DUA DARA DI ATAS PRAHARA

Atis Dee Jay
Chapter #9

9. PENGAKUAN DI SPEAKEASY BAR

Rena berjalan pelan kembali ke mejanya. Pikirannya kalut sehingga langkahnya bak orang lanjut usia tertatih-tatih ke ranjangnya.

"Jatuh hati ke pria beristri itu sudah dosa berat!" kembali batinnya yang berlumur ayat Kitab Suci itu menyalak. "Dan sekarang kamu mau makan malam sama dia? Bertobatlah, atau api neraka akan membakarmu!"

"Ini Jakarta, Rena. Bukan kampung di Sumberpucung sana," sisi batinnya yang lain ikut bersuara. "Diajak bos makan malam adalah suatu kehormatan. Itu bisa jadi pintu peluang ke jenjang karir yang lebih tinggi. Kalau pola pikirmu masih wong ndeso ya lebih baik pulang aja ke kampung halamanmu! Lagipula, sekarang sudah terlambat untuk mengatakan "tidak mau, pak". Dia bisa tersinggung berat dan lu tahu apa akibatnya!"

Rena tak kuasa berpikir. Kata hati dan perasaannya terombang-ambing dari satu sisi ke sisi lainnya tanpa dia bisa mengambil keputusan. Waktu bergulir. Sinar lampu mobil dari jendela memberitahu dia bahwa bossnya sudah siap di depan. Rena bergegas mematikan lampu meja kerjanya dan melangkah keluar. Pak satpam membukakan pintu penumpang mobil hitam itu, dan Rena langsung masuk ke kabinnya setelah mengangguk dan tersenyum kepada pak Satpam. Sekilas dia perhatikan wajah pak Wardi, satpam itu. Wajahnya biasa saja, mengulum senyum dengan gerakan ramah mempersilakan. Rena menengok sekilas ke Roy di belakang kemudi BMW seri 5 nya. Pria itu nampak tenang. Ia menoleh sekilas ke Rena, tersenyum tipis, lalu melajukan mobilnya menembus lalu lintas.

Rena masih membisu ketika mobil sudah menyusuri jalan raya.

"Kamu kelihatan gugup," Roy berkata. "Ada masalah?"

Rena memaksakan senyumnya. "Ndak, pak . . ."

Roy menoleh memandang wajahnya lebih lekat. Bibirnya menguntai senyum tapi keningnya agak berkerut.

Rena menghembuskan nafas pendek seolah melepas beban yang menghimpit dadanya. "Pak Roy, maaf sekali, tapi . . . . apakah ini tidak jadi masalah nantinya ya, pak? Maksud saya . . . bapak makan malam dengan saya . . ."

Roy berdecak kecil dan tersenyum. "Kamu sudah berapa lama tinggal di Jakarta? Sudah berapa kenal dengan gaya sosial pekerja kelas menengah? Teman-temanmu di kantor ndak pernah cerita? Atau setidaknya mengamati?"

"Ya, saya tahu sih, pak. Kadang ada satu dua yang beberapa kali makan bareng berdua; kadang mbak Vina ngajak Aldo ke kafe mana gitu. Tapi . . tapi ya hanya begitu saja."

"Hanya begitu saja?" Roy menukas. "Maksudmu, kamu menduga mereka akan berhubungan lebih jauh, begitu? Hanya karena makan malam berdua?"

Rena langsung bisa meraba arah pertanyaan itu. Wajahnya memerah padam menahan malu dan kesal. Ia merutuki dirinya sendiri. "Kok ngomongmu gak karuan gini sih, Ren? Ah!"

Akhirnya ia hanya terdiam.

"Biasa aja lah, Rena," suara Roy menenangkan. "Sesekali makan malam dengan saya. Di luar kantor anggap aja teman, bukan atasan. Lagipula, kita sedang menuju ke sebuah tempat makan yang bukan di kafe atau resto yang penuh orang gitu, Ren. Kamu tahu dimana?"

Rena berpikir keras. Lah, kalau bukan di kafe atau di resto, mau makan dimana? Matanya membentur sederetan warung tegal di pinggir jalan yang berkelebat cepat.

Lihat selengkapnya