Dsintransia

Iman Ali Janovit
Chapter #15

Chapter 14 : Yang Dendam

Melelahkan. Ternyata perjalanan menuju ke arah sumber kekuatan besar yang aneh memerlukan waktu dua jam. Aku berpikir bahwa permainan ini telah berlangsung selama tiga hari.

Aku menekan tombol di gelang yang sekaligus jam, sebuah papan peringkat sekaligus pemberitahuan dari sistem permainan yang menyuruh klan bumi untuk membuat peraturan baru karena telah meraih 225 point.

daftat peringkat:

-Klan bumi : 450 (225 point)

"Ini bahaya. Klan kami semakin tergeser. Sudah ada sepuluh klan yang hampir mencapai seribu point dari maksimal point yaitu lima ribu."

-Klan Milkstar : 1 (900 point)

-Klan supernova : 2 (850 point)

-Klan Garo : 3 (800 point)

Aku menghembuskan nafas panjang, "Ini mungkin akan berat. Keputusanku untuk menambah batas maksimal point sangatlah tepat—" aku menatap ke arah lembah, "omong-omong... kenapa aku begitu penasaran dengan kekuatan itu?" Gumamku.

Aku melangkah maju ke depan. Sebuah gua tersembunyi berhasil aku temukan di gunung itu. Jalan masuknya ditutupi oleh tanaman merambat yang asing bagiku.

"Di depan sana."

"Kekuatannya semakin besar."

"Berhati-hatilah."

"Aku Paham." Ujarku.

Ketika aku hendak melangkah dan melanjutkan ekspedisi—sebuah hal yang anehnya kenapa aku harus memikirkannya.

Saat melihat papan peringkat, aku melihat papan peringkat klan matahari yang berada di peringkat 50 dengan total point 500. "Klan matahari... Satu perwakilan mereka telah mati. Berarti satunya masih ada?"

Aku menekan kembali tombol di gelang yang sekaligus jam. Kali ini adalah daftar perwakilan yang tersisa dari masing-masing klan. Satu jam yang lalu saat dalam perjalanan, peraturan ini telah ditambahkan.

Penambahan Aturan :

- Kini daftar jumlah perwakilan klan bisa di lihat oleh semua pemain.

"Ini buruk. Selain potensi balas dendam, klan kami mungkin akan jadi sasaran empuk bagi klan besar dan sedang lainnya."

Ketika aku hendak melangkah masuk ke dalam gua, sebuah bayangan melesat dari langit.

BLAARR!

Tanah di sampingku meledak. Batu-batu kecil berhamburan, beberapa darinya mengenai punggungku. Aku berguling ke samping, menghindar dari serangan kedua yang hampir mengenai kepalaku.

"Kalian pikir klan kalian bisa kabur?" Suaranya dingin. Penuh dengan kebencian.

Aku menoleh ke atas. Di langit, sesosok pria melayang. Rambut putih panjang, wajah tirus dengan mata sipit berwarna emas. Ia mengenakan armor berwarna merah gelap, seperti tanah yang terbakar. Di tangannya, sebilah pedang panjang—tapi bukan pedang biasa. Bilahnya hitam kemerahan, dengan ukiran-ukiran rumit seperti darah yang membeku. Dengan tulisan yang aksennya tidak bisa aku pahami

"Klan Matahari?" bisikku.

"Raq," jawab pria itu. "Perwakilan terakhir dari klan Matahari. Dan kau... kau bocah yang telah membunuh Ma dan Ta."

Aku tidak bisa menyangkal. "Mereka mati dalam pertarungan yang adil."

"Adil?" Raq tertawa pahit. "Mereka saudaraku. Satu-satunya keluarga yang aku miliki selama tiga ratus tahun. Dan kalian membunuhnya dalam pertarungan dua melawan tiga."

Tiga ratus tahun. Mataku membelalak. "Kau sudah hidup selama itu?"

"Klan Matahari memperpanjang umur dengan teknologi. Aku sudah bertarung bahkan sejak klan bumi masih dalam zaman primitif." Raq mengangkat pedangnya. "Dan sekarang, aku akan mengakhirimu disini!"

Di kejauhan, Talph muncul di layar transparan raksasa. Wajahnya berseri-seri—bukan karena senang, tapi karena sensasi.

"Para penonton Keparat! Kita mendapatkan tontonan istimewa! Perwakilan terakhir klan Matahari, Raq, yang berusia tiga ratus tahun, melawan bocah dari klan Bumi, Zaka! Siapa yang akan menang?! Siapa yang akan mati?! Mari kita semua saksikan kepahitan ini!"

Para penonton di arena pusat bergemuruh. Petinggi-petinggi klan mulai mengalihkan perhatian mereka ke layar yang menampilkan pertarungan di gunung itu.

Di bangku VIP, Dogra tersenyum tipis. "Menarik. Klan rendahan melawan klan kasta tinggi. Ini akan menjadi hiburan yang seru."

Passil, pemimpin klan Bumi, menggenggam erat kursinya. "Buktikan kepada semuanya bahawa mereka salah, nak. Aku sudah melihatmu bertarung... Kau adalah jalan menuju dunia yang baru."

***

Di gunung, aku tidak punya banyak waktu untuk berpikir.

Raq menyerang dengan kecepatan yang murni miliknya Pedangnya berayun, meninggalkan jejak api merah di udara.

Aku menghindar. Tapi pedang itu panjang, dan Raq menggunakannya seperti perpanjangan tangan sendiri.

"CLLANG!"

Kerisku menahan tebasan pertama. Tapi getarannya membuat lenganku mati rasa.

"Dasar bocah!" Raq menekan pedangnya ke bawah. "AKU TIDAK AKAN PERNAH MEMAAFKANMU, MA DAN TA, BERANINYA KAU MEREBUT ORANG YANG SANGAT AKU SAYANGI!!"

"Bahkan mereka juga tidak ingin bertarung!" Aku menahan. "Kami tidak ada pilihan lain! Kau pikir permainan apa yang sedang kita mainkan?!"

Lihat selengkapnya