Dua Bilah Pedang Takdir

MHD Yasir ramadhan
Chapter #4

Bab 4 petunjuk kain merah


Keesokan paginya, Aru dan Anjani meninggalkan rumah Datuk Arash.


Perjalanan pulang kali ini melewati jalur yang berbeda. Jalan setapak di antara pepohonan tinggi memang lebih jauh, tetapi jauh lebih aman daripada melewati jalur utama.


Anjani duduk tenang di atas gerobak.


Berbeda dari biasanya, hari ini ia tidak banyak bicara.


Sesekali ia memainkan boneka kayunya sambil menatap hutan yang membentang di sepanjang perjalanan.


Sementara itu, Aru tampak tenggelam dalam pikirannya sendiri.


Ucapan Datuk Arash semalam masih terngiang di kepalanya.


*"Anak itu bukan anak biasa."*


Matahari mulai condong ke barat saat mereka tiba di perbatasan Desa Timur.


Namun sesuatu terasa berbeda.


Aru langsung menyadarinya.


Tidak ada suara anak-anak bermain.


Tidak ada warga yang bekerja di ladang.


Tidak ada asap dapur yang biasanya terlihat dari kejauhan.


Yang ada hanya keheningan.


Dan bau hangus yang terbawa angin.


Tubuh Aru langsung menegang.


Ia memacu kudanya lebih cepat.


Semakin dekat, jantungnya semakin berdebar.


Beberapa rumah terlihat rata dengan tanah.


Sebagian lainnya hangus terbakar.


Bekas pertarungan terlihat di mana-mana.


"Apa yang terjadi...?"


gumamnya pelan.


Tanpa menunggu lagi, Aru berlari menuju rumahnya.


Kudanya berhenti tepat di depan halaman.


Rumah itu masih berdiri.


Namun pintunya rusak.


Perabotan berserakan.


Bekas perkelahian terlihat jelas.


"Aru..."


Anjani berdiri di belakangnya.


Aru tidak menjawab.


Ia masuk ke dalam rumah.


Matanya menyapu setiap sudut ruangan.


Tidak ada siapa-siapa.


Tidak ada Sumi.


Tidak ada tanda keberadaannya.


Hingga pandangannya berhenti pada bercak merah yang menempel di dinding.


Tubuh Aru membeku.


Perlahan ia mendekat.


Jarinya menyentuh noda itu.


Darah.


Masih meninggalkan aroma yang samar.

Lihat selengkapnya