"Aku harus fokus dan tetap fokus hari ini dan seterusnya!"
Rena mengucapkan tekad itu dalam hati ketika ia menghidupkan laptopnya di mejanya. Jam kerja baru mulai. Ruangan sedikit ribut dengan suara Bobby, Ilham, dan Kayling yang saling meneriakkan angka-angka dan kalimat untuk menyelaraskan hasil analisis mereka. Aldo seperti biasa melantunkan lagu-lagu kesukaannya. Sekalipun suaranya tergolong bagus dan enak didengar, beberapa kali rekan sekerjanya mengeluh karena mereka tidak bisa fokus. "Tenang, kawan, hanya lima menit pertama aja, kok!" Aldo akan berkata. Dan ia menepati janjinya. Lima menit setelah jarum jam bergeser dari jam sembilan, nyanyiannya berhenti dan ia akan mulai sibuk dengan tugasnya.
Tiba di jam istirahat, Rena membuka kotak makannya dan menghabiskan setangkup besar roti isi yang dia beli di kantin. Ia mengguyur kerongkongannya dengan air putih dari tempat minumnya, lalu menggeliat kecil melepas penat. Ia buka lacinya dan mengambil satu saset kopi pemberian Roy. Ia beranjak dari kursinya, keluar menuju pantry kantor. Tangannya sigap menjemba sebuah gelas dan menuangkan isi saset itu ke dalamnya, lalu mengisinya dengan air panas dari dispenser.
Ia baru setengah melamun memandangi permukaan air kopi panas itu ketika sebuah suara berat menyapanya dari belakang: "Suka kopinya, Rena?"
Rena tersentak kaget sampai bahunya terlonjak. Matanya terbeliak dan mulutnya terbuka. "Astaga, pak!" ia menengok ke Roy yang mendadak sudah muncul di belakangnya. "Haduuh, kaget saya!"
"Oh, sori kalau mengagetkan" Roy segera berujar. "Langkah saya ndak kedengaran ya?"
"Haduh, iya, pak. Bapak punya ilmu Ginkang ya?"
Roy tertawa. "Kamu kaget ya kalau lucu. Eh, maksud saya, kamu lucu kalau kaget!"
Keduanya tertawa keras menyadari kesalahan ucapan Roy tadi.
"Kamu aduk kopinya?" Roy bertanya setelah tawa mereka reda.
"Ya, ndak, pak. Kan–"
"Wah, sudah pintar ya minum kopi. Emang kopi seharusnya ndak diaduk, biar serbuknya larut secara alami ke dasar gelas."
Rena mengangguk dan mulai menyesap kopinya. Tanpa sengaja ia melihat ke wajah Roy yang ternyata juga sedang memandang wajahnya. Elok sekali wajah gadis itu ketika menyesap minuman hangat itu. Tanpa sadar Roy tersenyum tipis melihat pemandangan itu. Celaka, pandangannya membuat Rena gugup. Cairan hangat kopi sedikit tersendat lalu melebar seperti mobil F1 Ferrari terseok ke pasir. Rena merasakan aliran kopi menyentak saraf kerongkongannya dan ia terbatuk-batuk seketika. Usahanya menarik nafas dan meredam batuknya justru membuat batuknya makin garang. Matanya mulai berair.
"Batuk bangsat!" rutuknya dalam hati. "Kenapa juga muncul saat dia ada disini?!"
Roy tergesa mengambil satu gelas dan mengisinya dengan air, lalu menyodorkannya ke Rena. "Minum dulu, Ren."
Rena hanya mampu mengangguk. Tangan kirinya menekan lehernya. Ia letakkan cangkir kopinya dan menyambut gelas air putih yang Roy ulurkan.
"Makasih, pak. Maaf . . ." hanya itu yang bisa dia ucapkan dengan suara pecah-pecah.