Dsintransia

Iman Ali Janovit
Chapter #13

Chapter 12 : Patung-patung

Perjalanan ke barat terasa lebih panjang dari yang aku kira.

Setelah pertarungan melawan makhluk kalajengking dua kepala, kami bertiga berjalan tanpa banyak bicara. Odysseus di depan, matanya terus mengamati setiap sudut savana. Harald di belakang, kapak di bahu, sesekali menggerutu tentang lukanya yang sudah sembuh tapi masih terasa aneh. Aku di tengah, mencoba mengatur napas yang masih belum stabil.

"Berapa lama lagi?" Harald menggerutu.

"Kita baru berjalan dua jam," jawab Odysseus tanpa menoleh. "Sabar."

"Kesabaran tidak pernah menjadi kekuatanku."

"Aku tahu itu."

Aku tidak ikut bicara. Pikiranku masih sibuk dengan api hitam. Bagaimana aku bisa mengeluarkannya? Kenapa sekarang? Dan kenapa tubuhku tidak terasa terkuras seperti saat aku memakai kutukan? Biasanya, setiap kali kutukan bekerja, darahku pasti berkurang. Tapi api hitam itu... berbeda. Aku tidak kehilangan darah. Aku hanya merasa panas. Panas yang aneh. Seperti ada yang membakar dari dalam, tapi tidak menyakitkan.

"Kau memikirkannya lagi?" bisik Rato pelan. Suaranya masih lemah.

"Kau bisa tahu apa yang aku pikirkan?"

"Dasar! Kau tahu, kan? Bahwa kebingungan menyebabkan keraguan, keraguan adalah energi negatif. Makanya isi pikiranmu sangat mudah dibaca."

Aku tersenyum tipis. "Benar juga. Tapi tidak apa. Aku tidak apa-apa. Kau istirahatlah, Rato."

"Kau pembohong ulung, Nak."

Rato tidak bicara lagi. Tapi aku tahu dia masih waspada.

***

Savana perlahan berubah. Rumput pink mulai jarang, digantikan tanah cokelat yang keras dan retak. Pepohonan perak yang dulu rimbun, kini hanya tersisa batang-batang hangus. Beberapa masih berdiri, beberapa tumbang berserakan seperti ada badai besar yang melanda.

"Aneh," gumam Odysseus.

"Apa yang aneh?" tanyaku.

"Pohon-pohon ini. Ada yang terbakar, ada yang seperti terkena ledakan es."

Aku perhatikan lebih dekat. Odysseus benar. Di satu sisi, batang pohon hangus menghitam. Di sisi lain, ada lapisan es tipis yang masih menempel di tanah. Es dan api. Bersamaan.

"Pertarungan besar telah terjadi di sini," kata Harald. "Mungkin beberapa jam yang lalu."

Aku mengangguk. "Apakah itu yang lain?"

"Kita harus cepat," Odysseus mempercepat langkah.

Kami berlari. Tanah retak di bawah kaki, kadang terasa panas, kadang dingin. Aneh. Alam ini tidak tahu harus jadi apa.

Di kejauhan, langit berubah.

Tidak lagi ungu. Tidak lagi pink. Langit di sini kelabu, seperti mendung tebal menutupi matahari. Tapi tidak ada hujan. Yang ada hanya angin dingin yang menusuk tulang.

"Rasanya seperti musim dingin di Norwegia," gumam Harald.

"Tapi tidak ada salju disini," balas Odysseus.

"Justru itu yang menjadikannya aneh."

Kami terus berlari. Bekas-bekas pertarungan semakin jelas. Tanah retak lebar, bebatuan hancur, dan di beberapa tempat, ada genangan air yang membeku. Esnya tidak jernih. Tapi hitam keabu-abuan.

"Odysseus, lihat!" Aku menunjuk ke depan.

Di balik kabut tipis, beberapa sosok berdiri. Tidak bergerak.

Aku memicingkan mata. Jantungku berdetak lebih kencang.

"Jangan..." bisik Harald.

Kami mendekat. Perlahan. Kaki terasa berat.

Dan di sanalah mereka.

Gajah Mada. Lapu-Lapu. Honda Tadakatsu. Wu. Han. Bocah SMP yang namanya Taruya dan Masha.

Mereka membeku. Seluruh tubuh mereka tertutup es tebal. Bukan es biasa—es itu berwarna kebiruan, berkilat, dan dari dalamnya aku bisa melihat wajah mereka. Wajah yang membeku saat sedang berusaha melindungi diri. Gajah Mada dengan keris terangkat. Lapu-Lapu dengan kampilan di depan dada. Honda dengan perisai setengah terbuka. Masha dengan tangan terentang ke depan—seperti hendak melindungi seseorang di belakangnya.

"Tidak..." Aku berlari ke arah Masha.

Lihat selengkapnya