Dsintransia

Iman Ali Janovit
Chapter #20

Chapter 19 : Raja Naga

Aku dan Raq mencoba mencari jalan keluar. Baru saja kami berdua sadari, jalan menuju keluar gua benar-benar tidak ada. Kami terperangkap.

"Ini buruk!" Raq mengayunkan pedangnya ke dinding gua yang seharusnya tidak ada. "Kita bisa mati konyol disini!" Raq masih berusaha keras.

"Orang itu beruntung!"

"Dia keluar sebelum raja naga mengamuk."

"Tidak ada jalan lain."

"Pasti ada." Selaku kepada para kutukan di dalam diriku.

"KALIAN YANG MENYENTUH TANAH INI DAN MENGOTORINYA, TIDAK AKAN AKU MAAFKAN!" Zhangzian masih mengamuk di aula gua sana.

Tanah terus bergetar dengan hebat. Langit-langit gua nyaris runtuh. Tiap-tiap pilar tanpa kami berdua sadari, keempat pilar dengan simbol dan tulisan yang memiliki warna, perlahan-lahan bersinar semakin terang.

"Tidak ada mayat. Aku tidak bisa melakukan teleportasi." Aku mengacak-acak rambutku.

"Panik tidak akan menyelesaikan masalah." Ujar Raq yang masih berusaha membuat jalan keluar.

Aku memikirkan sejenak perkataan Raq. Aku menarik nafas kemudian meraba permukaan dinding gua, "Aku akan coba kutukan ini... sudah lama aku tidak menggunakannya."

Aku memegang pundak Raq—membuatnya terkejut, "Apa yang akan kau lakukan? Lepaskan tanganmu! Aku sedang membuat jalan keluar!" Serunya sembari mencoba melepaskan peganganku.

"Aku minta tolong padamu, mbakkun."

"Kau bicara dengan siapa, hei?!" Raq menatapku heran.

"Hi hi hi! Mbak jadi terhura. Sudah lama sekali kamu pinjam kekuatan kutukan mbak." Mbakkun pura-pura menangis.

"Tiga... Dua... Satu... "

SLUP!

Aku dan Raq berhasil keluar dari gua tersebut. "Bagaimana kau melakukannya? Kau melakukan teleportasi?" Tanya Raq sedikit takjub.

"Tidak." Jawabku.

BRUK!

Aku terjatuh dengan posisi tengkurap, "Aku memakai kutukan menembus objek dan sebagai bayarannya, anggota tubuhku tidak akan bisa bergerak dalam jangka waktu yang dekat." Sambungku.

"Kekuatanmu ternyata punya resiko yang unik." Komen Raq

"Jangan memanggilnya kekuatan, aku tidak punya kekuatan, bahkan jika kau tahu, aku hanya meminjam kemampuan para kutukan dengan bayaran yang sudah siap aku tanggung." Sanggahku.

"Kenapa kalian bisa keluar dari gua itu?" Sesosok lelaki dengan jubah hijau dan topi model norak muncul di hadapan kami berdua.

Sosok itu memegang sebuah bola emas. Bola emas milik Zhangzian.

"Kau—" Raq menunjuk ke arah sosok tersebut dengan ekspresi wajah berkerut karena kesal.

"Itu milik Zhangzian, kenapa kau mengambilnya?!" Tanya Raq semakin marah, "Gara-gara kau dia jadi mengamuk dan berubah menjadi wujud sebenarnya."

"Kau tanya kenapa?" Sosok tersebut tersenyum miring. "Kudengar ada sebuah buku tua yang menceritakan tentang Dsintransia... "

"Buku?" Gumamku dengan suara nyaris tidak terdengar karena wajahku mencium rumput.

"Aku Khan dari klan Autopi. Klan penuh ilmu pengetahuan. Secara tidak sengaja aku menemukan buku tentang Dsintransia. Dan di dalamnya di beritahukan bahwa kekuatan dari jiwa seorang naga akan membuat seseorang yang berhasil mengambilnya menjadi tidak terkalahkan." Ujar Khan sembari mengetuk-ngetuk bola emas milik Zhangzian.

"Klan penuh ilmu pengetahuan?" Raq hampir meludah. "Kau tahu apa yang kau lakukan? Seluruh Dsintransia bisa hancur karena ulahmu!"

Khan hanya tertawa kecil. "Hancur? Bukannya Tempat ini memang sudah hancur? Aku hanya menginginkan apa yang aku inginkan."

Dia mengetuk-ngetuk bola emas itu lagi. Cahaya keemasan memancar, membuat bayangannya terlihat menyeramkan.

"Aku tidak akan membiarkanmu membawa pergi itu!" Raq melompat, pedangnya terhunus—tapi sebelum pedangnya sempat mengayun, dua sosok muncul dari balik bayangan Khan.

Seorang wanita tinggi dengan rambut biru, memegang tombak listrik. Seorang pria botak dengan tubuh kekar, tangan besi mengepal.

"Jangan coba-coba," kata wanita itu dingin. "Kau tidak akan bisa menang dalam pertarungan dua lawan satu."

"Tiga lawan satu," koreksi Khan. "Tapi aku tidak akan ikut. Cukup mereka berdua untuk menghabisimu."

Raq menggeram. Tapi dia mundur selangkah. Bukan karena takut—tapi karena sadar diri. Dia baru saja hidup kembali dan menjadikan lebih waspada dari sebelumnya.

Aku masih tergeletak di tanah. Anggota tubuhku belum bisa digerakkan. "Mbakkun, berapa lama lagi?"

"Lima menit, ya. Sabar."

"Lama amat!"

"Kamu pinjam kekuatan mbak kan? Ingat, mbak bayarannya gak bisa gerak lama."

Aku menghela napas. Di kepalaku, kutukan mulai ribut

"Itu bola emas... Luar biasa auranya."

"Energinya kayak punya Zhangzian, tapi lebih... Amis."

"Jangan salah sangka. Itu jiwa istri dan anaknya."

"Kasihan."

"Diam, kita sedang tidak punya masalah dengan itu."

Aku memejamkan mata sebentar. Kutukan-kutukanku memang kadang tidak tahu waktu.

Lihat selengkapnya