Dsintransia

Iman Ali Janovit
Chapter #18

Chapter 17 : Tekad

Serangannya begitu menjengkelkan. Serangan kami hampir tidak mempan.

Raq semakin marah, kesabarannya setipis tisu.

Dia berteriak—bukan karena takut, tapi karena amarahnya. Tubuhnya mulai memanas. Dari sela-sela zirahnya, cahaya merah mulai menyembur. Api matahari. Api yang membakar dirinya sendiri.

"Mode Sunny!" teriak Raq. "AKU AKAN KERAHKAN SEGALANYA!"

Tak hanya zirah. Kulitnya mulai memerah, lalu menghitam, merambat hingga ke ujung-ujung jari. Tapi dia tidak peduli. Pedang panjangnya menyala—bukan dengan warna merah, tapi putih keemasan. Panasnya membuat udara di sekitarnya bergelombang.

Makhluk itu mengangkat alis. "Sungguh? Kau benar-benar ingin memgalahku lalu mengeluarkan jurus yang mungkin bisa membunuhmu sendiri? Naif sekali."

"Kematian bukan untuk ditakuti, takutlah jika kau berdiri di dunia, tapi tidak ada satupun hal baik yang kau lakukan!" Raq melesat. "DEMI KLANKU!" Teriak Raq.

Kecepatannya luar biasa. Tidak ada satupun mata uang yang dapat menangkapnya. Tubuhnya meninggalkan jejak api di udara. Dalam sekejap, dia sudah di depan makhluk itu. Pedangnya mengayun namun bukan ke arah tubuhnya, tapi justru mengarah ke arah sayap.

"CLLANG!"

Sayap kiri yang terbuat dari es retak. Tidak hancur, tapi retakannya parah.

Makhluk itu terkejut. "Kau—"

"Satu lagi!"

Ayunan kedua. Sayap kanan yang terbuat dari api—seperti ranting, sayap itu mudah sekali Raq patahkan. Potongan sayap jatuh ke tanah, berubah menjadi genangan air dan bara yang kemudian padam.

Raq terhuyung. Tubuhnya hangus di beberapa tempat. Zirahnya meleleh. Tapi dia tersenyum puas.

"Bagaimana... rasanya... merehkan lawanmu? Sekarang sayapmu sudah tidak ada lagi." Raq memaksakan diri untuk tertawa.

Makhluk itu tidak menjawab. Dia diam. Lalu... Tiba-tiba gerakannya cepat.

Terlalu cepat.

Aku tidak melihat apa yang terjadi. Hanya mendengar suara benda tajam yang berhasil menembus sesuatu. Dan akhirnya aku melihatnya... pedang panjang makhluk itu sudah menembus dada Raq. Dari depan ke belakang.

Raq terbatuk. Darah keluar dari mulutnya. "Hei... ini lumayan sakit juga..."

"Kau mengganggu ritualku," kata makhluk itu dengan nada dingin. "Kalian berdua sangat mengganggu."

Dia menarik pedangnya. Tubuh Raq terjatuh— tergeletak di lantai gua, di dekat altar. Matanya masih terbuka, tapi sudah tidak lagi bisa bergerak. Nafasnya berhenti.

Dia sudah mati.

Aku terdiam. Tidak bisa berkata apa-apa. Raq—musuh yang beberapa jam lalu ingin membunuhku—kini tewas di depanku. Aku tidak tahu apa motifnya hingga bertekad bahkan mengeluarkan seratus persen kekuatannya hanya demi mematahkan sayap makhluk itu.

Makhluk itu menatapku lalu berganti ke arah mayat Raq—lalu ke arah altar, di mana sebuah bola berwarna emas berkilauan, bulat, berdiameter sekitar setengah meter. Terapung di tengah altar, berputar perlahan.

"Ritual rutinku terganggu," kata makhluk itu. "Bola itu sangat penting bagiku. Setelah ritual ini selesai, aku akan menggunakan kekuatan seratus persenku untuk menghabisi semua pemain di dunia ini. Dsintransia akan menjadi kuburan kalian semua."

Aku membelalak. "Apa?!"

"Kalian pikir permainan ini hanya tentang klan dan poin? Tidak. Aku sudah lama menunggu. Dsintransia adalah tempat indah dulunya. Namun mereka merusaknya. Mereka mengubahnya menjadi arena judi. Sudah saatnya giliranku untuk menghancurkan mereka semua."

Dia berjalan mendekat ke arahku.

"Tapi kau, bocah dengan api hitam... aku tidak perlu membunuhmu karena itu hanya akan membuang waktuku. Pergilah sekarang! Jangan ganggu ritualku lagi!"

Aku mengepalkan tangan. Jika dia menghabisi semua pemain, maka semua klan akan mengalami kekacauan yang lebih parah. Gajah Mada. Lapu-Lapu. Honda. Odysseus. Harald. Masha. Wu. Han. Taruya. Semua.

"Tidak."

Lihat selengkapnya