Dua Garis di Balik Ring Light

Yani Asmaharini
Chapter #2

Jarak Satu Atap

Soraya keluar dari ruang operasi. Bukan hanya satu pasien yang dia tangani hingga baru selesai pukul empat sore. Beberapa pasien menyusul untuk mendapat penanganan sang dokter. Selain operasi sesar, ada ibu yang harus melakukan tindakan kuret juga.

Tiga bayi dari tiga ibu, Soraya selamatkan hari ini. Satu di antaranya, masih sangat muda. Pasien yang tercatat hanya sekali melakukan pemeriksaan USG tersebut, baru berusia 19 tahun. Entah karena 'kecelakaan' atau sengaja menikah muda, Soraya tidak berkeinginan mengetahui lebih lanjut. Soraya hanya tahu, wanita itu sudah menikah dan usia suaminya tidak jauh berbeda. Dua tahun lebih tua jika dilihat dari tanggal lahirnya di buku pink.

Soraya jadi teringat Elea melihat ibu yang melahirkan tersebut. Usianya hanya setahun di atas Elea. Tahun ini, putrinya sudah menginjak angka ke-18. Tidak terasa, anak gadis yang dia lahirkan dan diasuh dengan segenap keterbatasan pengetahuan itu, kini tumbuh besar.

Soraya berjalan menuju ruang praktiknya. Ponsel pula menempel di telinga kanan. "Zean, Elea sudah di tempatmu?" tanyanya begitu panggilan terhubung.

"Saya masih di kantor."

"Kamu gak jemput? Aku chat kamu tadi, dibaca, kan?" Suara Soraya sedikit meninggi saat pintu ruangan dia tutup rapat. Bagaimana mungkin Zean tak acuh seperti ini, padahal Soraya sudah mengabari bahwa tidak bisa mengantar Elea ke tempatnya? Soraya tak lantas duduk. Membiarkan tubuh lelah itu berdiri di sisi meja. Dia meletakan stetoskop yang semula melingkar di leher ke atas meja tersebut.

"Saya sudah kirim uang untuk Elea naik taksi."

"Kamu pesankan sekalian taksinya? Sudah kamu pastikan anak kita sampai dengan selamat?" Jika perlu, Soraya menekankan sebutan 'anak kita'. Elea bukan hanya anaknya, tapi juga Zean sebagai ayah. Bukankah sudah sepantasnya, jika Zean juga turut andil memperhatikan Elea yang sudah mulai dewasa.

"Dia sudah besar dan bisa menjaga diri. Jadi, jangan berlebihan. Dia pasti sudah di apartemen."

"Cek dan kabari aku segera!" Panggilan Soraya putus sepihak.

Masih berada di laman chatting, Soraya Mencoba mendial nomor Elea yang lagi-lagi tidak aktif. Lalu, pada asisten di rumah. Soraya mendapati kabar bahwa Elea tidak ada di sana.

"Non Elea tadi pulang sebentar, Bu. Ganti baju, terus pergi lagi bawa tas yang biasa dipakai kalau ke tempat bapak. Gimana, Bu?"

"Oh, ya, sudah. Dia naik taksi, kan?"

"Enggak tau, ya, Bu. Saya gak lihat taksi di depan rumah tadi. Non Elea jalan kaki dari sini, katanya taksi nunggu di gerbang utama," sahut asisten rumah yang membuat Soraya sedikit terkejut.

"Masa sampe gerbang utama? Biasanya juga langsung di depan rumah, kok. Kamu gak ikutin Elea dan pastikan dia benar-benar naik taksi?"

"Enggak, Bu."

"Ya, Tuhan." Soraya menghela napas gusar. "Ya, sudah. Nanti saya coba telepon Elea lagi."

Lihat selengkapnya