Angin dingin berhembus, menusuk hingga ke tulang-tulang. Beruntung Odysseus telah memberikan beberapa pakaian hangat kepada kami semua dari tas kapasitas tak terbatas.
"Makhluk itu masih misterius." Gajah mada menggigit daging sapi yang telah di bakar.
"Kalian saja yang mungkin terlalu lemah. Naga... Itu seharusnya sangatlah mudah untuk dikalahkan," tanggap Harald kemudian berdiri dan menatap langit biru berhias awan putih yang indah.
"Senang sekali kau berbicara. Mudah mengatakan sulit membuktikan." Balas gajah Mada kemudian melanjutkan makannya.
"Dia asing."
"Makhluk itu penghuni asli."
"Kekuatannya sangat mengerikan."
"Itu mungkin baru dugaan kalian, kan? Lagipula disini katanya makhluk apapun yang bahkan sudah punah atau mitos di bumi, delapan puluh persen benar-benar ada." Aku menyandarkan kepalaku ke batang pohon.
Angin berhembus melewati anak rambutku. Aku berganti mengamati telapak tanganku. Bekas melepuh telah menghilang. Cepat datang dan cepat pergi. Cara kerja penyembuhan api hitam mungkin seperti itu.
"Hei, kau!" Han memanggilku dari bawah pohon.
"Bukankah seharusnya kau ikut makan?" Tanya Han.
"Makan? Tidak... Porsi makan diriku tidak banyak. Aku kebanyakan puasa." Jawabku.
"Merepotkan." Han mengacak-acak rambutnya.
Han kemudian duduk lalu menyandarkan tubuhnya ke batang pohon, "Kau tahu? Saat aku dan tujuh lainnya berlari—sekilas aku menoleh kebelakang lalu melihatmu yang sedang bertarung. Tindakanmu itu gila. Kenapa kau sampai sejauh itu? Padahal kita yang disini bahkan jika menang nantinya, kita tidak akan pernah di ingat."
Aku menatap ke arah hamparan Padang rumput yang indah sekaligus suram karena sebagian daerahnya telah hangus, "Aku lahir tanpa mengenal apa yang seharusnya sudah ada. Dengan membawa kutukan ini. Di tempat ini, setidaknya aku bisa melakukan hal yang sangat baik yang tidak bisa aku lakukan di bumi." Jawabku kemudian menghembuskan nafas panjang.
"Aku tidak paham apa yang kau bicarakan. Namun—" Han berdiri lalu melemparkan buah apel padaku. Aku pun tentu menangkapnya, "Jika kau memiliki hal yang berat. Ceritakanlah padaku. Aku rasa kau perlu itu." Han tersenyum.
"Kesanku padamu telah berubah. Sekarang aku sadar. Kita disini bukan karena kehendak kita. Namun, bukankah sebagai orang yang mewakilkan klan yang sama harus saling membantu?"
"Ya. Mungkin kau benar." Jawabku.
Han mengangguk kemudian dia berjalan kembali menuju ke perapian.
"Kenapa dengannya?"
"Si polisi jadi baik? WTF!"
"Kutukan kok pake bahasa gaul manusia?"
"Manusia juga bisa jadi setan."
Aku tertawa kecil karena perdebatan kutukan-kutukanku, "Sudahlah... Yang penting tidak ada dari tim kita yang memiliki niat buruk." Aku memakan apel yang diberikan oleh Han.
***
Setelah makan, semua orang mulai beristirahat. Ada yang tidur, ada yang berlatih, ada yang bercakap-cakap kecil.
Aku tidak bisa duduk diam.
Mataku mencari-cari sesosok rambut kuning yang tidak ada dalam kumpulan di perapian itu.
Masha.
Dia berada di tepi tebing, agak menjauh dari rombongan. Tangannya memegang dedaunan, kadang mencium bau tanah, kadang melihat ke langit. Matanya serius.
Aku berjalan mendekat. Perlahan. Tidak ingin mengejutkannya.
Tapi rumput kering di bawah kakiku berdecak.
Masha menoleh. Kaget. Kakinya tersandung batu kecil.
"Ah—!"
Dia jatuh. Pantatnya menyentuh tanah. Wajahnya merah padam, bukan karena kedinginan.
"Zaka?! Ka—kau muncul begitu saja!"
Aku mengulurkan tangan. "Maaf. Aku tidak sengaja."