DUA DARA DI ATAS PRAHARA

Atis Dee Jay
Chapter #3

3. BRIEL

Beberapa kali dalam setahun, selalu ada cuti bersama nasional yang membuat liburan agak panjang. Briel memanfaatkannya untuk pergi ke Jakarta, berlibur dua hari bersama sobatnya itu. Berdua mereka akan ngobrol seru, berjalan-jalan ke mall dan pusat hiburan lainnya, atau memuaskan nafsu makan mereka di berbagai kafe kekinian.

Suatu ketika mereka mengunjungi daerah pinggiran kota di selatan Jakarta, daerah Sentul. Ada komplek perumahan cukup menarik disitu yang masih menawarkan sedikit pemandangan alami beserta suasana tenangnya. Rena mengajak sobatnya menjelajahi kawasan itu lebih jauh ke dalam. Mereka disambut oleh sebidang tanah sawah dan latar belakang perbukitan hijau alami. Beberapa tukang sibuk menggarap bangunan rumah berlantai dua.

"Eh, ada kucing!" seru Briel ketika melihat seekor kucing mendekam di kejauhan. "Duh, lucunya. Lihat yuk!" Ia melangkah agak berlari meninggalkan Rena yang sedang melenggang santai.

Mendadak ada suara tertawa beberapa pria, disusul sebuah teriakan: "Wooy! Cina makan lontong, ada Cina pamer bokong!"

"Bwahahaa!" suara lain menyeruak. "Cakeep pantunnya, coy! Cocok buat Imlekan."

Rena dan Briel menoleh ke arah sumber suara. Disana, di bangunan besar berlantai dua yang masih digarap, beberapa pria pekerja duduk sambil memandang ke arah mereka, tertawa-tawa.

"Hehh!" Rena berseru keras dengan wajah garang. "Mulutmu diatur, cuk!"

Para pria itu menatapnya. Senyum si pelaku tadi berubah menjadi seringai mengancam. Rena mendekat beberapa langkah, sementara Briel hanya sanggup terpaku di tempatnya.

"Jangan kurang ajar ya!" Rena berseru lagi. "Saya kenal lho bossnya situ! Pak Victor Tanoko, kan?? Saya adukan lho!" Ia lalu mengangkat ponselnya, siap merekam wajah-wajah mereka dengan video.

"Ya dah, maap! Maap!" kata salah satu dari mereka. "Gitu aja marah..." Mereka lalu bubar dengan wajah menahan geram campur takut.

"Ren, sudahlah . . ayo kita pergi aja," akhirnya Briel menggamit lengan sahabatnya yang masih bersikeras mau merekam pria-pria usil mulut itu. "Ndak usah dilayani yang gituan."

"Ndak, ndak bisa gitu, Brie," sergah Rena sambil mulai berjalan kembali. "Kamu sekali-sekali harus unjuk taring, Brie. Balas bentak dan kalau perlu memaki. Biar orang tahu kamu juga bisa melawan, setidaknya mengatakan kamu marah dengan sikap kayak gitu."

Briel hanya terdiam, menarik nafas. "Sudahlah, Ren . . " Sejurus kemudian ia bertanya "eh, kamu beneran tahu boss mereka? Victor Tanoko itu siapa?"

"Ya, gak ada lah. Itu karanganku doang, Brie. Sekilas pernah lihat nama klien yang pengusaha properti ada Victor nya gitu terus aku tambahi sendiri Tanokonya."

Briel tertawa. "Gilee! Cepet sekali bikin mental mereka goyah dengan nama fiktif, hahaha!"

"Ya, sesekali kita harus main gertak sambal kek gitu, Brie. Lawan pecundang-pecundang kayak mereka harus main keras aja walau sebenarnya ngarang, hahaha!"

Mereka berjalan lagi. Rena mendadak melambatkan jalannya, mengamati sekilas penampilan temannya dari belakang. Ia lalu menyusul Briel lagi. "Brie" ujarnya. "Benernya aku ya paham kenapa mereka catcalling usil kayak gitu."

"Maksudmu?"

"Kamu ndak ngerasa tah gaya berpakaianmu itu juga agak mengundang komentar orang jahil?"

Briel memandangi dirinya sendiri dari ujung kaki sampai bagian dadanya.

"Kamu tuh bodi model, Brie. Kakimu, pantat, pinggul, . . . dada, belum lagi wajah. Biyuuh! Cantik nan sexy kamu Brie. Tapi ya kamu tahulah bagaimana pria iseng memandang wanita cantik!" Rena berujar. "Terus, dah tahu gitu, kamu pakai jins ketat pula, kaos putih, tanpa lengan . . ."

Lihat selengkapnya