Dua hari setelah rapat itu, Roy berangkat ke Seoul untuk urusan bisnis. Rena kembali tenggelam dalam pekerjaannya. Ia berkejaran dengan tenggat dan standar makin tinggi yang ditetapkan atasannya. Dua kali ia ikut mobil kantor berkeliling daerah Jakarta Selatan untuk mendapatkan latar pemandangan yang tepat untuk kontennya. Begitu saja waktu menggelincir dari hari ke hari. Pada hari kelima, Roy tiba-tiba sudah muncul di ruangannya.
"Hai, pak," sapa Kayling. Lalu ia berhenti berkata sementara senyumnya menggantung di udara. Pandangannya menjadi agak nakal.
"Aha, saya tahu apa yang mau kamu ucapkan, Kay" ujar Roy.
"Emang apa, pak?"
"Mana oleh-olehnya? Ya kaan??!"
Semua tertawa. "Wah, bapak tahu aja suara hati saya," kata Kayling tersenyum lebar.
"Tuh, ambil sendiri di meja sana," Roy menunjuk ke meja di luar ruangan. Bagai anak SD bersuka hati ketika diperbolehkan mengambil kue, karyawan-karyawan itu serentak berdiri dan menyerbu beberapa bingkisan makanan kecil dan suvenir Korea yang dibelikan Direktur mereka di negeri ginseng.
Rena sebenarnya tidak terlalu mengharapkan oleh-oleh. Tapi ia merasa aneh kalau hanya sendiri yang tinggal di ruangan. Maka ia pun beranjak dan mengekor rekan-rekannya. Sementara mereka sibuk memilih di meja besar itu, Rena yang berdiri paling belakang mendadak mendengar Roy setengah berbisik di belakangnya.
"Rena!"
Gadis itu menoleh. "Ya, pak?"
Roy mengacungkan sebuah tas plastik bening. "Ini sekedar oleh-oleh buat kamu."
Rena terkesiap. Detak jantungnya bertambah cepat sekian pukulan. Ia masih setengah ternganga ketika Roy menyodorkan bingkisan itu lebih dekat ke tubuhnya. Rena yang segera memahami maksud tak terucap dari pria itu segera menyambut bingkisan itu.
"Bapaak, kok repot-repot to?" Rena memandang Roy dan tak kuasa menyembunyikan binar matanya. "Terima kasiih..."
"Belum pernah nyoba kopi Korea kan?"