Dsintransia

Iman Ali Janovit
Chapter #23

Chapter 22 : Sengit

Khan melakukan teleportasi tepat ke depan kami. Tangannya kembali teracung ke depan. Pisau cahaya kembali muncul di udara.

"Pisau Cahaya—lesatan beruntun."

"SZTT! SZTT! SZTT!"

Raq tidak bergeming. Tubuhnya memanas—cahaya merah keluar dari sela-sela zirahnya. Mode sunny. Pedangnya berputar, membentuk perisai api. Setiap pisau cahaya yang menyentuh perisai itu meleleh, jatuh ke tanah seperti hujan logam cair.

"Kau pikir kau bisa melukaiku dengan serangan yang sama?" Raq tersenyum tipis.

Khan tidak menjawab. Dia hanya menggerakkan tangan, dan pisau-pisau baru muncul. Tidak ada habisnya.

Harald tiba-tiba melompat, bukan ke arah Khan, tapi ke samping. Memutar, lalu mengayunkan kapaknya dari titik buta.

"CLLANG!"

Khan memblok dengan tangan kirinya. Tapi tangan kiri itu bukan tangan biasa. Sekarang sudah berubah menjadi cakar hitam mengkilap, dengan kuku panjang beracun.

"Kau kira aku tidak sadar?" Khan tersenyum miring.

"Ya mungkin saja. Tapi bagaimana dengan yang satu ini!"

Harald sengaja melepaskan kapaknya. Tidak butuh waktu lama, di langsung kembali mengayunkan kapaknya dari bawah. Sisi kapak yang tumpul mengenai perut Khan.

"DOR!"

Khan terpental. Terbatuk. Darah hitam keluar dari mulutnya.

"Kalian... merepotkan."

***

Pertarungan berlangsung sengit.

Raq menyerang dari depan, pedangnya berputar seperti kipas api, "Demi klanku, dan demi kedua adikku, Ma dan Ta!" Seru Raq.

"Kendalikan emosimu dalam pertarungan. Jika kau mati, harapan dan tekad yang kau bawa akan hilang bersamamu dengan sia-sia." Harald menyerang Khan dari samping, kapaknya mengayun bergantian, kadang kiri, kadang kanan, kadang dari bawah.

"Apa yang kau tahu tentang diriku. Pikirkan dirimu sendiri." Ujar Raq sembari mengangkis serangan pisau-pisau cahaya milik Khan.

Tapi Khan tidak tinggal diam.

Dia bergerak seperti bayangan. Teleportasi ke kiri, ke kanan, ke atas, kadang menghilang lalu muncul di belakang. Tangan kanannya menembakkan pisau cahaya, tangan kirinya yang sudah menjadi cakar menebas sesekali.

"GRAAKK!"

Khan tidak bisa dihentikan. Harald menjerit. Tangan kirinya—putus. Bukan terpotong bersih, tapi robek. Cakar Khan mengoyak lengan kirinya dari bahu hingga siku. Darah menyembur.

"Kau tidak apa?" Tanya Raq memastikan dengan wajah datar namun sedikit menyimpan simpati.

"Jangan... pedulikan aku!" Harald menekan lukanya dengan tangan kanannya. Wajahnya pucat, tapi dia masih berdiri. "Aku masih punya satu tangan lagi!"

Dia mengangkat kapaknya dengan tangan kanan. Satu tangan. Tapi ayunannya tidak kalah kuat. Bahkan lebih kuat. Mungkin karena marah.

"Bajingan! Rasakan ini!"

"BLAARR!"

Kapak Harald mengenai bahu Khan yang masih mode manusia. Darah hitam menyembur. Khan terhuyung, mundur beberapa langkah.

Di sisi lain, Raq tidak lebih baik.

Zirah anti panasnya retak di sana-sini. Pedang panjangnya yang indah kini penuh goresan. Ujungnya sedikit bengkok. Di beberapa tempat, bilahnya mulai retak.

"Sial," gumam Raq. "Pedang ini... bukti perjalanan kami."

"Kau akan segera menyesal nanti!" Harald menerjang lagi.

Tapi Khan sudah beradaptasi. Dia tidak melawan Harald langsung. Dia menghindar, lalu muncul di belakang Raq.

"CRAAKK!"

Tendangan Khan mengenai punggung Raq. Zirahnya hancur berkeping-keping. Raq terpental, jatuh di sampingku. Mulutnya mengeluarkan darah.

"Aku... masih hidup..." Raq terbatuk. "Tapi pedangku... sudah tidak bisa dipakai."

Pedangnya patah. Menjadi dua. Bilah dan gagangnya terpisah.

Khan berdiri di depan Raq dan juga Harald. Tubuhnya penuh luka—bahu kanan menganga, perut memar, kaki sedikit pincang. Tapi dia masih berdiri. Masih tersenyum.

"Kalian berdua cukup tangguh. Tapi, tekad saja belum cukup."

Lihat selengkapnya