Dua Hati dalam Tautan Cinta

Amrullah Ibrahim
Chapter #1

Titah di Balik Dinding Kaca

Pagi yang sunyi di ruang direksi yang dingin. Arganata memandang cakrawala kota Jakarta yang tertutup kabut tipis. Setelah bermuhasabah pasca shalat dhuha dan mengamati iklim kerja di perusahaannya yang mulai kehilangan etika kesopanan akibat tren pergaulan bebas, Arganata mengambil keputusan besar: mewajibkan seluruh karyawan dan karyawati mengenakan busana kerja yang rapi, berwibawa, dan bernafaskan nilai-nilai islami syar'i tanpa mengurangi kenyamanan profesional.

"Perusahaan ini tidak hanya dibangun untuk mengejar laba duniawi, tetapi untuk menjadi ladang pahala bagi setiap kepala yang mencari nafkah di dalamnya." — *Cuplikan Mutiara

🥀 ─── 🌹 ─── 🥀


Bagian 01: Sujud yang Tercekat di Ketinggian Lantai Empat Puluh Dua

Pukul 08.45 WIB — Ruang Ibadah Privat Direksi, Lantai 42 Menara Pradipta

─ 🌹 ─

Hawa dingin dari pendingin sentral lantai empat puluh dua mendesir halus, menyusup melalui celah-celah kisi ventilasi tembaga dan merayapi tengkuk Arganata Pradipta dengan sengatan yang membekukan. Karpet rajut kashmir abu-abu gelap meredam setiap getar langkah, namun tidak mampu meredam debaran di balik tulang rusuknya. Pria berusia empat puluh empat tahun itu masih bersimpuh di atas sajadah tenun sutra hitam bermotif dedaunan damaskus—sebuah ruang ibadah privat berukuran empat kali enam meter yang sengaja dipisahkan oleh sekat kayu cendana dari meja kerjanya yang luas.

Salam penutup shalat dhuha baru saja meluncur dari bibirnya, lirih dan bergetar: "Assalamu’alaikum warahmatullah... Assalamu’alaikum warahmatullah." Namun, kepalanya enggan terangkat. Ia membiarkan dahinya sekali lagi menyentuh serat kain yang dingin, mencari sisa-sisa ketenteraman yang kian hari kian sukar ia dekap. Di puncak gedung pencakar langit yang merajai Segitiga Emas Sudirman ini, saat jutaan manusia di bawah sana berdesakan bagai semut memperjuangkan secuil rezeki fana, Arganata justru merasa terkepung oleh kehampaan yang mengerikan.

Ia menarik napas panjang. Udara di ruangan ini beraroma gaharu asli dari pedalaman Kalimantan—oudh murni yang dibakar di atas bara dupa perak—tetapi aroma harum itu kerap terasa tercekat di kerongkongannya. Bau wewangian surga yang dipaksakan masuk ke dalam sangkar kaca yang penuh dengan intrik duniawi.

Kedua telapak tangannya menengadah, tetapi doa yang hendak diucapkannya tersangkut di pangkal lidah. Arganata menatap guratan-guratan tangannya sendiri. Tangan yang telah menandatangani akuisisi tambang bernilai triliunan rupiah, tangan yang memimpin lebih dari empat ribu karyawan, tangan yang diagung-agungkan di majalah bisnis terkemuka sebagai simbol kesuksesan konglomerat pribumi terpelajar. Namun, di hadapan pandangan batinnya yang telanjang, tangan itu terasa kotor, dibayang-bayangi oleh satu nama yang tak pernah ia sebutkan lagi selama tujuh tahun: Nadia.

"Astaghfirullahal 'adzim... Alladzi laa ilaaha illa huwal hayyul qayyuumu wa atuubu ilaih," gumamnya, mengulang kalimat istighfar itu dengan tekanan yang semakin lirih, hampir berupa erangan tertahan. Butiran tasbih kayu kokka di jemari kanannya bergulir satu demi satu dengan ritme yang patah. Setiap ketukan biji tasbih terdengar seperti ketukan palu hakim di pengadilan akhirat. Kullukum ra'in wa kullukum mas'ulun 'an ra'iyyatih. Sabda Rasulullah itu terus berdengung di telinganya, menampar kesombongannya tanpa ampun. Setiap pemimpin adalah pemelihara, dan setiap pemelihara akan dimintai pertanggungjawaban mutlak atas apa yang digembalakannya.

Arganata bangkit perlahan. Sendi lututnya berderak halus—tubuhnya yang tegap atletis dalam balutan kemeja putih katun Mesir tanpa cela mulai merasakan beban usia dan keletihan batin yang kronis. Ia melipat sajadahnya dengan sangat hati-hati, sudut demi sudut, seolah sedang melipat sesuatu yang rapuh dan tak boleh ternoda. Ketika ia melangkah keluar dari bilik ibadah menuju ruang kantor utamanya, dinding kaca raksasa setinggi enam meter membentang menyambutnya.

Jakarta di pagi hari itu tampak muram, diselimuti selimut kabut polusi tipis berwarna kelabu kekuningan yang menggantung di atas atap-atap gedung beton. Mobil-mobil di jalan layang tampak merayap tanpa suara, terisolasi oleh kaca kedap suara berlapis ganda. Kota ini tampak seperti miniatur panggung boneka raksasa tanpa jiwa. Namun Arganata tahu, di balik kaca-kaca berkilau di seberang jalannya, dan bahkan tepat beberapa puluh lantai di bawah pijakan sepatunya, ada pembusukan tak kasat mata yang sedang menggerogoti kehormatan manusia.

🥀 ─── 🌹 ─── 🥀


Bagian 02 : Audit yang Berdarah & Bayangan Nadia

Pukul 09.15 WIB — Meja Jati Direksi, Menghadap Jakarta yang Mengabu

─ 🌹 ─

Di atas meja jati solid berlapis pernis doff yang dipesan khusus dari pengrajin Jepara, tergeletak sebuah map dokumen tebal bersampul manila cokelat tua dengan segel stempel merah menyala bertuliskan: STRICTLY CONFIDENTIAL - INTERNAL AUDIT OF HUMAN CAPITAL & ETHICS Q3. Jam tangan Patek Philippe Calatrava berbahan emas putih yang tergeletak di samping map itu berdetik hening, menandai detik-detik menuju keputusan yang akan membelah perusahaannya.

Arganata tidak langsung membuka map itu. Ia sudah membaca isinya semalam suntuk di kediaman pribadinya di Menteng, hingga matanya perih dan tenggorokannya pahit. Namun tangannya yang terulur membuka kembali lembar-lembar laporan itu bergetar halus. Di lembar ketiga, grafik mengenai tingkat pengunduran diri staf perempuan dalam kurun enam bulan terakhir melonjak tajam sebesar empat puluh persen pada divisi pemasaran kreatif dan hubungan eksternal.

Bukan gaji yang rendah. Pradipta Group menggaji karyawannya tiga puluh persen di atas rata-rata industri. Bukan pula fasilitas kerja. Yang tercantum di sana adalah ringkasan transkrip wawancara keluar, aduan tanpa nama melalui kotak suara digital terenkripsi, dan kesaksian-kesaksian terselubung yang meremukkan nurani.

"...Kami dipaksa memahami bahwa senyuman dan belahan dada yang rendah adalah bagian dari 'servis profesional' saat menjamu mitra konsorsium malam hari di kawasan Senopati..." tulis salah seorang karyawati tingkat madya sebelum memutuskan angkat kaki.

"...Lelucon seksis di pantry dianggap lumrah sebagai 'candaan penghilang stres tim', dan siapapun perempuan yang menolak bergabung dalam obrolan mesum atau menolak mengenakan rok span ketat di atas lutut akan dicap puritan, sok suci, dan dibekukan dari rotasi promosi jabatan penting..."

Arganata mencengkeram tepian meja. Giginya bergemeretak di balik rahangnya yang kokoh. Udara dingin di ruang direksi itu mendadak terasa menyesakkan. Betapa mudahnya manusia memperdagangkan martabat demi persentase keuntungan. Selama bertahun-tahun ia membiarkan perusahaannya mengadopsi budaya korporat Barat tanpa saringan: pergaulan tanpa batas, pesta koktail akhir pekan yang mengaburkan batas kehormatan, serta standarisasi busana kerja wanita yang secara implisit menuntut tubuh mereka menjadi pemanis ruang negosiasi.

Dan bayangan itu pun kembali menyeruak, menembus kabut waktu tujuh tahun lalu dengan ketajaman belati yang baru diasah.

Nadia. Adik bungsunya yang memiliki tawa secerah mentari pagi, gadis cerdas lulusan desain komunikasi visual terbaik yang penuh dengan cita-cita luhur. Tujuh tahun silam, Nadia bekerja di sebuah biro agensi periklanan multinasional ternama di kawasan SCBD. Arganata teringat malam jahanam ketika Nadia pulang ke rumah keluarga dengan gaun kerja hitamnya yang robek di bagian bahu, matanya yang basah oleh air mata kehancuran, dan tubuhnya yang menggigil hebat.

Arganata kala itu baru saja merintis Pradipta Group. Ia masih muda, lapar akan kekuasaan, dan membutuhkan persetujuan kredit sindikasi dari para pengusaha kawakan yang memiliki koneksi erat dengan pemilik biro iklan tersebut. Ketika Nadia memeluk kakinya sambil terisak menceritakan perlakuan biadab sang direktur pelaksana di ruang karaoke privat usai penandatanganan kontrak, apa yang dilakukan Arganata?

Sebuah seringai pahit menghiasi bibir Arganata di balik dinding kaca menara. Ia mengingat rasa malu yang membakar ubun-ubunnya hingga kini. Demi melindungi prospek pendanaan perusahaannya, demi menyelamatkan citra keluarga dari gunjingan media, Arganata menasihati adiknya untuk 'bersabar', mendiamkan perkara itu, dan menerima uang kompensasi damai yang dihantarkan lewat kurir bersegel rahasia. Tiga bulan kemudian, Nadia melompat dari lantai dua puluh satu apartemennya di Setiabudi, meninggalkan sepucuk surat pendek dengan tinta yang luntur oleh air mata: 'Mas Arga, jika kehormatan perempuan hanya bernilai selembar cek bank bagi laki-laki sukses sepertimu, maka duniaku tak lagi layak untuk dihuni.'

Kematian Nadia adalah belati yang menancap abadi di jantung Arganata. Ia bersumpah di depan tanah merah pemakaman adiknya bahwa ia akan membangun sebuah benteng di mana tak seorang pun wanita boleh diperlakukan seperti barang dagangan berkedok profesionalitas. Namun ironisnya, benteng yang ia dirikan dengan darah dan keringat itu—Pradipta Group—kini perlahan mulai meniru monster yang telah membunuh adiknya.

"Cukup," bisik Arganata ke arah pantulan wajahnya di kaca. "Tidak lagi di bawah pengawasanku."

🥀 ─── 🌹 ─── 🥀


Bagian 03 : Benturan di Ruang Kaca

Lihat selengkapnya