SPLASH!
Gedan melesat cepat dengan kekuatan zirah Peraknya. Pedang besarnya terangkat—mengayun—menebas Khan. Percobaan ke dua puluh kalinya.
Namun masih tetap sama. Khan itu bukanlah yang asli.
"Lama-lama ini membuatku jengkel." Dengus Gedan.
Angin berhembus semakin kencang, beberapa waktu lalu, tepatnya saat Khan berubah menjadi tangan kanan Zhangzian. Dia langsung memperbanyak dirinya, tangannya merapal sesuatu, lalu masing-masing bayangannya menembakkan sinar ungu secara brutal hingga membuat kami berempat kewalahan untuk menghindarinya.
Aku, Raq dan Harald bersembunyi di balik batu besar yang ketebalannya sepuluh kali lipat dari batu biasa.
"Naga saja sudah merepotkan, di tambah dengan tangan kanan? Pertarungan ini menarik namun sekaligus menyebalkan." Ujar Harald.
"Bahkan perwakilan terkuat klan Supernova saja tidak bisa menang mudah. Apalagi kita yang di bawahnya. Kita ini ibarat kecoak bagi mereka." Raq ikut berkomentar.
"Ucapkanlah halo pada dunia roh, nak!"
"Masih terlalu cepat untuk itu!"
"Setiap masalah pasti ada solusi, nak."
Para kutukanku benar. Aku harus berpikir dan menemukan cara meskipun itu hanya membuat celahnya.
"Mungkin agak rumit." Gumamku sembari memegangi daguku.
"Tunggu sebentar... " Aku terdiam.
"Kau kenapa, bocah?" Tanya Harald.
"Kita dalam permainan. Maka etnisitas di luar permainan kita seret masuk ke dalam permainan." Jawabku.
"Apa yang kau bicarakan? Naga itu dan tangan kanannya, bagaimana bisa kau seret ke dalam permainan jika di antara mereka saja tanpa materi?" Raq menunjuk ke arah Zhangzian dan juga Khan.