Dsintransia

Iman Ali Janovit
Chapter #24

Chapter 23 : Api Hitam yang Membara

Dua menit berlalu. Waktuku untuk bergerak bebas hanya tinggal empat menit lagi.

Zhangzian di sana mengamuk tidak terkendali. Saat tubuh naganya menyilaukan, petir-petir menyambar dengan hebat. Naga emas Zhangzian diselimuti oleh lingkup petir biru. Kecepatannya luar biasa.

Gedan tidak bisa menangkis petir biru. Yang dia lakukan hanyalah menghindar terus menerus. "Apa kau sudah selesai, bocah?!" tanya Gedan.

Aku masih menenangkan diri di dalam perisai api hitam yang berbentuk seperti lingkaran yang menyelimuti diriku.

Dari tadi apa yang aku pikirkan? Jalan keluarnya hampir tidak ada. Apakah jalan ini jadi buntu?

"Tidak, Nak. Belum selesai." Rato menyela pikiranku.

"Apa yang harus aku lakukan?"

Api hitamku terasa berbeda dari sebelumnya. Tanganku panas seperti hendak mengeluarkan sesuatu.

Aku terdiam sembari bergantian menatap kedua telapak tanganku.

"Panas ini... Aku rasa ia punya pesan tersendiri."

Energi negatif dari api hitam hampir bisa aku pahami sepenuhnya. "Katanya dia juga seperti makhluk hidup? Apa sebenarnya inti kekuatan api hitam ini?"

Aku menatap Zhangzian yang terus mengamuk. Di matanya yang putih menyala, aku melihat sesuatu. Bukan amarah. Bukan kebencian. Tapi... kesedihan. Kesedihan yang sudah terlalu lama dipendam.

Energi negatif Zhangzian sudah aku pahami dari awal. Kesedihan yang mendalam selama ratusan tahun atau bahkan ribuan tahun, aku sungguh kasihan padanya.

Energi api hitamku entah kenapa tiba-tiba perlahan meluap. Aku bisa merasakannya melewati suhu tubuhku yang perlahan naik drastis.

Dia kehilangan istri dan anaknya. Dia sendirian di gua ini selama ribuan tahun. Dia melakukan ritual setiap hari hanya untuk mengingat mereka.

Namun.... Aku juga membencinya. Level benciku berada di ambang yang tinggi.

"Zhangzian. Dia sendirian terlalu lama. Seperti aku dulu. Namun... Tindakkannya tidak harus di benarkan... " Aku menarik nafas dalam-dalam.

"Oi, nak! Waktumu tinggal dua menit. Kau harus cepat temukan solusi. Selain anggota gerakmu lumpuh, pemakan jiwa itu bisa memakanmu. Ki Ki Kik!" Ujar pocong.

"DENDAM TIDAK AKAN MENYELAMATKANNYA APAPUN! SETELAH SELESAI, APA YANG AKAN KAU LAKUKAN?!"

"KAU PIKIR HANYA KAU? DISINI KAMI SEMUA JUGA BERJUANG AGAR TIDAK MATI!"

Perisai api hitamku langsung menghilang. Api hitam mulai membara di telapak tanganku. Corak tanda kutukan di tanganku mulai menyebar. Ini bukan karena kekuatan kutukan biasaku. Namun dari api hitam itu sendiri.

"Ini untuk semua orang." Api hitam di tanganku semakin panas. Kulitku semakin terasa terbakarnya.

"AKU HARAP KAU MELUPAKAN DENDAMMU!"

BWARRR!

Api hitam aku semburkan ke arah Zhangzian dengan skala yang jauh lebih besar. Zhangzian tinggal diam saja di atas sana. Bahaya yang mendekatinya, dia balas api hitamku dengan semburan api putihnya.

Api hitamku dan api putih Zhangzian bertabrakan di langit. Bukan seperti ledakan biasa. Tapi seperti dua lautan yang saling menerjang. Hitam dan putih bercampur, menciptakan kilatan-kilatan abu-abu yang menyilaukan.

Seluruh tubuhku terasa seperti terbakar. Kulitku melepuh, dagingku terasa seperti digerus, tapi aku tidak bisa berhenti. Jika aku berhenti, maka semuanya akan berakhir.

"KAU—" Zhangzian terkejut. Matanya yang putih menyala berkedip-kedip, seperti lampu yang hampir padam.

"Aku tidak akan menyerah!" teriakku. "Bukan karena aku kuat. Bukan karena aku pahlawan. Tapi karena... karena jika aku menyerah, orang yang tidak bersalah sekalipun akan ikut lenyap."

Api hitamku semakin membesar. Zhangzian mulai terdesak. Tubuh naganya yang tanpa materi mulai bergetar. Keris kutukan pemakan jiwa masih tertancap di tubuhnya, menguras energinya perlahan.

"Sial..." Zhangzian menggeram.

"AKU PEDULI SEKALIGUS MEMBENCIMU!" seruku kepada Zhangzian.

Di bawah, Gedan melihat ke arah langit. Melihatku dan Zhangzian bertarung dengan api yang saling melahap.

Wajahnya berubah. Bukan marah ataupun takut. Tapi... kesal.

"Bocah itu... dia melakukannya sendirian. Dan aku hanya menghindar?"

Dia mengepalkan tangan. Lingkaran di punggungnya berputar semakin kencang.

"Mode astral, tingkat dua!"

Zirahnya kembali berubah menjadi putih keemasan. Cahaya menyilaukan keluar dari seluruh tubuhnya. Rambutnya yang hitam berubah menjadi putih. Matanya bersinar biru.

"Aku tidak akan kalah oleh bocah kutukan."

Dia menatap ke arah Zhangzian. Bukan menyerang naga itu. Tapi tangannya meraih ke arah petir biru yang menyambar-nyambar di sekitar Zhangzian.

"KEMARILAH PETIR!"

Gedan menangkap petir biru itu. Bukan dengan tangan kosong—tapi dengan pedang mode astralnya. Pedang itu menyerap petir, berubah warna menjadi biru menyala.

Lihat selengkapnya