DUA DARA DI ATAS PRAHARA

Atis Dee Jay
Chapter #1

1. KANTOR ITU MAGIS

CATATAN : Ini adalah cerita fiksi. Semua nama tokoh adalah fiktif, dibuat semata untuk pertimbangan alur cerita dan karakter, dan oleh karenanya tidak berkaitan dengan dunia nyata. Kesamaan nama karakter dengan nama di dunia nyata adalah kebetulan belaka. 

Suasana kerja di kantor baru ini setengah gila tapi asyik aja. Setiap menjelang jam pulang, Rena sering harus menahan gelak tawanya melihat ulah teman-temannya satu kantor. Aldo, dengan ulahnya yang jahil, mungkin sudah lepas katup pengaman di otaknya sehingga mulailah dia melucu. Celotehan dan tingkahnya meledakkan tawa Kayling dan Bobby yang duduk berdekatan dengannya. Kegilaan mereka bertiga menular dengan cepat ke Andreas dan Ilham di meja seberang. Lenai, rekan sekerjanya yang paling pendiam dan sering tenggelam dalam earphonenya pun ketularan tersenyum bahkan tertawa. Gelak tawa, dan canda ria bahkan ujaran cabul menyeruak begitu saja menggelitik saraf geli Rena sehingga dia pun tak sungkan tertawa ngakak. Suatu ketika, ia meledakkan suasana ketika menukas godaan iseng Bobby dengan kata: "lembur ndasmu!". Kata terakhir itu mengagetkan sekaligus membuat geli rekan-rekannya yang semuanya lahir di Jawa Barat itu. Tak pernah mereka mendengar umpatan khas Jawa Timur itu di kantor diletuskan spontan oleh seorang gadis manis seperti Rena.

"Aku arek Jawa Timur yo," katanya di tengah tawa geli teman-temannya. "Itu dah biasa di kotaku sana."

"Iya, Ren, tapi tampangmu kayak nggak level deh memaki kayak gitu."

"Lah, lha harusnya aku bilang apa?"

"Jancuk!" sahut Aldo disambut dengan ledakan tawa mereka semua.

"Jancuk ndasmu, Do, bwahahaha!" Rena tak kalah lincah menjawab, menambah seru suasana sore itu.

Lalu pintu akan terbuka. Sesosok figur pria, tenang, berwibawa, muncul di pintu. Kontan semua akan terdiam. Rena yang suara ngakaknya masih tersisa langsung menutup mulutnya dengan kedua tangan.Matanya melebar memandang pria itu seolah meminta maaf.

Si pria itu akan tersenyum dengan raut wajah tetap tenang. Ia menengok jam tangannya. "Ada yang lembur hari ini?"

Kadang ada satu dua tangan teracung. Jika tidak, maka berangsur-angsur para karyawan muda itu akan meninggalkan kantor dengan celoteh riang. Ada yang langsung pulang, ada pula yang masih mampir ke mall atau kafe melepas lelah setelah bekerja seharian.

Siang itu, Rena sedikit terkesiap ketika pria itu mendekati meja kerjanya dan menatap laptopnya. Dengan agak gugup, ia menengadah dari kursinya. "Ya, pak Roy," katanya. "Ada yang bisa saya bantu?"

"Ndaak, hanya melihat sekilas aja, kok, Rena," pria bernama Roy itu menjawab ringan. Senyumnya merekah. Rena menatap wajahnya. "Bener juga kata teman-teman," ia membatin. "Bapak ini mirip Richard Gere. Versi Jawa."

"Gimana, Rena, kamu sudah dua bulan disini," kata Roy. "Sejauh ini, so far so good . . . atau so bad?"


Rena tertawa memamerkan barisan giginya yang rapi. Pipinya agak bersemu merah. "Sejauh ini baik, kok, pak Roy," jawabnya. "Saya suka pekerjaannya, dan teman-teman juga baik-baik, walau . . . " Rena melirik Andreas yang sedang berpura-pura serius di sebelahnya. " . . . kadang agak gila, hahaha!"

Andreas mendelik di balik punggung Roy dengan tangan terangkat seperti siap menjitak kepala rekannya itu.


"Yah kalau nggak gila mah nggak saya rekrut kesini," Roy menimpali, disambut tawa renyah kedua staf muda itu. "Gila asal kreatif kan malah baik toh untuk media digital?"

Lihat selengkapnya