Dua Bilah Pedang Takdir

MHD Yasir ramadhan
Chapter #3

Bayangan dari istana


Esok paginya, matahari bahkan belum sepenuhnya terbit. Aru dan Anjani sudah bersiap berangkat, sebuah gerobak sederhana, yang dipenuhi obat-obatan herbal buatan Sumi berdiri di depan rumah.


Anjani duduk di atas kuda sambil melambaikan tangan kecilnya.


"Selamat tinggal, Bibi Sumi!" serunya riang.


Sumi tersenyum hangat dan membalas lambaian tangan itu.


"Hati-hati di jalan."


Sepanjang perjalanan, Anjani tak berhenti bercerita. Gadis kecil itu berbicara tentang banyak hal. Tentang mimpinya menjadi orang baik seperti Sumi dan menjadi kuat seperti Aru.


Aru hanya sesekali tersenyum mendengar celotehnya.


Menjelang siang, mereka berhenti di bawah pohon kelapa yang menjulang tinggi. Matahari tepat berada di atas kepala saat mereka membuka bekal yang telah disiapkan Sumi pagi tadi.


Setelah beristirahat sejenak, perjalanan kembali dilanjutkan.


Saat memasuki ibu kota Hizakura, pemandangan yang terbentang begitu berbeda dengan Desa Timur.


Jalanan ramai oleh para bangsawan. Prajurit berlalu-lalang menjaga ketertiban. Para asisten menteri kerajaan sibuk berjalan ke berbagai arah dengan dokumen di tangan mereka.


Anjani menatap semuanya dengan mata berbinar.


Bagi gadis kecil itu, dunia di luar desanya terasa seperti negeri dongeng.


Aru menghentikan kudanya di depan kawasan tempat tinggal para bangsawan.


Cuaca siang itu begitu panas hingga menyengat kulit.


Sementara Aru sibuk melayani pembeli, Anjani berdiri memandangi menara istana yang megah. Menara berlapis perak itu menjulang tinggi dan dapat terlihat dari hampir seluruh penjuru ibu kota.


Namun setiap kali melihat prajurit kerajaan mendekat, tubuh kecilnya sedikit gemetar.


"Pamanku..." panggil Anjani pelan.


Aru menoleh.


"Apa di dalam sana banyak mainan dan makanan enak?"


Ia menunjuk ke arah istana.


Aru tersenyum tipis.


"Tentu saja. Di dalam sana ada hampir semua hal yang diinginkan orang."


Mata Anjani berbinar semakin terang.


"Benarkah?"


"Benar."


Aru memandang istana beberapa saat sebelum melanjutkan.


"Tapi ingat satu hal, Anjani. Jangan pernah pergi ke sana jika kau tidak memiliki apa-apa."


Anjani mengerutkan dahi.


"Kenapa?"


"Karena tempat seperti itu berbahaya bagi orang-orang seperti kita."


Anjani tidak benar-benar mengerti maksudnya.


Namun ia mengangguk pelan.


---


Matahari mulai turun ke ufuk barat.


Anjani kini bermain di belakang gerobak bersama boneka kayu pemberian Aru.


Lihat selengkapnya