Pagi perlahan merangkak menjadi siang. Rena duduk di kursi kerjanya, mencurahkan perhatian penuh pada kombinasi gambar dan tulisan yang sudah dibuatnya di layarnya. Matanya berpindah dari satu gugus kata ke gugus kata lainnya, mencoba merasakan emosi yang terkuak oleh setiap frasa. Sesekali ia menggerakkan mousenya, menyorot beberapa penggal kata dan menghapusnya, lalu berpikir keras untuk mengetikkan kata-kata penggantinya. Seisi ruangan sibuk bekerja. Wajah-wajah muda para karyawan itu memancarkan kegiatan pikiran mereka, mengerahkan fokus, kreativitas, dan kecermatan mereka pada pekerjaannya masing-masing.
Pintu mendadak terbuka. Vina, sang direktur media, masuk dengan wajah keruh. "Gaes," katanya dengan lantang. "Ada masalah serius!"
Suasana langsung hening. Sementara semua mata mengarah kepadanya, Vina melanjutkan: "Ada kesalahan ketik memalukan di caption Instagram kita untuk Dies Natalis Universitas Digital Nusa. Seharusnya tertulis, "Universitas Digital Nusa memberikan masa depan yang lebih pasti melalui program magangnya" tapi yang tertulis adalah "Universitas Dharma Nusa memberikan masa depan yang lebih pasti melalui program magangnya." Ia menembakkan pandangan tajamnya ke arah Bobby, sang Senior Content Creator. "Gimana, Bob? Kok bisa lolos kesalahan fatal seperti ini?!"
Bobby kontan menjadi kaku karena kaget dan merasa bersalah. Ia baru membuka mulutnya untuk bicara tapi Vina sudah menyalak lagi: "Kalian tahu resikonya? Rektor Digital Nusa ngamuk via telpon ke Direktur kita. Ia meminta kita bertanggung jawab atas kesalahan itu karena posting itu sudah viral sejak kemarin. Kalian tahu kan betapa sebenarnya dua kampus itu saling bersaing, bahkan sudah sampai mau tempur frontal? Mulai dari perkara mahasiswanya kelahi, lalu yang satu membajak dosen satunya, sampai pada masalah copot mencopot spanduk? Mereka musuh besar, dan kalian malah bikin runyam dengan kesalahan ketik ini. Tahu ndak? Bapak Rektor mengancam akan membatalkan kontrak kita untuk semester ini."
"Satu semester?" Kayla terbelalak. "Itu nilainya ratusan juta, mbak!"
Vina menghembuskan nafas panjang dan mendecakkan lidahnya. Pandangan matanya makin mengeras. "Kalian kerja yang bener lho yah!? Bob, apa kamu ndak cek bener konten itu sebelum Aldo mengunggahnya?!"
Mata Bobby bergerak liar di wajahnya yang gugup, dan mendarat pada pandangan Rena.
"Ehm . . . maaf, mbak," Bobby tergagap. "Aku . . . dua hari lalu kan minta ijin pulang awal karena agak sakit. Lalu–" ia memandang Rena. "Rena membantu kami untuk mengecek–"
"Haah??!" suara Vina melengking. Matanya melotot ke arah Bobby lalu ke Rena. "Kamu serahkan tugasmu ke juniormu??!"
"Ya, deadlinenya sudah mepet, mbak, dan saya lagi sakit jadi saya pikir Rena bisa membantu–"
"Rena!"
Tubuh Rena menegang di kursinya mendengar panggilan yang lebih terasa sebagai hardikan itu.
"Ya, mbak?"
Vina mendekat ke meja Rena, mengacungkan ponselnya yang memajang postingan celaka itu di Instagram. "Gimana kamu mengeceknya? Kesalahan sefatal itu tidak kelihatan di mata kamu??"
"Mbak, saya minta maaf, tapi gini, mbak–"
"Bobby, Rena, ikut aku ke kantor pak Roy!" Vina berbalik dan melangkah cepat ke arah pintu, membukanya dengan gerakan kasar lalu keluar. Bobby mengikutinya dengan gontai. Rena menyusulnya di belakangnya dengan wajah tegang.
Pak Roy duduk di kursinya dengan kedua tangan terkatup di depan mulutnya. Pandangannya tajam mengarah ke mereka yang masuk satu persatu ke ruang kantornya. Vina duduk di kursi di depan pria itu, sementara Bobby dan Rena berdiri berdampingan di sisinya bak tawanan diseret ke kamar interogasi.
"Jadi ternyata Bobby tidak melaksanakan tugasnya sebagai reviewer konten itu, pak," Vina langsung mengutarakan inti masalahnya. "Ia serahkan tugas itu ke Rena, dan . . . Rena pun kok ya bisa-bisanya nggak ngeliat kesalahan segede gaban itu."
"Maaf, pak Roy, saya waktu itu mendadak sakit. Dada serasa sakit dan ndak lega bernafas, jadi saya ijin pulang jam sebelas," Bobby menuturkan alasannya. "Padahal saya tahu konten itu harus segera naik. Maka, saya minta Rena untuk sekedar bantu memeriksanya."
Kini semua mata mengarah ke Rena. Gadis itu mengambil nafas sejenak sebelum berbicara. "Ya, memang akhirnya saya bilang bisa bantu dia, pak Roy. Namun memang saya kurang cermat sehingga tidak melihat kesalahan ketik oleh Leni itu. Mungkin karena postingannya juga lumayan banyak dan saya harus membacanya satu–"
"Ndak usah pakai alasan di balik postingan banyak, Ren!" Vina menukas. "Itu sudah tugasmu sebagai seorang content creator. Kamu memang kurang cermat. Beberapa kali juga aku lihat kamu bikin kesalahan disana-sini walau kecil. Tapi kamu mestinya introspeksi dan jangan menyalahkan situasi–"
Darah Rena serasa melesat naik ke kepalanya. "Bentar, Mbak Vina, bentar" ia sampai harus mengacungkan tangannya seolah menahan berondongan Vina. "Saya junior content creator, Mbak, bukan senior. Tugas mereview konten sebenarnya kan bukan tugas saya? Itu juga sudah ada di kontrak kerja saya, jadi saya kurang terima kalau seolah-olah saya–"
"Loh, loh, loh??!" Vina kembali menyalak. "Gimana ini, sudah menyatakan bisa membantu rekannya sekarang mau lepas tanggung jawab?! Kan kamu dah bilang iya ke Bobby toh?!"
"Saya memang mau bantu tapi ketika ada kesalahan ya jangan langsung ditimpakan ke saya, dong, mbak! Itu bukan tugas utama saya!"
"Lah, gimana ini, ndak ngerti aku cara pikirmu, Ren? Ini kerja tim, Rena. Satu tim ya harus saling bantu termasuk bisa menerima tanggung jawab kalau salah! Kamu yang harus–"
"Vina, sudah, sudah!" kali ini suara Roy menggelegar. "Saya yang mau bicara. Anda diam dulu, dengarkan saya!"
Vina menutup mulutnya dan hanya bisa mendengus kesal di kursinya.
"Berapa kali saya katakan bahwa dalam setiap situasi, segawat apapun situasinya, kepala kita harus tetap dingin?? Saling menyalahkan dalam situasi panas kayak gini ndak akan membantu. Paham ya kalian semua?"