Sinar matahari perlahan merambat mengenai wajahku, membangunkanku seketika. Odysseus dan Harald terlihat sedang sibuk dengan kesibukannya masing-masing. Harald berlatih dengan kapaknya—sedangkan Odysseus mengamati lingkungan sekitar.
"Dunia yang indah pasti selalu fana," ujarnya. Odysseus. Samar, seperti sedang bicara pada dirinya sendiri.
"Sebentar lagi kita akan berangkat ke barat. Lawan apa yang sudah menunggu kita selain naga? Ketidaktahuan mengharuskan kita untuk terus berlatih." Harald menebang satu pohon hingga tumbang dengan ayunan kapaknya yang kuat. Pohon perak itu jatuh dengan suara gemerisik, daun-daunnya beterbangan.
Di kepalaku, kutukan mulai ribut.
"Kau kesiangan, nak."
"Kita harus berangkat!"
"Sekarang musuh lebih merata."
"Mereka menyebar ke segala arah!"
"Terima kasih untuk informasinya. Tapi, pertama-tama aku harus cari bahan untuk dijadikan pakaian." Aku meregangkan otot-ototku. Badan masih pegal, tapi jauh lebih baik dari kemarin.
Di saat yang bersamaan, aku teringat dengan apa yang aku alami saat di ruang hampa. Pikiranku sekarang dipenuhi oleh peristiwa tersebut. Aku menatap langit ungu yang berpadu dengan warna pink. Kontras yang sangat tidak biasa. Indah, tapi aneh.
Aku menghembuskan napas panjang.
"Apa di antara kalian tahu tentang api hitam?" tanyaku kepada kutukan-kutukanku.
Sunyi sejenak.
"Api hitam?"
"Tidak pernah dengar."
"Kami tahunya hanya api biru dan api biasa."
Rato menjawab dengan suara masih lemah, "Pertama, kami—terutama aku—lega karena kau masih hidup. Tapi api hitam itu... kami tidak bisa menjawabnya, Nak."
"Baiklah. Terima kasih. Istirahat kembali, Rato."
Aku berdiri, lalu berjalan menuju ke arah Odysseus. Paling logis dan sedikit tenang daripada harus berdebat dengan Harald yang masih tidak menyukaiku karena kutukan.
"Pagi, Odysseus. Sepertinya kau sedang mengamati alam."
Dia tidak menjawab. Diam. Matanya terus menatap pepohonan perak yang bergoyang pelan.
Dedaunan dan rerumputan yang berwarna silver, oranye, serta pink tertiup angin. Savana itu menjadi lebih indah karena hal itu, membawa suasana tenang di dalamnya. Mungkin ini karena aku sedang berada di dunia lain.
"Apa yang telah berdiri di atas tanah, maka akan kembali ke tanah. Sederhana, tapi manusia sangatlah sombong. Mungkin aku juga termasuk," kata Odysseus sambil mengusap batang pohon yang teksturnya berbeda dari pohon di klan Bumi.
Aku tidak tahu harus menjawab apa. Jadi aku hanya diam di sampingnya.
Beberapa saat berlalu, Odysseus menghela napas.
"Kau tahu, Nak," katanya tanpa menoleh. "Selama dua puluh tahun aku berusaha untuk pulang. Aku kehilangan semua kapal, semua anak buah. Aku berbohong, bahkan sampai menyamar."
"Kenapa kau cerita ini padaku?"
"Seseorang yang bisa membaca sifat akan tahu... Kau juga ingin pulang, tidak, maksudku adalah kau ingin menemukan jalan pulang... Permainan ini bahkan kau tidak ingat meminta kau diikut sertakan, kan? Kau juga terus bertarung demi klan atau lebih tepatnya umat manusia meskipun tidak ada seorangpun yang menginginkanmu." Odysseus sedikit tergelitik oleh perkataan. "Itu langka, nak."
Odysseus mengeluarkan sesuatu dari balik jubahnya. Sebuah baju. Bukan baju biasa—bahan tebal, warna gelap, dengan tali-tali di beberapa bagian.
"Pakai ini," katanya, melemparkan baju itu ke arahku.
Aku menangkapnya, bingung. "Kau... dari mana dapat ini?"
"Aturan baru."