DUA DARA DI ATAS PRAHARA

Atis Dee Jay
Chapter #5

5. HANYUT

Waktu bergulir. Berbagai kesibukan kantornya melayani klien dari berbagai penjuru negeri membuat waktu terasa makin cepat bagi Rena. Beberapa kali secara teratur ia harus berkomunikasi dengan Vina untuk mengecek hasil kerjanya. Ia jadi terlatih mengendalikan emosinya ketika berhadapan dengan sikap Vina yang masih terasa ketus. Ia belajar keras bagaimana mengambil esensi perkataannya tanpa memasukkan nada sengaknya secara pribadi. Jangan diambil hati, petuah sederhana itu mulai ia yakini dan ia terapkan menghindari atasan yang cerdas, teliti, namun dengan ucapan yang sering terasa menyilet tipis.

"Aku lakukan tugasku sebaik-baiknya sehingga ia tak punya satu celah pun untuk menegurku atas kesalahan kecil maupun besar," Rena suatu ketika berkata kepada Briel dalam perbincangan malam mereka. "Kalau dia masih terus cari-cari kesalahan, ya itu artinya seperti yang pak Roy bilang dia sedang memproyeksikan rasa sakitnya ke orang lain. Mungkin ada semacam luka batin yang belum tersembuhkan."

"Betul, Ren," jawab Briel. "Orang bilang hurt people hurt people: orang yang tersakiti akan menyakiti orang lain. Mungkin atasanmu itu kayak gitu."

Hanya ada dua hal yang Rena rasakan selalu membuyarkan konsentrasinya di kantor. Yang pertama adalah sikap Vina yang membuatnya selalu bergulat meredam emosinya, dan yang kedua adalah kunjungan Roy yang makin sering ke ruang kerjanya.

Pria itu akan berkeliling dari satu meja ke meja lainnya, menyapa dan berbincang ringan dengan para karyawan. Tentu ia akan sampai juga ke meja Rena lalu menyapanya atau sekedar melontarkan senyum ramah.

"Rena, gimana hari ini?"

Rena akan menjawab ringan walau dadanya sedikit berdebar: "Baik, pak."

Suatu ketika, Roy sedikit menggoda setelah menerima jawaban itu: "Hari-harimu selalu baik ya Ren? Yang ndak baik kamu taruh mana?"

Rena tersipu dan tersenyum. "Ya, saya tinggal di stasiun subway, pak."

"Wah, hati-hati lho diambil pemulung terus didaur ulang."

Dan mereka berdua tertawa ringan.

Beberapa kali Roy melakukan kunjungan singkat itu dengan pola tak tentu. Satu hari ia bisa mendekat ke Rena, lain hari ia seolah tak mengacuhkannya dan keluar setelah menyapa satu dua orang saja di depan. Kalau sudah begitu, Rena hanya bisa diam-diam memperhatikan punggung pria itu menjauh lalu lenyap di balik pintu.

Lihat selengkapnya