DUA DARA DI ATAS PRAHARA

Atis Dee Jay
Chapter #8

8. YUK, MAKAN MALAM SAMA SAYA

"Fokus, Rena, demi Tuhan! Fokus, fokus!"

Rena berseru dalam hati kepada dirinya sendiri. Kedua tangannya menempel di jidatnya sementara matanya dengan susah payah menatap layar tabletnya mencoba menemukan fokus yang datang pergi itu. Ia ibarat pemburu di ambang putus asa di puncak bukit yang sedang membidik seekor rusa di kejauhan dengan senapannya. Bayangan rusa di teleskop bidiknya mengabur, lalu menajam, lalu mengabur lagi, begitu terus sampai berjam-jam. "Kalau aku pemburu itu, akhirnya akan kutembak kepalaku sendiri," batin Rena.

Semenjak peristiwa di kantor Roy itu, Roy masih beberapa kali masuk ke ruang kantornya, menyapa semua yang hadir. Ketika sampai di meja Rena dan Leni, ia masih menyapa mereka.

"Rena, Lenai, gimana kabar?"

"Baik, pak" serempak keduanya menjawab.

Satu kali, hanya Rena yang berada di mejanya. Roy mendekat dan menyapanya. Rena menjawab tanpa melihat ke arahnya. Tiga hari berikutnya, pria itu menyapa lagi. Kali ini Rena menengadah. Belum selesai ia menjawab, Roy sudah berlalu dan dengan cepat menyapa Leni yang baru kembali dari ruang lain. Roy mengucapkan sesuatu kepada Lenai dan gadis itu tertawa kecil.

Rena makin sering membaca beberapa ayat dari Kitab Sucinya. Ia bahkan menyimak beberapa video tentang hubungan pria dan wanita, tentang profil psikologis pria matang yang sudah menikah, tentang dosa, tentang kecemburuan. Suatu malam, setelah lelah menyimak beberapa video yang belum juga mengobati kegalauannya, mendadak ia seperti mendengar suara batinnya sendiri: "Rena, kamu sudah dewasa. Kamu sejak dulu juga tahu bahwa jatuh cinta kepada pria beristri itu sudah dosa berat. Kamu tahu resikonya. Lalu kenapa kamu terus galau?"

Suara itu meninggalkan gaung cukup lama di benak Rena. Ia menghembuskan nafas panjang dan kembali memejamkan matanya. Otaknya buntu tak lagi mampu berpikir dan merasa.

Malam berikutnya, sepulang kantor ia kembali duduk di ranjangnya. Kali ini ia membuka ponselnya dan menelpon sebuah nomor. Itu seorang ibu yang dulu aktif mendampinginya sebagai pembimbing rohani di kota kelahirannya.

Wanita itu menjawab panggilan telponnya. Mereka berbasa-basi sejenak, lalu sampailah pada pertanyaan itu: "Ya, Rena, bagaimana ibu bisa bantu? Ada masalah?"

Ujung lidahnya sudah siap mengatakan; "Ibu, saya punya perasaan agak lain terhadap bapak atasan saya," namun pada detik terakhir tanpa sepenuhnya ia sadari kalimat itu berubah menjadi "Ibu, saya . . . ada masalah dengan atasan saya. Orangnya judes dan ketus, dan saya merasa makin tidak nyaman. Gimana ya?"

Rena terpaku sendiri terkejut mengapa ia bisa begitu saja mengubah topik. Sang ibu pembimbing tentu siap merespons masalah itu. Detik berikutnya ia sudah terpaksa larut dalam pembicaraan tentang menghadapi atasan yang agak toksik, yang kadang mencari-cari kesalahan, yang omongannya ketus dan bahkan pernah mengancamnya secara lisan.

"Serahkan semua pada Tuhan Yesus dan Bunda Maria, Rena," demikian ibu itu berkata di ujung nasihatnya. "Hanya cinta kasih yang mampu menaklukkan hati yang keras." Lalu ibu itu menyebutkan beberapa ayat Kitab Suci yang menjawab masalah sakit hati itu. Rena mengiyakan saja tanpa sepenuhnya meresapi karena ia sendiri masih terbawa heran mengapa ia mengubah topik itu hanya dalam waktu sepersekian detik.

Lalu semuanya hening. Bahkan kebisingan sayup di luar rumah dari jalan utama jauh di sana seperti berhenti sejenak. Rena duduk terpekur memeluk kedua lututnya. Ponsel masih tergenggam dalam tangannya.

Pelan ia bangkit dari ranjang menuju ke cermin riasnya. Ia pandang wajahnya. Guratan lelah dan galau tergambar samar di raut itu. Ia raba pipinya. Ia tarik ke bawah. Ia raba kedua alisnya. Matanya menatap ke matanya sendiri di cermin.

Lihat selengkapnya