Dsintransia

Iman Ali Janovit
Chapter #9

Chapter 8 : Api Hitam

Mataku perlahan terbuka. Saat itu juga aku sadar bahwa aku sedang berada di ruang hampa. Ruang hampa itu berbeda. Hitam dan putih bercampur seperti yin dan yang.

"Apa aku sudah mati?" gumamku

"Kutukan-kutukanku..." Aku refleks memegang kepalaku. Suara-suara itu menghilang.

"Mereka... Hilang? Jadi benar aku sudah mati?" Aku melayang-layang di ruang hampa hitam putih itu tanpa sebuah kepastian.

"Yah, ini lebih baik. Padahal sebelum permainan gila ini terjadi... Aku hanya terus sendirian." Aku tertawa, tapi hatiku merasakan sedikit rasa seperti ditusuk.

"Merinding, ya? Entah kenapa setiap dia lewat aku selalu mual."

"Kayaknya dia punya ilmu hitam."

"Anaknya juga aneh."

Suara-suara yang seharusnya sudah aku lupakan kembali bergema di ruang hampa itu. Tidak hanya suara... Rekaman seperti video muncul entah darimana.

"Bukankah seharusnya pikiranku menampilkan hal-hal yang indah saat kematian sudah hampir terjadi? Apakah ini kenangan indahku? Melihat diriku yang penyendiri dibicarakan?" Aku menggerutu.

Satu per satu kenangan itu berputar di sekitarku. Aku melihat diriku yang lebih muda—duduk sendirian di kantin, di bangku taman, di pinggir lapangan. Tidak ada yang duduk di sampingku. Tidak ada yang mengajak bicara. Hanya bayanganku sendiri yang menemaniku.

"Sudah, berhenti. Aku tidak ingin melihat ini lagi."

Kenangan itu tidak berhenti. Malah semakin banyak. Semakin jelas. Semakin keras suara-suara ejekan, bisikan, tawa yang tidak pernah sampai ke telingaku dulu karena aku pura-pura tidak mendengar.

Tapi sekarang, di ruang hampa ini, aku tidak bisa berpaling.

"Sudah—"

Ssssssss...

Api hitam muncul.

Bukan dari luar. Dari dalam tubuhku. Dari dadaku. Api hitam merambat perlahan, membakar kenangan-kenangan itu satu per satu. Kaca-kaca pecah meleleh, suara-suara menghilang, dan rasa sesak di dadaku mulai berubah menjadi panas.

"Apa—"

Sebuah suara terdengar. Jelas. Dalam. Bukan dari kutukan. Bukan dari kenangan. Tapi dari suatu tempat yang tidak bisa aku kenali.

"Ada sesuatu yang masih bisa kau ubah."

Aku terkesiap. "Siapa?"

"Apapun itu, teruslah hidup..."

Api hitam semakin membesar. Membakar sekujur tubuhku. Tapi anehnya, aku tidak merasakan sakit seperti terbakar. Aku merasakan... hidup. Seperti ada yang menyuntikkan energi baru ke dalam setiap sel tubuhku.

"Teruslah hidup!"

Lihat selengkapnya