Ribuan pedang kecil melesat ke arah kami.
Bukan satu per satu. Tidak ada jeda. Seperti hujan besi yang jatuh dari langit, hanya saja polanya mendatar, mengincar tulang dan juga daging dari tubuh kami.
Aku mengangkat keris. "CLLANG! CLLANG! CLLANG!"
Tiga pedang terpental. Tapi yang keempat mengenai lenganku. Goresannya merobek kulitku kembali. Aku menahan sakit akibat sabetan pedang makhluk itu.
Di sampingku, Raq bergerak layaknya angin. Pedang panjangnya berputar, membentuk lingkaran api merah. Setiap pedang kecil yang menyentuh lingkaran itu akan meleleh, jatuh ke tanah menjadi cairan logam panas.
"Dasar makhluk sialan!" Cela Raq. "Berapa banyak pedang yang kau punya?!"
Makhluk itu tidak menjawab. Dia hanya menggerakkan tangannya, dan pedang-pedang baru muncul dari udara. Tidak ada habisnya.
"Kita tidak bisa bertahan selamanya!" teriak Raq.
"Ini memang buruk!" Timpalku.
Tubuhku mulai terasa berat. Luka di lengan, di pipi, di paha—semuanya mengeluarkan darah. Memang darahnya tidak banyak, tapi itu cukup untuk membuatku pusing.
" Aku harus menggunakan api hitam lagi." Gumamku.
"Tidak boleh!" Larang Rato.
"Resikonya sangat tinggi!"
"Jika kau melakukannya, kau akan mati! Aku akan mati! Dan kita semua akan mati!"
Aku menggertakkan gigi.
"Tidak ada cara lain."
Aku menurunkan keris. Berdiri tegak. Membiarkan beberapa pedang kecil melesat ke arahku—menggores kembali beberapa bagian tubuhku.
"Ssssssst!" Api hitam mulai muncul di tanganku.
Aku kembali menepuk tanganku dengan keras.
BLARR!
Api hitam menyembur dari celah-celah tanganku.
Pedang-pedang kecil yang mendekatiku kini meleleh sebelum menyentuh kulit. Benda-benda itu tidak tampak seperti meleleh—melainkan seperti di makan oleh api tersebut.
Makhluk itu berhenti. Matanya yang biru dan merah menatapku dengan ekspresi baru. Bukan marah ataupun terkejut, tapi penasaran.
"Api hitam..." bisiknya lagi. "Sudah lama aku tidak melihatnya."
"Ada apa dengan api hitam?!" teriak Raq. Dia masih sibuk memblokir pedang-pedang yang terus berdatangan.
"Bukan urusanmu, manusia berumur tiga ratus tahun," jawab makhluk itu dingin.
Dia mengangkat tangan. Pedang-pedang kecil yang tersisa berhenti di udara. Lalu... jatuh. Semua. Bersamaan. Seperti boneka yang talinya diputus.
Raq menghela napas lega. "Akhirnya..."
"Kalian pikir tadi itu serangan terakhirku?"
Makhluk itu tersenyum namun bukan senyuman yang ramah. Senyum itu adalah ciri khas seorang pemburu yang bosan dengan umpan dan ingin langsung menerkam mangsanya.
Sayap di punggungnya—satu sisi es, satu sisi api—mulai bergerak. Tidak mengepak, tapi berputar perlahan. Sayap kiri dan kanan melepaskan diri dari punggungnya, lalu melayang ke belakang tubuhnya. Mereka berputar, membentuk sebuah lingkaran. Vertikal. Seperti cincin raksasa yang berdiri tegak di udara.
Di dalam lingkaran itu, tidak ada es ataupun api. Yang ada hanyalah cahaya emas pekat dan sinarnya bisa menyilaukan pandangan.