Dsintransia

Iman Ali Janovit
Chapter #11

Chapter 10 : Si Licik

"Kita harus menghindari keributan sebisa mungkin," bisik Odysseus.

"APA YANG KALIAN BISIKKAN, HAH?!"

Makhluk kalajengking setengah manusia dengan dua kepala langsung menyambar dengan ekornya. Sengat melengkung itu melesat cepat, meninggalkan jejak ungu di udara.

Harald mengangkat kapaknya. "CLLANG!"

Sengat membentur kapak, tapi getarannya membuat Harald mundur tiga langkah. Tanah di bawah kakinya retak.

"Kuat juga, manusia tua!" teriak kepala depan.

"Manusia tua? Aku baru dua puluh delapan—" Harald tidak sempat selesai. Ekor kalajengking menyambar lagi. Kali lebih cepat. Harald menghindar dengan terjatuh ke samping, tapi sengatnya tetap mengenai lengan kirinya.

Ssssssst!

Bukan luka biasa. Dari goresan kecil itu, darahnya berubah menjadi hitam. Cepat. Harald menggertakkan gigi, tapi kakinya sudah mulai lemas.

"Racun," bisik Odysseus. "Cepat, Zaka! Bawa dia ke belakang!"

Aku meraih lengan Harald. Berat. Tapi aku seret dia ke balik batu besar. Di belakang, makhluk itu sudah mulai menyerang lagi.

"Kalian tidak akan kabur!" Kepala depan tertawa. Kepala belakang menambahkan, "Racun kami melumpuhkan dalam tiga menit!"

***

Di balik batu:

Harald tergeletak. Wajahnya pucat, bibirnya membiru. Luka di lengannya tidak besar, tapi warna hitam terus merambat ke bahu.

"Aku... tidak bisa gerakkan tangan kananku..." Harald mengerang.

Aku panik. "Kau Masih bisa bertahan, kan Viking?"

"Tenang!" Odysseus melemparkan sesuatu dari tas kapasitas tak terbatas. Sebuah botol kaca kecil berisi cairan bening. "Obat penawar racun. Aku tidak menyanggka dalam tas perlengkapan, obat-obatan juga ada."

Aku menangkap botol itu. "Seharusnya ini cukup."

"Sejak aku melihat savana ini penuh dengan bunga berwarna aneh. Biasanya, warna mencolok selalu berkaitan dengan racun." Odysseus sudah berbalik, menghadap makhluk itu lagi. "Sekarang, urus dia. Jangan biarkan dia mati. Aku akan hadapi makhluk ini sendiri."

"Sendirian?!"

"Kau meragukanku, Nak?" Odysseus tersenyum. Bukan senyum sombong. Tapi senyum seorang yang sudah melihat dewa marah dan masih hidup. "Aku sudah menghadapi lebih buruk dari ini.

***

Odysseus tidak menyerang frontal. Dia bergerak seperti bayangan—menghindar, berguling, bersembunyi di balik batu. Setiap kali ekor kalajengking menyambar, dia sudah tidak di tempat itu.

"Tikus pengecut!" teriak kepala depan.

"Pengecut? Lebih tepatnya Cerdik," jawab Odysseus. "Ada perbedaan."

Dia memanah. Panah mengenai dada makhluk itu—tidak tembus, tapi cukup untuk membuatnya kesal.

"Kau tidak bisa melukai kami dengan panah kayu!" Kepala belakang tertawa.

"Tidak perlu melukai. Cukup mengganggu."

Odysseus terus bergerak. Matanya tidak hanya melihat serangan—tapi pola. Setiap kali ekor menyambar, kepala depan dan belakang bergantian melihat ke arah yang berbeda. Tapi ada jeda. Setengah detik. Di antara pergantian fokus, makhluk itu buta.

"Setengah detik," pikir Odysseus. "Cukup untuk menusuk."

Tapi di mana titik lemahnya?

Dia mengamati lebih jauh. Ekor, sengat, kedua kepala, empat lengan—semua bergerak dalam ritme yang sama. Seperti tarian. Seperti kode.

Lihat selengkapnya