Rena melirik arlojinya. Jam enam lebih seperempat. Kantor sudah agak sepi. Ia mematikan laptopnya, lalu menaruh barang itu di laci meja kerjanya dan menguncinya. Tas hitam kulit ia selempangkan ke dadanya. Berjalan dengan langkah tegap, ia mendorong pintu kaca yang tebal itu dan menapakkan kakinya ke pintu keluar.
"Paak, pulang dulu," senyumnya terkembang disertai ucapan ramah dan lambaian tangan sekilas ke pak Wardi, satpam yang berjaga di posnya dekat pintu keluar. Pria tua yang masih tegap itu membalas sapaannya.
Angin sedikit kencang bulan Februari nakal mengacaukan rambut panjangnya. Kebisingan lalu lintas pada jam pulang menerkam indera pendengarannya, memaksanya berjalan hati-hati sekalipun ia sedang menyusuri trotoar. Langkahnya tegap, sedikit tergesa, namun semua inderanya waspada memindai situasi ramai di sekelilingnya. Untunglah ia tidak harus berlama-lama di medan seperti itu karena ia langsung melangkah turun ke jalur pejalan kaki Terowongan Kendal. Suara klakson dan deru kendaraan di atas tadi berangsur lenyap, digantikan suara detak langkah kaki ratusan orang yang menapaki jalur bawah tanah itu.
Ia sampai ke stasiun subway dan langsung menaiki kereta jurusan ke rumah kosnya di kawasan Bumi Serpong Damai. Kereta agak sesak namun ia masih bisa mendapatkan satu kursi di ujung dekat pintu masuk. Beberapa lama setelah kereta berjalan, serombongan penumpang masuk, langsung berjejalan di sekitarnya. Seorang pria tua bertubuh kecil memaksakan tubuhnya masuk di celah sempit beberapa pria. Ia berdiri agak mepet pada kursi yang diduduki Rena. Sejenak matanya melirik kursi itu, rupanya tidak menyangka sudah ada Rena yang duduk disitu.
Rena merapatkan tangan dan kakinya. Kereta berjalan lagi makin cepat. Rena melirik sekilas pria tua di dekatnya. Kepala si pria itu mulai tertunduk, matanya memejam sekilas, lalu sontak terbuka lagi seiring dengan goyangan kereta.
Rena berdiri. "Pak," katanya pada si pria, "silakan," ia menunjuk ke arah kursi yang semula ia duduki. Si pria agak kaget. Namun dengan cepat ia setengah menghempaskan badannya ke kursi itu. Ia menengadah memandang Rena, mengucap pelan, "terima kasih, mbak!" Rena mengangguk tipis dan memberikan senyum ramahnya. Seorang pria di ujung sana menangkap wajah gadis itu dalam pandangannya dan sedikit terpaku. Rasanya aneh masih ada senyum setulus dan seramah itu di sebuah kereta subway yang penuh sesak dengan orang merengut pada jam pulang kerja di ibukota ini.
Ia sampai di rumah kos nya sekitar satu setengah jam kemudian. Di depan, seorang gadis remaja terpaku menatap kedatangannya. Gadis itu berwajah bulat dengan mata lebar dan pandangan polos. Rambut pendeknya agak kusut. Blus putihnya yang berenda agak sedikit tenggelam oleh rok hitam yang dikenakannya sampai melebihi garis pinggangnya.
"Halooo, Mirna," sapa Rena. "Mau kemana nih? Udah dandan?"
Gadis bernama Mirna itu menatapnya datar. Namun mulutnya pelan mengucap sepatah kata. "Mau ketemu cowok aku."
"Wooow," Rena melebarkan matanya dan tersenyum. "Duh, senengnya. Harus cantik ya, Mir?"
Mirna mengangguk-angguk. "Harus cantik . . " ia menirukan. "Harus cantik."
"Iya, kamu dah cantik kok," Rena berkata. Pandangannya bergerak dari ujung kepala gadis itu sampai ujung sepatunya. Ia menunduk, menunjuk sepasang sepatu coklat yang dikenakan gadis itu.
"Mirnaa," katanya lembut. "Nih sepatunya kok masih kotor? Cowok ga suka liat cewek dengan sepatu kotor. Harus bersih, harus kelihatan apik. Sana, suruh mbak Mar bersihkan gih!"