Dsintransia

Iman Ali Janovit
Chapter #19

Chapter 18 : Tercuri

Zhangzian duduk di altar. Kedua sayapnya baru tumbuh dan masih kecil, seperti tunas yang belum mekar. Matanya yang biru dan merah kini redup, menyimpan sesuatu yang berat. Kabut biru di sekeliling kami masih membentuk gambaran seorang wanita dan bayi—samar, seperti mimpi yang tidak pernah benar-benar diingat.

"Klan Ancient one," Zhangzian memulai. Suaranya tidak lagi dingin. Suaranya seperti seorang yang sudah terlalu lama menyimpan luka. "Mereka adalah klan pertama yang melakukan penjelajahan ke seluruh alam semesta. Dan Dsintransia... adalah klan pertama yang mereka kunjungi."

Aku dan Raq duduk di lantai gua, tidak berani memotong. Raq masih memegang dadanya yang dulu tertusuk, meskipun lukanya sudah sembuh.

"Awalnya hanya sekadar kunjungan. Klan Ancient one menyebarkan pengetahuan—cara bercocok tanam, cara membangun kota, cara membaca bintang. Beberapa dari mereka memutuskan menetap di Dsintransia. Menikah dengan penduduk asli. Memiliki anak. Kami... kami tumbuh bersama."

Zhangzian menghela napas. Kabut biru di depannya berubah, menampakkan pemandangan sebuah kota yang indah. Bangunan-bangunan menjulang tinggi dengan berbagai bentuk, sungai berwarna keperakan mengalir di antara pepohonan yang daunnya bercahaya.

"Selang beberapa waktu, teknologi semakin berkembang... lalu portal antar klan tercipta. Para penduduk klan ancient one jadi sering datang. Klan-klan lain juga ikut berkunjung. Dsintransia menjadi pusat perdagangan, pusat ilmu, pusat segalanya. Kami hidup damai. Aku... aku ditugaskan menjadi penjaga. Aku adalah yang di percayai oleh yang terdahulu. Raja naga Zhangzian, itulah julukanku sebagai penjaga negeri ini."

Dia tersenyum pahit.

"Dan di sanalah aku bertemu dengannya. Ras Manusia. Dari klan Bumi. Namanya... Lian."

Kabut biru berubah. Sosok wanita itu menjadi lebih jelas. Wajahnya bulat, matanya sipit, rambutnya hitam panjang. Dia tersenyum. Bukan sebuah senyum yang manis, melainkan senyuman yang tulus.

"Kami menikah. Dikaruniai seorang bayi laki-laki. Namanya... Yuan."

Kabut biru menampakkan seorang bayi mungil dalam gendongan. Tanganku perlahan hendak menyentuh kabut yang memiliki bentuk tersebut, namun lenyap seketika.

"Namun, kebahagiaan tidak oernah abadi."

Zhangzian mengepalkan tangannya.

"Suatu hari, orang-orang dari klan dari ancient one menghilang secara mengejutkan tanpa ada satupun orang yang mengetahui alasannya. Mungkin mereka sudah bosan atau mungkin mereka bertujuan untuk mencari dunia baru kembali. Atau bisa saja mereka semua telah mati, yang jelas, mereka pergi. Dan Dsintransia... ditinggalkan."

Kabut biru berubah lagi. Kota yang indah mulai kusam. Bangunan-bangunan tidak terawat. Sungai keperakan berubah keruh.

"Klan-klan lain yang dulu datang sebagai tamu, kini mulai bertindak semena-mena. Mereka iri. Dsintransia hampir sempurna dalam segala hal. Alam yang indah, ekonomi yang maju, ilmu pengetahuan yang luar biasa. Mereka ingin semuanya. Awalnya hanya bermain. Taruhan kecil-kecilan. Namun lama-kelamaan itu menjadi sebuah kebiasaan buruk."

Zhangzian berdiri. Tepat pada saat itu juga, kabut berubah menjadi warna merah. Kecepatan perubahan itu membuat bulu kudukku merinding.

"Giliran begini merinding!"

"Kita yang kutukan dan hantu saja dia tidak ada merindingnya!"

"Diam dulu kalian!" Seruku di dalam hati.

"Mereka memanfaatkan para petinggi Dsintransia yang mulai terpecah belah. Taruhan berubah menjadi perjudian. Perjudian berubah menjadi perampokan. Dan perampokan... berubah menjadi pembantaian."

Aku merasakan sesuatu di dalam dadaku. Sebuah perasaan geram sekaligus simpati. Di klanku, pemandangannya tidak jauh berbeda dengan apa yang di ceritakan oleh Zhangzian.

"Suatu hari, saat aku sedang melakukan tapa untuk pengawasan... Itu semua terjadi. Energi jahat dirasakan olehku, aku bergegas menuju sumber energi tersebut."

Lihat selengkapnya