Mungkin kekuatan klan Matahari.
Zirahnya tidak jatuh ke tanah. Zirah itu berubah—terpecah menjadi sepuluh bagian, masing-masing melayang di udara, berubah bentuk menjadi drone kecil dengan moncong meriam.
"Musnahlah kalian, bersama klan kalian!"
Drone-drone itu menembak. Bukan misil. Laser. Tipis, panas, mematikan. Sinar merah menyala menyapu tanah seperti cambuk. Satu tebasan—pohon perak terbelah dua. Tebasan lain—tanah bergaris hitam, menguap.
Kami berlarian seperti tikus yang sebentar lagi tamat dimakan kucing. Wu, kakek tua itu, hampir terkena lasernya. Han jatuh tertunduk, tanganya berada di atas kepala. Remaja SMP yang namanya kalau tidak salah, Taruya, menangis histeris di balik batu besar. Masha meraih lenganku, menarikku ke belakang.
"Zaka! Kita tidak bisa terus begini! Kita bisa mati konyol!"
Masha benar.
Aku berhenti lalu melepaskan pegangan tangan Masha dan berlari ke arah sebaliknya Masha berlari.
"Zaka, jangan konyol!" Seru Masha. Rambut kuning panjangnya tertiup oleh angin bekas ledakan laser.
"Rato," panggilku dalam hati.
"Ya, Nak?"
"Aku butuh perlindungan. Untuk semua orang."
Siluman harimau terdiam sejenak. Lalu menghela napas panjang—suara yang hanya bisa kudengar.
"Kau belum pulih. Darahmu masih sedikit. Jika kau memaksakan diri..."
"Aku tahu. Tapi tidak ada pilihan lain." Aku menarik keris. Melukai telapak tanganku sendiri dengan keris itu, darah keluar deras—aku membuat sebuah logo harimau dengan cepat dari darah tersebut.
"Tudung Kehampaan."
Aku membisikkan kata itu, bukan sebuah mantra. Hanya... permintaan. Kepada kutukan. Kepada Rato. Kepada mereka semua.
Dari tubuhku, bayangan merambat keluar.
Bukan bayangan biasa. Hitam pekat. Gelap seperti warna kegelapan dasar laut. Bayangan itu menyebar ke segala arah, naik ke atas, membungkuk—lalu membentuk kubah. Setengah lingkaran besar yang menutupi kami semua. Wu, Han, remaja SMP, Masha, Gajah Mada, Honda, Lapu-Lapu—semua masuk ke dalam.
Laser Ta membentur kubah hitam itu. Tidak tembus.
Bahkan tidak bergeming.
Kubah itu seperti memakan cahaya. Laser yang tadinya membakar tanah, sekarang lenyap begitu menyentuh permukaan hitam. Tidak ada ledakan. Tidak ada percikan. Hanya... diam.
"Zaka!" Masha menjerit. "Kau—"
Aku jatuh berlutut. Hidungku mengucurkan darah. Bukan setetes—tapi deras. Seperti keran yang tidak bisa ditutup. Aku semakin kekurangan darah. "Ini... Aku masih bisa."
"Darahmu!"
"Jangan konyol!
"Kau tidak perlu memaksakan diri!" teriak kutukan lain di kepalaku.
Aku tersenyum miring meskipun menahan pusing luar biasa. "Bukankah setiap saat disana... Aku selalu dihadapkan dengan kematian?"
"Kau tidak mengerti!"
"Kami khawatir!
"Sebaiknya batalkan saja Ruang Kehampaan."
Tubuhku semakin panas. Sekujur badan seperti direbus. Tudung Kehampaan memakan banyak energi. Darahku... Entah berapa lama lagi aku bisa bertahan.
Aku merogoh saku celana. Pil hijau. Tinggal dua butir lagi.
Aku menelannya. Pahit. Tapi membantu. Darah di hidung berhenti mengucur, tapi masih menetes pelan.
Masha melihat. Matanya membesar.
"Zaka... itu obat yang kau minum tadi? Yang tidak bisa kau jelaskan?"
Aku tidak menjawab. Hanya mengangguk pelan.