"Elea." Suara Naira memanggil dari tepian taman di dekat area parkir membawa langkah kaki Elea mengayun ke arahnya. Naira tidak sendiri. Ada Nadia dan Melodi juga. Seperti biasa keempatnya akan berdiri di sana menunggu jemputan tiba.
Langit Jakarta sudah mulai kelabu. Sepertinya, tak lama lagi hujan akan turun. Keempat sekawan masih berdiri membentuk setengah lingkaran sambil sibuk mengobrol.
"Dari mana dulu tadi, kok telat?" tanya Naira sesaat setelah Elea bergabung.
"Eum, gue ... dari toilet," jawab Elea sekenanya sambil membenahi baju seragam yang agak berantakan. "Oh, ya, liburan semester udah ada rencana?"
Naira menoleh. "Aku, sih, biasa. Selalu di rumah, gak ke mana-mana. Paling ke rumah lo sesekali. Iya, kan?" Ungkapnya diiringi tawa sumbang Elea.
"Tadi pagi pas berangkat sekolah, papi ngajak liburan ke LN. Bareng adik dan mama sambungku." Senyum Nadia terukir. "Tapi, izin mami dulu boleh enggak, dia belom kukasih tau soalnya."
Elea dan Naira kompak mengangguk. "Kalo, lo, Mel?"
"Udah ketebak, sih, pasti liburan sekeluarga, seperti biasa. Iya, kan?" Elea menyambung pertanyaan Naira sebelumnya pada Melodi. Bibirnya mengerucut di akhir kalimat.
Melodi mengangguk antusias. "Ayah udah ambil cuti tiga hari, mau antar aku ke rumah nenek-kakek di kampung. Kangen banget aku sama mereka. Nanti aku di sana selama liburan, bareng ibu sama adikku."
Elea tercenung mendengar jawaban yang sebetulnya sudah dia prediksi. Rasanya, hidup sederhana seperti Melodi jauh lebih menyenangkan dibanding dirinya. Bukan merendahkan, Melodi memang yang paling sederhana jika dibandingkan dirinya atau dua temannya yang lain. Ayah Melodi karyawan biasa, bukan bos atau owner perusahaan besar. Kesehariannya selain bekerja, juga kadang narik taksi online buat tambahan. Namun, Melodi tidak pernah kekurangan kasih sayang baik dari ayah maupun ibunya.
"Nyokap jualan online, kan?" tanya Naira lagi. Lebih mendominasi dan terkenal paling cerewet di antara keempatnya.
Melodi tersenyum sambil mengedipkan mata. "Stop dulu, dong, selama nemenin liburan. Biasanya, sih, begitu." Dia tertawa ringan. "Tapi, kalau affiliate tetep. Kan, bisa upload video dari kampung. Lebih estetik pula tempat buat ambil gambarnya. Iya, kan?
Aku biasa bantu pegang kamera walau kadang suka dikomentarin ibu, kurang bagus lah, gelap lah. Atau ibu bakal bilang, 'Ibunya kelihatan jelek, Mel, ulang, ah'. Ya, ampun, padahal ibuku cantik, lho," lanjut Melodi.
"Kedengerannya seru, ya?" Komentar Elea. Mata dia berserobok dengan milik Naira yang paham betul arti tatapannya. Keduanya sama-sama kurang beruntung. Meskipun, orang tua Naira masih tinggal satu atap.
"Jemputanku datang, duluan, ya."
Nadia sudah berlalu menghampiri sebuah mobil yang baru saja tiba. Dia berhenti tatkala seseorang muncul dari balik pintu kemudi. "Hai, my princess. Udah lama nunggu?"